batampos.co.id – Asumsi yang umum adalah transmisi otomatis lebih boros ketimbang transmisi manual.

Iklan

Namun, dengan pesatnya perkembangan transmisi, selisih konsumsi bahan bakar kendaraan otomatis dan manual kini semakin tipis. Artinya, pemilihan transmisi bukan lagi masalah. Namun, kembali pada pola berkendara pengemudi.

Konsumsi bahan bakar kendaraan bertransmisi otomatis semakin efisien, terutama setelah CVT (continuous variable transmission) makin marak digunakan.

”CVT punya kelebihan dibandingkan AT (automatic transmission) konvensional. Salah satunya, efisiensi bahan bakar,” kata Manager Service Division PT Honda Prospect Motor Muhammad Zuhdi.

CVT merupakan transmisi otomatis yang dikontrol secara elektronik dengan drive pulley serta steel belt. CVT sangat efisien di dalam kota karena fleksibilitas pergeseran belt, perluasan cakupan rasio, dan peningkatan efisiensi.

Menurut Zuhdi, transmisi jenis CVT bisa mengubah gigi menyesuaikan dengan putaran mesin. Dengan pola itu, perpindahan gigi sangat halus dan terkadang tidak terasa oleh pengemudi. ”Berkat transmisi CVT, mesin tak perlu melakukan putaran tinggi untuk mendapatkan tenaga besar di dalam kota. Hal ini membuat kerja mesin lebih ringan dan hemat bahan bakar jika dibandingkan dengan transmisi otomatis konvensional,” ujarnya.

Kendaraan dengan transmisi manual relatif lebih irit karena pengemudi lebih mudah dalam mengatur putaran mesin saat berkendara. Akselerasi pun cukup instan sehingga pengemudi tidak perlu menginjak gas dalam-dalam untuk mendapatkan putaran di awal. Semakin minim stop and go serta feeling pengemudi dalam menginjak gas, transmisi manual bisa menjadi sangat efisien.

Trainer Nissan College Sugihendi mengatakan, secara umum mendapatkan eco-driving tidak sulit. Hanya, memang butuh pemahaman dan kemauan untuk melakukannya.

”Fitur-fitur dan pilihan transmisi hanya penunjang, pengemudi harus mempunyai pola berkendara yang baik. Misalnya, menaikkan kecepatan secara bertahap dan tidak menginjak gas secara tiba-tiba. Lalu, menghindari kelebihan beban mesin atau putaran yang berlebihan. Mengejar eco-driving, putaran mesin sebaiknya selalu ada di bawah 2.000 rpm. Karena kalau di atas itu, otomatis penggunaan bahan bakar akan lebih besar,” ujarnya. (agf/c7/sof)