Batam itu “surga” investasi. Tak rugi jika menggelontorkan duit di kota yang berbatasan dengan Singapura itu.

Iklan

Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi di kota ini dianggap kurang bersahabat. Lumayan memberikan efek kejutlah. Terutama bagi dunia usaha.

Maklumlah! Bagi sebagian orang, dampaknya begitu luar biasa. Bahkan kabarnya sampai menyebabkan eksodus besar-besaran.

Terlepas dari itu semua, saya kok malah bangga berada di Batam. Kenapa? Karena saya bertemu dengan orang-orang hebat yang menolak untuk menyerah. Optimisme terus tumbuh. Semangat untuk survive terus digelorakan.

Bahkan, ketika Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyebut jika 2018 adalah puncak krisis Indonesia, para pelaku usaha Batam makin bergairah. Terutama sektor properti yang masih menjadi primadona. Tidak hanya warga Indonesia, namun juga ekspatriat.
Bangkitnya bisnis properti tentu tidak terlepas dari semakin meningkatnya permintaan.

Menurut hemat saya, ada beberapa faktor. Alasan yang paling simpel tentu saja pertumbuhan penduduk. Meski banyak yang eksodus meninggalkan Batam, namun jumlah penduduk lambat laun mengalami peningkatan.

Di samping itu, ada perubahan perilaku masyarakat. Jika sebelumnya mereka membeli properti untuk diri sendiri, maka berubah menjadi untuk anak dan keturunan. Belum lagi yang membeli untuk investasi.

Akhir November lalu, saya bersama rombongan Riau Pos Group (RPG) menggelar road show ke mitra iklan di Jakarta. Baik itu agensi maupun produsen. Mereka tampak santai menanggapi merosotnya ekonomi di Batam.

Selain membawa misi perusahaan, tentunya Batam Pos juga punya tanggung jawab untuk mendorong tumbuhnya ekonomi. Dalam road show selama sepekan itu, berbagai kabar terbaru saya sampaikan. Salah satunya adalah kehebatan orang-orang Batam yang survive di tengah lesunya perekonomian.

Ternyata mitra kami begitu antusias. Diam-diam, mereka juga terus mengamati kondisi terkini kota ini. Maklum, bagi mereka Batam diibaratkan sebagai “surga”. Tempat yang tepat untuk berinvestasi. Masih sangat seksi untuk pasar mereka.

Bedanya, mereka menunggu momentum yang tepat. “Tunggu tanggal mainnya,” kata salah seorang agensi iklan.

Bicara soal Batam, kami pun kompak. Sama-sama memprediksi jika ekonomi Batam akan terus tumbuh, tumbuh, dan tumbuh.

Bagi relasi kami di Jakarta, properti begitu istimewa di Batam. Karena apa? Perkembangan properti akan memberikan multiplier effect bagi sektor lainnya. Sebut saja seperti manufaktur, retail, otomotif, dan lainnya.

Pertanyaannya sekarang, kapan bisnis properti tumbuh lagi?

Kalau ditanya kapan, pasti beda-beda. Ada yang optimistis, ada juga yang pesimistis.
Tapi kalau dilihat tanda-tandanya, insya Allah mulai start pada tahun 2018.
Kenapa saya berani bilang demikian? Mungkin bisikan gaib. Hehehehe

Menurut saya, tolok ukurnya terlihat. Beberapa megaproyek diperkirakan mulai start tahun depan. Sedangkan yang sudah berjalan namun agak lambat, diperkirakan akan “ngebut” juga di tahun depan.

Beberapa megaproyek diperkirakan akan mendongkrak ekonomi Batam. Para “pemain” nasional juga ambil bagian. Sebut saja Sinar Mas Group, Agung Podomoro, hingga Ciputra. Dan masih banyak lagi pengembang lainnya.

Jika properti tumbuh, diprediksi perekonomian Batam juga akan berdampak positif. Kalau sudah begitu, Batam bisa kembali menjadi salah satu kekuatan ekonomi di Indonesia.
Negara lain seperti Singapura, Malaysia, dan lainnya tentu akan melihat kondisi Batam sebagai representasi kekuatan ekonomi Indonesia. Wajar, karena letaknya berseberangan dengan perairan jalur pelayaran internasional.

Tak salah rasanya jika Batam juga dijuluki “Serambi ASEAN”. Karena Batam merupakan wajah Indonesia di dunia internasional.

Jika prediksi saya benar dan mudah-mudahan memang tidak meleset, awal kebangkitan ekonomi Batam dimulai tahun 2018. Tentunya sembari sama-sama menunggu realisasi berbagai megaproyek yang akan dibangun tersebut.

Semoga saja, 2018 menjadi start yang apik bagi pertumbuhan ekonomi Batam. ***

 

Guntur Marchista Sunan
General Manager Batam Pos