2018 menjadi salah satu tahun fenomenal di milenium ini. Salah satu penyebabnya, tentu saja momen politik yang sedang dan akan berjalan.

Beberapa waktu terakhir, berita-berita di media cetak, televisi, radio, hingga online ramai memberitakan soal pemilihan kepala daerah (pilkada). Saya termasuk yang mengikutinya.

Diawali saat ketua umum DPP PDIP, Megawati Soekarnoputri mengumumkan bakal calon gubernur dan bakal calon wakil gubernur (bacagub-bacawagub) beberapa daerah yang disiarkan secara live di salah satu stasiun televisi swasta.

Disusul kemudian, ketua umum DPP Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang juga melakukan hal serupa. Juga langkah partai politik (parpol) lain dalam mengusung jagoannya masing-masing.

Maklum, mulai tanggal 8 Januari kemarin, KPU di masing-masing provinsi dan kabupaten/kota sama-sama membuka pendaftaran untuk calon kepala daerah. Ini merupakan bagian dari tahapan pilkada serentak 2018.

Dengan demikian, genderang tanda dimulainya tahun politik sudah ditabuh. Pilkada tahun ini begitu istimewa. Kabarnya, sangat menentukan peta percaturan pemilihan umum (pemilu) dan pemilihan presiden (pilpres).

Pilkada Jawa Barat (Jabar), Pilkada Jawa Tengah (Jateng), Pilkada Jawa Timur (Jatim), dan Pilkada Sumatera Utara (Sumut) dianggap paling ditunggu-tunggu. Pasalnya, keempat daerah itu digadang-gadang sebagai pusat pertarungan elite negeri ini. Faktornya adalah jumlah penduduk yang lebih besar.

Majunya mantan Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat di Pilkada Sumut, duet TNI-Polri atas nama TB Hasanuddin dan Anton Charliyan di Pilkada Jabar, hingga majunya beberapa anak gubernur sampai kapolda bikin pilkada tahun ini makin beda.

Namun kita tidak bisa mengesampingkan daerah lain seperti Kalimantan Timur (Kaltim), Kalimantan Barat (Kalbar), Sulawesi Selatan (Sulsel), dan daerah lainnya. Meski tidak menyumbang suara secara signifikan, namun suara mereka ikut menentukan.

Majunya calon impor hingga semakin blak-blakannya aparat TNI-Polri berpolitik jadi fenomena baru. Kalau untuk TNI, sudah biasa. Beberapa presiden berasal dari TNI. Mulai dari Soeharto dan SBY. Untuk wakil presiden hingga menteri, para jenderal TNI sudah duluan ambil bagian.

Untuk Polri yang agak unik. Biasanya, usai jadi jenderal, para perwira tinggi menempati jabatan seperti duta besar (dubes). Namun kali ini, beberapa jenderal Polri sudah tidak malu-malu untuk ambil bagian dalam pesta demokrasi.

Apakah itu salah? Tidak. Tak ada yang melarang. Boleh-boleh saja. Silakan saja. Sah-sah saja.

Ini negara demokrasi. Siapapun punya hak dipilih dan memilih. Semua Warga Negara Indonesia (WNI) bebas mencalonkan diri menjadi apapun. Mau maju di pilpres, pemilu, hingga pilkada juga boleh.

Namun, dalam ketentuannya mereka harus mundur atau pensiun dini. Selama masih berseragam polisi, mereka tidak boleh berpolitik. Tapi jika sudah menanggalkan almamater kedinasanya, mau ngapain aja silakan. Hehehehe

Untuk Kepri, rasanya secara keseluruhan tahun politik sudah lewat. Barangkali tinggal tersisa Pilkada Tanjung Pinang. Mencari bakal calon wali kota dan bakal calon wakil wali kota (bacawako-bacawawako) sangat menarik.

Apalagi, Tanjung Pinang adalah ibu kota provinsi. Hasil dari pesta demokrasi di kota tersebut sangat ditunggu. Meskipun geregetnya belum terlihat, namun riak-riaknya sudah mulai terlihat.

Tentu setiap orang punya jago masing-masing. Setiap parpol juga punya kandidat. So, dalam politik tidak ada yang pasti. Kata rekan saya: politik itu dinamis.

Kita boleh sama-sama memprediksi. Apakah inkamben masih perkasa, atau memunculkan pemimpin baru. Apapun hasilnya, kondusivitas harus diutamakan. Harus dijaga. Yang menang jangan menepuk dada, yang kalah harus legawa.

Terkhusus untuk para politisi, berpolitiklah yang elegan dan santun. Mari menjadikan tahun politik ini berakhir baik.

Apapun hasil dari pesta demokrasi di tahun politik ini, harus bermanfaat bagi masyarakat. Harus meningkatkan pembangunan nasional, khususnya di daerah masing-masing.

Selamat berkompetisi untuk putra-putri terbaik bangsa. Jadilah pemimpin yang baik untuk daerah, bangsa, dan negara. *

Guntur Marchista Sunan
General Manager Batam Pos


loading...