batampos.co.id – Pria ini memang tidak tercatat sebagai lulusan pendidikan formal Agama Islam, tapi Dosen Pengampu Pendidikan Agama Islam Politeknik Batam ini sudah menghasilkan satu Diktat dan empat buku serta tercatat mengisi di sepuluh jabatan berbeda dalam organisasi keagamaan dan kemasyarakatan sejak tahun 2000.

Iklan

Bukan memutar haluan, tapi lebih kepada pengabdian. Rasanya kata ini cocok diberikan kepada pria bernama lengkap Muhammad Zaenuddin ini. Bergerak di bidang sosial keagamaan yang jauh dari kompetensinya di bidang Matematika dan Ekonomi adalah total untuk pengabdian. Tidak menyangka, ia berhasil meraih gelar Dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) Produktif dari Kementerian Agama Republik Indonesia beberapa waktu lalu.

Ditemui di Gedung Baru Politeknik Negeri Batam, Dosen Pengampu Agama Islam ini menyambut hangat kedatangan wartawan koran ini. Ia perlahan menuturkan perjalanan karirnya, jauh sebelum meraih gelar tersebut. Tepatnya tahun 2000, ia diminta untuk menjadi tenaga pengajar di kampus ini. Ya, sudah 17 tahun ia menjadi dosen di Perguruan Tinggi Negeri satu-satunya di Batam ini.

Setelah lulus memperoleh S1 dari Institut Teknologi Bandung jurusan matematika, ia dipercaya mengajarkan Agama Islam. Bukan tanpa alasan, hal itu karena ia pernah 12 tahun di pesantren. Zaenuddin pernah menempuh pendidikan non formal yakni di Pondok Pesantren Darul Falah, Jekulo, Kudus. Kemudian tercatat sebagai lulusan Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah MMH Margoyoso, Pati dan Madrasah Diniyah Takhasus Darul Falah Kudus.

Di sela kegiatan mengajarnya waktu itu, ia kemudian menempuh pendidikan Magister Ilmu Ekonomi di Universitas Gadjah Mada (UGM). Dan saat ini, pria kelahiran Pati, Jawa Tengah ini tengah menyelesaikan gelar doktornya di UGM untuk Studi Kebijakan. Karena itu, dosen yang ramah ini selalu dimintai beberapa media sebagai nara sumber untuk hal terkait ekonomi dan sosial.

“Beberapa tulisan saya baik tentang ekonomi, sosial dan agama juga pernah mengisi rubrik Opini di Batam Pos beberapa tahun lalu,” kata Zaenuddin, Selasa (28/11).

Setidaknya sudah 10 buku yang berhasil ia tulis. Sebanyak 5 buku tentang agama, lalu sisanya tentang ekonomi dan sosial. Untuk buku agama pertama adalah Diktat Kuliah Pendidikan Agama Islam. Kemudian dilanjutkan Buku Wisata Spiritual Menuju Tuhan tahun 2002 dan buku sebanyak 142 halaman berjudul Menggoyang Pikiran Menuju Alam Makna tahun 2003.

Di tahun yang sama, 2003, ia juga menulis sebuah buku berjudul Membangun Wacana Intelektual, Perspektif Keagamaan, Sosial Kemasyarakatan dan Politik. Buku ini dipublikasikan secara nasional, dengan kerjasama Politeknik batam dan Pustaka Pelajar. Zaenuddin juga kembali menulis buku setebal 172 halaman yang berjudul Membumikan Islam Rahmatan lil Alamin di Tanah Melayu. Kali ini dia menjadi narasumber, penyunting dan editornya sendiri. Sama, buku yang diterbitkan November 2015 ini juga dipublikasikan secara nasional juga.

Tidak salah rasanya memberikan gelar Dosen PAI Produktif se nasional pada pria kelahiran Pati 14 Februari 1976 silam ini. Karena ia juga aktif dalam berbagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan di antaranya Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Kepri dan sekarang menjabat sebagai Wakil Ketua. LPPOM MUI Provinsi Kepri, sebagai Wakil Direktur I dari 2006 hingga sekarang.

Dewan Hakim Musabaqah Makalah Al Quran MTQ Kota Batam tahun 2014 dan 2016. Ketua Panitia Seleksi (Pansel) Dewan Pendidikan Kota Batam tahun 2016. Pembina Rumah Tahfiz Baitul Quran Batam tahun 2015 hingga sekarang. Ketua Pengurus Yayasan SMK Maarif NU Kota Batam dan masih banyak jabatan struktural lainnya.

