Demonstrasi besar-besaran terjadi di mana-mana. Mereka ramai-ramai mengecam keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengklaim bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel.

Iklan

Muslim, Nasrani, dan agama lainnya turun ke jalan. Bahkan, orang-orang Yahudi dari berbagai negara juga menolak pengakuan sepihak Presiden ke-45 AS itu.

Memang, isu soal Yerusalem menjadi viral akhir-akhir ini. Banyak tagar bermunculan. Dari #SavePalestina, #SaveYerusalem, hingga #KecamTrump menghiasi jagat dunia maya. Benar-benar menjadi isu besar. Paling heboh dan ramai dibicarakan.

Masyarakat internasional berontak. Di mana-mana, topeng berwajah Trump, boneka berbentuk Trump, hingga bendera AS dibakar. Seruan boikot produk Israel dan AS menggema.

Negara-negara besar juga angkat suara. Dari Benua Asia, Amerika, Eropa, hingga Afrika protes. Mereka satu suara menolak keputusan Trump. Ini menjadi momentum bagi persatuan umat di dunia.
Uni Eropa yang selama ini menjadi “pengikut” AS, di luar dugaan berubah menjadi “pembangkang”. Mereka menolak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Mereka pun tetap menempatkan kedutaan di Tel Aviv, ibu kota Israel saat ini.

Praktis hanya Israel saja yang sejalan dengan Trump. Maklum, AS dan Israel merupakan sahabat. Bahkan sudah seperti keluarga. Kendati demikian, ada juga beberapa negara yang mencari aman. Terutama yang punya kepentingan dengan AS. Hal itu sih wajar saja. Namanya juga sekutu.

Lalu, bagaimana dengan negara Islam? Tentu kita sudah tahu jawabnya. Di pelbagai media, negara-negara Islam yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) satu suara.

Dimotori Indonesia dan Turki, mereka mengampanyekan untuk mengakui Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina. Yang lebih ekstrem, negara-negara OKI mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk “menendang” AS dari mediator perdamaian Palestina-Israel. Bahkan, beberapa negara seperti Libanon dan Turki berencana mendirikan kantor kedutaan Palestina di Yerusalem.

Nah, kebetulan saya salah satu orang yang menolak pernyataan Trump. Wajar saja. Saya orang Indonesia. Ada sejarah yang tak boleh dikesampingkan antara Indonesia dengan Palestina.

Saat sekolah, kalau membaca buku sejarah, diajarkan jika Palestina adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Jadi sudah sewajarnya sebagai orang Indonesia, kita mendukung Yerusalem sebagai ibu kota Palestina.

Boleh dibilang, “perlawanan” terhadap Trump paling dahsyat terjadi di Indonesia. Demo besar-besaran terjadi di hampir semua daerah. Dari Sabang hingga Merauke ada demo mendukung Palestina. Semua kalangan, para tokoh masyarakat, tokoh agama, kepala daerah, hingga politisi turun gunung. Kompak menyuarakan derita Palestina.

Kantor kedutaan dan Konsulat Jenderal (Konjen) Negeri Paman Sam didemo. Beberapa produk AS diboikot. Mulai dari makanan, minuman, pakaian, dan barang-barang. Pokoknya enggak mau yang berbau AS dan Israel.

Bak menjadi garda terdepan dalam membela Palestina, Indonesia menjadi negara pertama yang melobi negara-negara besar untuk tidak mengikuti keputusan Trump. Puncaknya, Presiden Indonesia Joko Widodo menghadiri langsung Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) OKI di Istanbul, Turki. Pria beralias Jokowi itu tampil memukau.

Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia mampu menyatukan suara negara Islam untuk melawan kebijakan Trump. Kalau tidak salah ada enam usulan.

Tak sekadar bicara, Indonesia langsung action. Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno LP Marsudi langsung terbang ke Eropa untuk meminta dukungan. Hasilnya, Uni Eropa (UE) satu suara dengan Indonesia. Menolak kebijakan Trump soal Yerusalem.

Kiprah Indonesia di kancah internasional memang dahsyat. Bahkan mendapat banyak pujian dari negara sahabat. Gara-gara sikap tegas Indonesia pula, banyak negara yang “memusuhi” Trump. Saking takutnya terhadap kemungkinan gejolak internasional, Dewan Keamanan (DK) PBB berencana membatalkan klaim sepihak Trump.

Terang saja PBB khawatir. Pasalnya, negara-negara sekutu juga menolak langkah negara adidaya itu. Negara-negara internasional memilih untuk menjaga perdamaian di Timur Tengah. Mereka bersama-sama dengan Indonesia menolak Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Indonesia pun banjir dukungan.

Sikap Indonesia itu mampu menyatukan suara dunia. Hampir seluruh negara mendukung langkah Indonesia.
Bahkan, Indonesia disarankan menjadi pengganti AS sebagai mediator pertikaian Palestina-Israel.

Dengan menganut prinsip bebas aktif, tak salah rasanya jika Indonesia mengambil peran itu. Toh, Indonesia mendapat dukungan internasional. Tinggal kita nanai saja perkembangan terbaru dari isu soal Yerusalem tersebut.

Apakah, dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina dapat berbuah manis. Semoga. Kita sama-sama berdoa demi saudara-saudara kita yang saat ini tengah menderita di sana. ***

Guntur Marchista Sunan
General Manager Batam Pos