ilustrasi

batampos.co.id – Memasuki Januari, inflasi diperkirakan tetap terkendali. Meski demikian perlu diwaspadai sejumlah risiko inflasi yakni angin musim utara yang menyebabkan gelombang tinggi di lautan.

“Angin musim utara yang masih berlangsung sebabkan gelombang tinggi dan dapat memicu kelangkaan pasokan ikan segar serta menghambat jalur distribusi bahan makanan pokok,” kata Anggota Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kepri, Eko Waluyo Purwoko, Sabtu (6/1).

Angin musim utara yang masih tinggi juga diperkirakan akan mengganggu pasokan lokal yakni komoditas bahan makanan pokok.

Pada bulan Desember lalu, inflasi di Kepri sebesar 4,02 persen (yoy) atau 0,73 persen (mtm). Dan dari kelompok bahan makanan pokok mencatatkan inflasi sebesar 2,31 persen (mtm) lebih tinggi dibanding inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,16 persen (mtm). Kenaikan harga terutama berasal dari komoditas cabai merah sebesar 13,61 persen (mtm) dan cabai rawit sebesar 31,03 persen (mtm).

Peningkatan tersebut terjadi karena perayaan hari Natal dan Tahun Baru. Sehingga harga cabai merah di sentra produksi seperti di Yogyakarta, Sumatera Utara dan Sumatera Barat yang menjadi tinggi dan berimbas pada Kepri.

Ada sejumlah rekomendasi yang ditawarkan TPID kepada pemerintah untuk mengendalikan inflasi yang bersumber dari bahan makanan pokok.

“Pertama yakni menekan biaya pengangkutan barang dari daerah penghasil, agar dilakukan koordinasi dengan kantor pemasaran dari daerah tersebut,” paparnya.

Kemudian, pemerintah harus melakukan pemetaan pulau yang berpotensi untuk dijadikan daerah pertanian. Lalu segera merealisasikan pembentukan pasar induk sesuai instruksi Presiden.

“Dan menyusun rencana barang komoditas untuk keakuratan data yang lebih baik,” ungkapnya.(leo)

Advertisement
loading...