Selain menjadi pengampu dan pengajar pertama mata kuliah agama sejak tahun 2000 di Politeknik Batam, ia juga merintis kegiatan masjid Kampus tersebut dan pendirian Ikatan Mahasiswa Muslim Politeknik Batam (IMMPB) dan menjadi pembinanya selama tahun 2000 hingga 2010.

“Saya juga aktif mengisi kegiatan ceramah, kajian dan diskusi baik di dalam kampus maupun di luar. Konsennya kepada penekanan pemahaman islam yang moderat, serta untuk memperkuat komitmen kebangsaan dan keindonesiaan,” terangnya.

Di tengah keaktifannya dalam bidang agama Islam, ia merasa beruntung sekaligus bersyukur karena selalu dikelilingi oleh orang-orang yang cinta pada agama Islam. Sebut saja adik laki-lakinya dan sang istri yang selalu mendukung pengabdiannya tersebut. Ahmad Syaifuddin merupakan lulusan Universitas Al Azhar, Mesir. Sementara istrinya, Fatimatul Zahro merupakan perintis Rumah Tahfidz Baitul Quran Batam adalah lulusan S1 dan S2 Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

“Karena itu, pada waktu diminta menjadi tenaga dosen tahun 2000 di Politeknik Batam, saya menerima karena bisa langsung berkonsultasi kepada adik, istri dan teman-teman saya,” ujarnya.

Sama halnya, ketika menerima Surat Edaran Apresiasi Pendidikan Islam untuk Guru dan Dosen dari Kementerian Agama Republik Indonesia. Zaenuddin berdiskusi dengan orang terdekatnya sebelum melangkah maju mengikuti seleksi ini. Surat tertanggal 1 November tersebut akan memberikan penghargaan kepada guru dan dosen yang telah berjasa dalam pembinaan dan pengembangan PAI pada sekolah dan perguruan tinggi umum di Indonesia.

Dua kategori untuk guru PAI inovatif dan Dedikatif, satu lagi untuk dosen PAI produktif. Dosen PAI yang dimaksud adalah dosen pengampu mata kuliah PAI pada perguruan tinggi umum yang memiliki produktivitas karya ilmiah di bidang moderasi keagamaan, penuh inspirasi dan loyalitas terhadap peneguhan ideologi NKRI yang dikembangkan pada perguruan tinggi umum.

Beberapa kriterianya adalah pengampu mata kuliah PAI sekurang-kurangnya 10 tahun terakhir berturut-turut. Memiliki karya tulis di bidang moderasi keagamaan, baik buku, artikel maupun tulisan lain yang telah diterbitkan di media cetak atau elektronik. Berkontribusi dalam menumbuhkan paham keislaman yang moderat baik di lingkungan perguruan tinggi umum maupun masyarakat. Tidak terlibat aktif dan atau simpatisan organisasi yang dilarang oleh Pemerintah. Tidak cacat moral dan hukum.

“Kebetulan saya sudah menjadi Dosen Pengampu PAI lebih dari 10 tahun, jadi hanya saya yang memenuhi syarat dan mengikuti seleksi ini,” ujarnya.

Waktu itu, dua hari menjelang tanggal akhir penutupan 17 November 2017. Zaenuddin kemudian mempersiapkan segala berkas yang ada, termasuk biodata diri sebagai salah satu penilaiannya. “Saya mulai mencari-cari karya ilmiah terkait keagamaan. Beruntungnya semua diarsipkan rapi di perpustakaan kampus dan saya masih memiliki file buku-buku yang sudah diterbitkan tersebut,” ungkapnya.

Dengan sisa waktu yang ada, Zaenuddin mengemasi segala dokumen yang diperlukan. Melalui usulan diri tersebut, berkas yang dikirim kemudian di cross check oleh Tim Direktorat PAI untuk menentukan nominator terbaik untuk masing-masing kategorinya. Tanggal 20 November, nominator terbaik diumumkan melalui website www.pendik.kemenag.go.id. Selanjutnya diundang ke Jakarta untuk presentasi dan dinilai oleh Tim untuk menentukan peserta terbaik.

Sebanyak 13 nominator untuk guru PAI Inovatif, 7 guru PAI Dedikatif dan 10 Dosen PAI Produktif diumumkan. Dalam list tersebut, nama H. Muhammad Zaenuddin, S.Si, M.Sc berada satu nominasi dengan dosen besar UPI Bandung, UNY Yogjakarta, STKIP Nu Indramayu, ITB Bandung, UI, Universitas Muhammadiyah Makasar dan Universitas Negeri Jakarta. “Suatu kebanggaan buat saya masuk nominasi ini dan diundang ke Jakarta untuk menjalani proses seleksi selanjutnya,” ujar Zaenuddin.

