Elekyo Band, inilah band yang digawangi para menteri.

Iklan

Retno Marsudi hanya tertawa. Budi Karya Sumadi malah ”melemparnya” ke Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono. Basuki? Sama saja. Mengelak.

Padahal, kepada tiga menteri yang ditemui secara terpisah itu, Jawa Pos hanya mengajukan pertanyaan sederhana: dari mana sih nama Elekyo Band berasal?

”Bukan. Bukan saya. Kami sama-sama bikin namanya,” kata Basuki.

Tentu bukan karena malu kalau tiga menteri tersebut lantas menolak menjawab. Tapi, barangkali, yang terpenting bagi mereka adalah makna di baliknya.

Elekyo dalam bahasa Jawa berarti jelek ya biar saja. Dinamakan demikian karena sesungguhnya terbentuknya band tersebut memang cuma untuk main-main. Sekadar ada. Sekadar menghilangkan penat dan tegang setelah sehari-hari diburu target-target pemerintahan.

Menurut Basuki, nama itu muncul ketika mereka ditodong main musik di sebuah talk show televisi.

”Wah, yo opo iki? Kemudian, ada ide-ide. Band-nya opo jenenge? Kita punya ide, Elekyo Band,” jelas Basuki, lantas tergelak, tentang asal mula band.

Main-main, tapi toh ”jam terbang” mereka lumayan juga. Minggu (17/12), misalnya, mereka turut meramaikan Panggung Nitilaku di lapangan Grha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada Jogjakarta. Selain Budi (gitar), Basuki (drum), dan Retno (vokal), line-up Elekyo Band ketika itu juga diperkuat Menteri Sekretaris Negara Pratikno (vokal).

”Malu-malunya, kami sudah tiga kali tampil di panggung setingkat RT lho,” tutur Retno, sang Menteri Luar Negeri itu, lalu tertawa.

Agustus lalu mereka juga didaulat untuk tampil menghibur para mahasiswa baru UGM angkatan 2017. Kala itu bukan hanya mereka berempat yang tampil. Ada pula Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

”Saat itu kami manggung di hadapan 800 mahasiswa baru. Tujuannya ya untuk menyemangati para mahasiswa. Mereka perlu suntikan semangat dari kami,” cerita Retno.

Seperti saat panggung Nitilaku, mereka bergabung bersama beberapa alumnus UGM lain membawakan beberapa lagu. ’’Sejak itu, kami kadang suka main bersama,’’ terang Budi Karya yang juga menteri perhubungan tersebut.

Tak dinyana, meski hanya iseng, ternyata kolaborasi mereka cukup kompak. Itu pula yang membuat mereka bersemangat untuk berlatih.

RETNO Marsudi (bertopi), Budi Karya Sumadi, dan Praktikno saat manggung di Kampus UGM, Yogyakarta, Minggu (17/12) lalu.

Biasanya, bila waktunya memungkinkan, mereka akan berkumpul di rumah dinas Budi untuk berlatih. Kebetulan, rumah dinas para menteri berada di satu kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan.

Dengan begitu, mereka tidak perlu jauh-jauh untuk datang latihan. Kecuali Ganjar yang memang tinggal di Semarang.

Every now and then, karena rumah kami berdekatan, kadang ngumpul di rumah Pak Budi. Nyanyi, latihan,” tutur Retno, kemudian tertawa.

Namun, lanjut Retno, mereka tidak punya jadwal khusus untuk latihan. Kesibukan masing-masing membuat jadwal untuk latihan, bahkan bertemu dengan suasana yang santai, sulit terwujud.

Sesuai tugasnya, Retno kerap bolak-balik ke luar negeri untuk melakukan diplomasi dengan berbagai negara. Basuki harus rutin melongok progres proyek pembangunan infrastruktur. Sedangkan Budi mesti stand by memantau transportasi.

Basuki juga mengakui tak ada jadwal khusus latihan. Namun, tiap ada kesempatan main bersama, mereka tak akan melewatkannya. Misalnya, saat Budi merayakan ulang tahun beberapa waktu lalu.

Para menteri yang juga tetangga Budi diundang ke rumahnya.

”Kebetulan beliau senangnya nyanyi. Rumahnya dekat, tinggal jalan kaki. Jadi sekalian,” kata Basuki.

Karena itulah, Budi enggan bercerita soal bagaimana suasana saat latihan.

’’Malu-maluin, hehe…’’ ucap mantan Dirut PT Angkasa Pura II itu.

Meski demikian, mereka punya list beberapa lagu yang sering dimainkan saat berlatih. Di antaranya, Bento (Iwan Fals), Rumah Kita (God Bless), Let It Be (The Beatles), dan Have You Ever Seen the Rain (Creedence Clearwater Revival).

”Andalan kita itu Rumah Kita (karya God Bless, red),” ucap Retno.

Saat ditanya kapan mau manggung lagi, dia hanya tertawa sembari meminta untuk menanyakan ke Basuki. Begitu pula saat ditantang manggung di Istana Bogor yang dilengkapi peralatan band di ruang serbaguna, Retno menjawab, ’’Jangan ngeledek kalau fals yaaa.’’

Retno, Budi, Basuki, dan Pratikno memang semuanya alumnus UGM. Tapi, tidak berarti band mereka tertutup bagi menteri lain yang lulusan perguruan tinggi berbeda.

Buktinya, di ”job” mereka berikutnya, di pernikahan anak Pratikno di Jogjakarta, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri yang lulusan IAIN (sekarang UIN) Walisongo akan ikut. Juga, Menteri Keuangan Sri Mulyani yang merupakan alumnus Universitas Indonesia. ”Yang main nanti ada Pak Hanif (Dhakiri), Pak Budi, Pak Triawan (Munaf), Ibu Retno. Kita diminta untuk siap-siap, tapi sampai sekarang belum ada waktu untuk latihan hehehe,” kata Basuki. (BAYU PUTRA-ANDRA NUR OKTAVIANI, Jakarta)