Iklan

batampos.co.id – Kuliner bakso tak pernah mati. Ada bakso mercon, bakso beranak dan kini ada bakso kepala bayi.

Iklan

Adalah Bakso Tekwoleh. Lokasi depot bakso milik Imam Khosnan ini memang tersembunyi. Letaknya di samping masjid kecil di bawah pohon kersen pada sebuah desa kecil di wilayah Kabupaten Situbondo.

Desa tersebut juga tak bisa dibilang dekat dari perkotaan. Bahkan jaraknya lebih dari 30 kilometer dari pusat kota santri itu. Bakso Tekwoleh berada di Desa Jatibanteng yang merupakan wilayah Kecamatan Besuki. Jika Anda bepergian menuju Bali via jalan darat dari Surabaya, pastikan berbelok ke kanan saat tiba di alun-alun Besuki.

Baso Tekwoleh dibuat tanpa menggunaka penyedap rasa dan di dalamnya berisi cacahan tulang rusuk sapi yang sangat lezat. (JawaPos.com)

Sekitar 20 menit dari alun-alun tersebut akan terlihat depot bakso di sisi kanan jalan. Mobil dan motor tampak berjajar rapi.

“Kelezatan Bakso Tekwoleh mengundang para penikmat kuliner betapapun jauhnya perjalanan yang harus ditempuh,” kata Imas Wicaksono, pelanggan tetap depot bakso yang berdiri sejak 17 tahun lalu itu.

Ya, Bakso Tekwoleh tidak berada di jalan utama pantai utara alias pantura. Dari jalur legendaris yang menghubungkan Anyer-Panarukan itu masih sekitar 15 kilometer jauhnya. Depot tersebut juga hanya berdinding bambu dengan meja dan kursi sederhana.

Namun yang spesial dari kuliner tersebut adalah pada baksonya. Ada tiga varian bakso yang dibedakan berdasarkan ukuran. Yakni bakso nomor satu, nomor dua, dan nomor tiga. Nomor tiga adalah yang paling kecil. Diameter bola-bola dagingnya sekitar 7 cm. Sama seperti umumnya bakso.

Untuk yang nomor dua, diameternya meningkat sedikit. Sekitar 10 cm. Di dalamnya sudah dimasukkan tetelan alias potongan-potongan cacahan daging tulang rusuk. Begitu bakso dipotong, aroma tetelan langsung menguar memenuhi udara. Membuat para penikmatnya ingin segera menyantapnya.

Tapi, tunggu dulu. Masih ada bakso nomor satu. Bakso inilah yang jadi primadona di warung milik bapak empat anak tersebut. Diameternya mencapai 13 cm. Yang terbesar di kelasnya. Isi tetelan lebih banyak. Daging bakso yang melindunginya juga lebih tebal.

Karena saking besarnya, banyak yang menyebut bakso nomor satu itu sebagai ‘Bakso Kepala Bayi’. “Padahal saya tak pernah memberi nama aneh-aneh. Orang yang ngasih nama. Saya sih terserah diberi nama apa saja,” kata Imam sang pemilik sekaligus pencipta bakso tersebut.

Namun, bukan berarti Imam tak punya nama “resmi” bakso itu. “Saya menyebutnya Bakso Tekwoleh. Singkatan dari nek gak entek isok digowo muleh (kalau tidak habis boleh dibawa pulang),” katanya lantas tersenyum.

Ya, karena saking besarnya, banyak penikmat bakso yang khawatir tidak bisa menghabiskannya. “Itu karena belum nyoba. Begitu dimakan, ternyata habis juga. Bahkan masih mau mbungkus,” kata Imas.

Rahasia kelezatan Bakso Tekwoleh sejatinya bukan pada ukurannya yang beragam dan besar-besar. Tapi pada cita rasa racikan Imam Khosnan. Mencintai profesi sebagai penjual bakso sejak tahun 1978, kakek enam cucu itu tak pernah sedikit pun memakai penyedap rasa.

“Buat apa? Ini kuahnya sudah kuah dari daging sapi asli kok masih mau ditambah lagi,” paparnya.

Kelezatan Bakso Tekwoleh menyebar dari mulut ke mulut sejak diciptakan Imam pada tahun 2000 untuk peringatan ulang tahun anak tetangganya. Bakso Tekwoleh menjadi buruan wajib warga kabupaten di tapal kuda. Mulai dari Probolinggo, Bondowoso, hingga Banyuwangi. “Pegawai PLN di Paiton kalau ke sini rombongan,” kata Imam.

Tak sedikit warga Indonesia yang bekerja sebagai TKI di Malaysia juga “kulakan” Bakso Tekwoleh. Saat harus kembali ke negeri jiran, mereka sengaja memborongnya. Tujuannya, sebagai obat kangen dengan kuliner berkuah tersebut. Erni Wijaya, misalnya. Perempuan 35 tahun itu membeli sampai 20-an bakso.

“Buat dibagi-bagi ke teman yang ada di sana. Mereka penasaran dengan bakso segede kepala bayi ini,” katanya.(dms/ce1/JPC)