ilustrasi (AFP)

1. Infertilitas Sperma

Infertilitas merupakan kondisi di mana pasangan belum mendapatkan kehamilan sekurang-kurangnya 12 bulan setelah menikah tanpa melakukan usaha untuk mencegah kehamilan. Dapat disebabkan oleh faktor perempuan, laki-laki maupun keduanya. Terdapat pula infertilitas yang tidak diketahui penyebabnya yang dikenal dengan infertilitas idiopatik.

Di Indonesia merupakan kondisi yang banyak terjadi, dan berdampak besar bagi pasangan suami–istri yang mengalaminya baik secara psikologis, fisik, bahkan ekonomi. Namun, tidak semua pasangan suami–istri mencari pertolongan, sehingga di luar sana banyak sekali isu mengenai hal yang dapat menyebabkan infertilitas, ataupun hal yang dapat mengobati infertilitas.

“Pasangan dapat menjadi hamil apabila sel sperma yang dihasilkan suami normal dan dapat masuk ke indung telur istri dan bertemu dengan sel telur istri yang normal,” kata Prof. Dr. dr. Ichramsjah, SpOG-KFER dari RSIA Budhi Jaya dalam keterangan tertulis saat seminar kesehatan ‘Wujudkan Impian Menimang Buah Hati’, Rabu (20/12).

Ichramsjah menjelaskan, ada tiga macam infertilitas, di antaranya, infertilitas primer yaitu kondisi di mana pasangan belum dapat hamil sedikitnya setelah satu tahun berhubungan seksual tanpa menggunakan alat kontrasepsi apapun.

Kedua, adalah infertilitas sekunder pasangan belum dapat hamil sedikitnya setelah dua tahun berhubungan seksual tanpa menggunakan alat kontrasepsi apapun. Terakhir, infertilitas yang tidak terjelaskan, yaitu kondisi pasangan infertilitas primer/sekunder sedikitnya setelah 3 tahun berhubungan tanpa alat kontrasepsi apapun, yang telah diobati oleh ahli, telah inseminasi bayi tabung, namun tetap tidak hamil.

“Penatalaksanannya meliputi faktor infeksi torch, hormonal, masalah anatomi, masalah sel telur, sperma, genetik dan masalah immune,” kata pria yang sudah berpengalaman 40 tahun dalam bidang infertilitas itu.

Oleh karena itu diperlukan sejumlah tindakan seperti pemeriksaan dalam, hydrotubasi, hsg “transvaginal hydrolaparaskopi”, laparaskopi operatif, dan inseminasi bayi tabung.

2. Gangguan Haid

Tak hanya soal infertilitas, ternyata gangguan haid juga mempengaruhi peluang hamil. “Haid dikatakan normal apabila Jumlah darah haid normal adalah 25-60ml (pembalut penuh setiap 3 jam), interval 21-35 hari, durasi 1-7 hari,” ujar dr. Denny Dhanardono, MPH&TM, SpOG-KFER dari RSIA Budhi Jaya.

Waspada bila mengalami gangguan haid seperti perdarahan akut berat (Jumlah darah mengharuskan mengganti pembalut tiap jam, kondisi lemas, cenderung mengantuk, pucat, pusing, pandangan berkunang-kunang), pendarahan tidak beraturan (perdarahan tambahan di tengah dua siklus haid, durasi haid lebih dari 7 hari), dan jumlah darah haid berlebihan.

“Pemeriksaan terkait hormonal yang harus dilakukan pada pasien infertilitas yaitu data lengkap mengenai haid pasien (durasi, siklus haid, jumlah darah haid, keluhan nyeri haid), pemeriksaan indeks masa tubuh dan pemeriksaan persentase lemak tubuh, USG transvaginal, dan pemeriksaan laboratorium,” kata Denny.

3. Dampak Obesitas

Pasien dengan obesitas memiliki resiko 3 kali lebih besar untuk mengalami infertilitas, dan mengurangi keberhasilan metode TRB (Teknologi Reproduksi Berbantu). Hal ini juga bisa mempengaruhi peluang hamil. (ika/JPC)

Respon Anda?

komentar