Sejumlah kapal sedang melakukan bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Batuampar. F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Pemerintah berencana memangkas jumlah barang yang terkena larangan dan pembatasan (lartas) impor-ekspor. Di antara total 10.829 kode barang yang tercatat dalam Buku Tarif Kepabeanan Indonesia (BTKI), 5.299 kode barang atau 49 persen merupakan barang lartas.

Menko Perekonomian Darmin Nasution menyatakan, pihaknya akan memangkas jumlah barang yang masuk kategori lartas menjadi 20,8 persen saja.
”Hingga akhir Desember peraturannya sudah selesai,” kata Darmin di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (11/12).

Pemangkasan barang lartas diharapkan bisa mempercepat dan mempermudah arus barang di pelabuhan.

Selama ini, barang lartas sering tertahan karena harus menunggu rekomendasi dari kementerian dan lembaga maupun pemerintah daerah. ”Padahal menunggu diperiksa juga harus membayar dan semakin lama semakin mahal bayarnya di pelabuhan. Kalau memang perlu diperiksa, bisa diperiksa di kantor perusahaannya saja,” jelasnya.

Jika barang yang terkena lartas digunakan untuk produksi, hal itu dikhawatirkan dapat menghambat proses produksi suatu barang atau jasa. ”Jadi memang agar lebih efisien,” ujarnya.

Darmin menambahkan, pemangkasan lartas akan diatur masing-masing kementerian atau lembaga. Pemerintah saat ini memang gencar untuk mempermudah perizinan impor. Sebab, saat ini terdapat 1.073 kode barang yang perizinannya berada di lebih dari satu kementerian atau lembaga. Harapannya, pengusaha maupun usaha kecil dan menengah (UKM) bisa segera mendapatkan barang baku dan modal untuk usaha.

Pemangkasan perizinan tersebut diharapkan dapat mengurangi potensi pungutan liar maupun tindak korupsi. ”Selama ini ada korelasi yang kuat. Semakin banyak perizinan, semakin besar terjadi tindak korupsi dan pungutan liar,” kata Kepala Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong.

Dia menambahkan, layanan izin investasi 3 jam telah mampu menarik minat investor. ”Sejak diluncurkan program layanan izin investasi 3 jam tersebut mampu menarik nilai investasi Rp 1.320 triliun,” ujarnya.

Menurut dia, salah satunya penyebab tingginya biaya investasi di Indonesia adalah tingginya pungutan liar di beberapa celah perizinan. ”Satu persen dari pungli yang bisa dihemat bisa sampai Rp 13 triliun. Jika hanya 0,1 persen pungli (dari total investasi) pun tetap bisa melakukan penghematan hingga Rp 1,3 triliun. Tetap lumayan,” terang Thomas. (vir/c21/sof/jpg)

Respon Anda?

komentar