batampos.co.id – Batam sebagai pusat logistik memang sudah dicanangkan Badan Pengusahaan (BP) Batam sebagai target pembangunan jangka panjang. Tujuannya adalah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi Batam.

Disamping itu, Kepala BP Batam, Lukita Dinarsyah Tuwo mengakui digitalisasi dalam semua sektor sudah tak bisa dibendung lagi. Era transaksi digital yang berlanjut pada proses pengiriman barang hingga tujuan terjadi sangat cepat. Batam diproyeksikan untuk menjadi tempat transit barang-barang yang dikirim melalui jasa toko online.

“Kami ingin menggabungkan sinergi pembangunan bandara dan pelabuhan. Rencananya adalah membuka warehouse dalam rangka menampung berbagai barang-barang yang akan masuk. Salah satu potensi yang dibayangkan adalah toko-toko online seperti Amazon, Tokopedia yang memerlukan infrastruktur fisik,” jelasnya saat konferensi pers di Hotel Best Western Premier (BWP) Panbil, Sabtu (9/12) malam.

Warehouse di bandara kata Lukita dapat menjadi infrastruktur fisik yang dimanfaatkan oleh toko-toko online.

“Mereka perlu warehouse. Karena jika ada order darimanapun, maka Batam bisa jadi pusat penyimpanan dan distribusi untuk dikirim dengan cepat ke lokasi dalam radius dalam waktu empat hingga lima jam,” ungkapnya.

BP Batam akan mencampur konsep ini dalam masterplan Hang Nadim yang tengah mereka persiapkan dalam waktu dua bulan saja.

“Ini konsep yang akan kami tawarkan kepada investor nanti. Dan juga untuk menarik minat dari para toko-toko online tadi,” jelasnya.

Disamping itu, Hang Nadim akan benar-benar dikembangkan sebagai pusat Maintenance, Repair and Overhaul (MRO). Sehingga penjajakan hubungan kerjasama dengan investor GMF akan selesai dalam waktu dekat.

“Mereka tertarik untuk perluas MRO. Dalam satu minggu kedepan akan mencapai kesepakatan,” jelasnya.

Kabar gembira juga disampaikan oleh Lukita. Ia menyebut ada perusahaan yang memproduksi bahan bakar hayati atau biasa disebut biofuel akan segera melakukan groundbreaking dalam waktu dekat di Batam.

“Kami tengah mengecek rencana bisnisnya terlebih dahulu,” jelasnya.

Selain itu, Lukita juga menyebut ada perusahaan elektronik besar yang punya peran signifikan di dunia tertarik untuk berinvestasi di Batam.

“Saya belum bisa sebut. Saya berharap bukan hanya produksi saja disini tapi juga kembangkan teknologi disini,” ucapnya.

Sedangkan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan MRO adalah masa depan Batam selain pariwisata dan pengembangan bisnis online.

“MRO itu saja perlu orang banyak. Karena pekerjaannya tak bisa diselesaikan oleh 10 atau 20 orang. Itu perlunya banyak,” ucapnya.

Ia sangat berharap agar BP Batam mampu menarik investor yang mampu kembangkan MRO dan memiliki pasar bukan hanya regional saja tapi juga internasional.

ilustrasi

“Batam itu strategis. Ada MRO bisa menarik minat maskapai pesawat yang perlu perbaikan dan dioverhaul,” jelasnya.

Setelah itu, maka pemerintah daerah harus memikirkan cara untuk mendidik putra-putra lokal Batam untuk mendapatkan pendidikan mengenai MRO.

“Supaya jangan harus cari orang dari daerah lain atau luar negeri. Pendidikan vokasi itu perlu. Vokasi bukan sekadar melatih orang untuk bisa bekerja tapi juga meningkatkan kemampuannya. Pikirkan juga nanti lokasinya dimana,” tegasnya.

Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri, Gusti Raizal Eka Putera juga melihat dengan situasi seperti saat ini maka perekonomian Kepri khususnya Batam akan menjadi lebih baik.

“Pertumbuhan ekonomi tahun depan diperkirakan akan ditopang oleh sektor industri pengolahan, perdagangan besar dan sektor konstruksi,” katanya.

Gusti melihat kondisi ekonomi global sudah mulai membaik yang berpengaruh pada industri di Kepri yang berorientasi ekspor.

“Sektor ekonomi paling potensial untuk mendukung pertumbuhan Kepri adalah sektor industri pengolahan terutama semikonduktor dan CPO, konstruksi dan perdagangan,” paparnya.

Pariwisata juga dinilai potensial.

“Namun yang perlu dilakukan pemerintah daerah adalah penambahan destinasi wisata, penyelenggaraan event-event dan MICE,” jelasnya lagi.

Lalu, perihal yang harus menjadi prioritas adalah pengembangan pelabuhan.

“Sektor pertambangan terutama migas diperkirakan masih belum sepenuhnya meningkat sejalan dengan proyeksi penurunan harga migas oleh IMF pada tahun 2018,” cetusnya. (leo)

Advertisement
loading...