Bertolak ke Jakarta, ke 10 nominator Dosen PAI Produktif selanjutnya harus mempresentasikan diri mereka, mengapa layak menyandang gelar tersebut. Masing-masing nominator diberikan waktu 15 menit untuk presentasi kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab.

Cukup melelahkan karena tahapan tanya jawab inilah yang bakal menguras waktu. Zaenuddin sendiri harus membuktikan karya ilmiahnya kurang lebih selama 1 jam lamanya. “Kami ditanya seberapa intektual kami, seberapa produktif dan seberapa besar kontribusi kami kepada masyarakat melalui karya ilmiah tersebut,” jelasnya.

Pertanyaan yang pasti diungkapkan juri adalah mengapa dirinya yang sebenarnya bukan lulusan Pendidikan Agama Islam lantas mau berkontribusi. Mengingat kembali, ia merupakan lulusan S1 Matematika, S2 Ilmu Ekonomi dan saat ini menempuh pendidikan Doktor Studi Kebijakan di UGM.

“Karena saya dikelilingi orang beragama yang baik. Saya melakukannya berdasarkan pengabdian kepada PAI. Saya sadar terlebih sebagai dosen, mahasiswa adalah target pengajaran yang salah tentang islam,” kata Zaenuddin.

Dikutip dari bukunya yang berjudul Membangun Wacana Intelektual, Perspektif Keagamaan, Sosial Kemasyarakatan dan Politik. Seorang intelektual muslim haruslah memiliki atau
menunjukkan kekuatan-kekuatan mental dan pemahaman yang baik. Kekuatan pikiran yang dengannya kita mengetahui, menalar dan berpikir. Di samping juga berarti sebagai seseorang yang memiliki potensi tersebut secara aktual.

Secara konseptual sesuai dengan Q.S Ali Imran 190 s.d. 195 yang dimaksud dengan intelektual muslim adalah seseorang yang memiliki ciri dan sifat, Pertama, Berzikir atau mengingat Tuhan
dalam segala situasi dan kondisi, Kedua, Memikirkan atau memperhatikan fenomena alam raya, yang pada saatnya memberi manfaat ganda, yaitu memahami tujuan hidup dan kebesaran Tuhan serta memperoleh manfaat dari rahasia alam raya untuk kebahagiaan dan kenyamanan hidup duniawi, Ketiga, Berusaha dan berkreasi dalam bentuk nyata, khususnya dalam kaitan hasil-hasil yang diperoleh dari pemikiran dan perhatian tersebut.

Menyambung kriteria penjurian adalah dosen yang memiliki inovasi, inspirasi dan loyalitas dalam penyelenggaraan dan kegiatan penddikan agama Islam. Mendedikasikan dirinya dengan penuh kesadaran, perjuangan, pengorbanan, dan keteladanan demi menyelenggarakan PAI. Memiliki produktivitas karya ilmiah, penuh inspirasi dan loyalitas terhadap peneguhan ideologi NKRI yang dikembangkan pada perguruan tinggi umum, ia jelas memiliki kriteria tersebut.

“Dengan 10 nominasi dalam kategori tersebut, saya lebih menganggap seleksi ini sebagai silaturahmi antara dosen senior dan guru agama saja sembari mendapatkan ilmu baru,” ujarnya.

Malam, tepatnya 24 November 2017. Diumumkanlah 5 orang peserta terbaik kategori Dosen PAI Produktif yang akan menerima penghargaan Apresiasi Pendidikan Islam dari Menteri Agama pada malam penutupan penyelenggaraan The Internetional Islamic Education Expo (IIEE) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, di ICE BSD Tangerang Banten.

Dr Marzuki, M.Ag dari UNY Yogyakarta, Dr Yedi Purwanto, M.Ag dari ITB Bandung, Dr Drs Nurwahidin, M.Ag dari Universitas Indonesia, Sari Narulita dari Universitas Negeri Jakarta dan nama Dosen Pengampu PAI Politeknik Batam itu pun dibacakan.

“Alhamdulilah, saya termasuk dalam daftar tersebut sebagai peserta terbaik dan menerima penghargaan Dosen PAI Produktif Kementerian Agama RI,” ungkap Zaenuddin. (cr18)