Pekerja memikul beras dari dalam mobil di Pasar Fanindo, Tanjunguncang, Batuaji.
F. Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Opsi impor akan diberlakukan bila harga beras medium naik hingga Rp 12 ribu. Tapi, pemerintah juga akan melakukan operasi pasar besar-besaran untuk menekan harga agar tidak sampai melonjak naik. Hingga saat ini, harga beras rata-rata melonjak Rp 800-Rp 2.000 per kilogram di tingkat pedagang besar.

Wakil Presiden Jusuf Kalla memastikan bahwa opsi impor beras tidak dilarang. Pada rapat tentang beras di Kantor Wapres Selasa (9/1), opsi impor itu memang dijajaki bila harga melambung tinggi dan stok pemerintah kurang.

”Ditentukan tadilah kira-kira kalau mencapai harga 12 (Rp 12 ribu) itu harga medium ya. Maka harus (impor), karena harga patokannya cuma 9.000,” ujar JK usai pertemuan membahas beras itu.

Hadir dalam pertemuan itu Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Menteri BUMN Rini Soemarno, dan Kepala Bulog Djarot Kusumayakti.

Selain soal harga, pemerintah juga mempertimbangkan stok yang tersedia. Kepala Bulog Djarot Kusumayakti menuturkan bahwa stok beras pagi kemarin mencapai 930-an ribu ton. Selama ini pemerintah menjaga agar stok beras itu selalu diatas 1 juta ton.

JK menuturkan dalam rapat kemarin ada jaminan dari Mentan Amran Sulaiman bahwa pada Januari ini bakal ada panen di sejumlah daerah. Khususnya panen padi yang ditanam pada Oktober lalu. Sehingga bisa menambal stok beras yang dilepas saat operasi pasar yang digencarkan oleh Bulog ke berbagai daerah.

”Namun demikian kita tidak mau ambil risiko. Kalau satu dua hari masih naik maka opsi impor tetap terbuka,” tegas JK.
Jumlah beras yang diimpor disesuaikan dengan kebutuhan. Tapi, JK memperkirakan beras yang diimpor itu bekisar 500 ribu ton hingga 1 juta ton. ”Ya secukupnya untuk menekan (harga), antara 500 sampai sejuta (ton). Kalau terjadi apa-apa,” ungkap JK.

Menteri Darmin menyebutkan pada Januari ini memang ada panen padi. Tapi, lantaran hasilnya diperkirakan tidak terlalu bagus seperti yang diharapkan. Yang paling diharapkan adalah panen lebih besar pada Februari. Sedangan panen puncak diperkirakan pada Maret hingga April. ”Kita ingin mengecek dulu di lapangan. Kita perlu waktu satu sampai dua minggu ini untuk mengetahui seperti apa potensinya di Februari dan Maret. Begitu saya kira,” jelas dia.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menuturkan potensi panen pada Januari sekitar 300 ribu ton. Sedangkan pada Februari diperkirakan total panen mencapai 4,9 juta ton. Dengan jumlah tersebut surplus kurang lebih 3 juta ton. Panen itu mencakup 17 propinsi di Indonesia. terutama di Jawa yang menyumbang 70 persen panen padi.

”Di Oktober hujan, kalo hujan petani turun kan, kita tahu semua kan, Oktober, November, Desember berarti Januari ini panen. Puncaknya di bulan berikutnya karena ini normal kan cuaca,” kata Amran.

Pantauan di lapangan, harga beras naik antara Rp 800-Rp 2.000 per Kilogram (Kg). Di sejumlah pasar, beras patahan (broken) dijual dengan harga Rp 8.400-Rp 10.200. Beras dengan kualitas di atasnya, harganya bervariasi. Beras polos dijual antara Rp 9.100-Rp 12.000. Sementara, beras medium Rp 11.400-Rp 12.000 per Kg.

Presiden Direktur PT Food Station Tjipinang Jaya Arief Prasetyo Adi mencontohkan, sebelumnya beras IR64 kualitas III ada di angka Rp 8.000. Kemarin, harga jualnya sudah Rp 8.900. ’’Beberapa produk (kenaikan harganya) sudah di atas Rp 1.000,’’ terangnya.

Kemudian, beberapa hari belakangan pasokan beras yang masuk memang berkurang. ’’Sempat 34 ribu ton, sekarang jadi 32 ribu,’’ terangnya. Meskipun demikian, dia memastikan bahwa Bulog akan menggelontorkan beras 6.500 ton ke Cipinang sampai akhir pekan ini.

Arief menuturkan, secara keseluruhan pasokan beras di Cipinang 35-40 persennya dipasok oleh Bulog. Terutama, untuk beras medium. ’’Tugas kami sebagai pengelola Pasar Induk Beras Cipinang, mempertahankan stok beras antara 25 ribu sampai 30 ribu ton per hari,’’ lanjutnya.

Artinya, di Pasar Induk Beras Cipinang setiap hari harus ada persediaan minimal 25 ribu ton. Ketika hari itu ada beras yang keluar sebanyak 10 ribu ton, maka di hari yang sama harus masuk 10 ribu ton pula.

Di level beras premium kondisinya hampir sama. ’’Di tempat saya hari ini antara Rp 12.200-Rp 13.400. kalau untuk PW (pandan wangi), harganya sudah Rp 15.500,’’ terang Elvis Alexander, salah seorang pedagang di Cipinang. Rata-rata, beras premium naik sekitar Rp 1.000 per kilogram. Sementara, Pandan Wangi melonjak hingga Rp 2.000 per kilogram.

Dalam kondisi tersebut, dia juga tidak bisa menjamin ketersediaan stok. Kalau di daerah A sudah tidak ada, maka dia harus cari ke tempat lain. ’’Yang penting harus ada. Soal harga nomor dua,’’ lanjut Alex, panggilan akrab Elvis. dia akan berbicara dengan konsumen mengenai kondisi beras di daerah, sehingga bisa memahami mengapa harganya naik.

Sementara di supermarket, beras level premium berada pada harga rata-rata Rp 12.500-Rp 12.800. Pantauan dari sejumlah merek beras pada level yang sama, harganya cenderung sama. Bahkan ada salah satu merek yang harganya Rp 12.500, tercantum HET Rp 12.800.

Baik Arief maupun Alex mengatakan, harga beras akan turun lagi saat panen raya Februari mendatang. Bahkan, di level konsumen, mencari beras medium dengan harga Rp 9.400 akan lebih mudah. ’’Sekarang kita ngomongin harga tinggi. Nanti Februari dan Maret kita akan ngomongin harga pembelian petani kok rendah,’’ tutur Arief.

Di situlah pemerintah harus berperan menyerap beras petani agar harga tidak jatuh. Jumlah pengering harus diperbanyak agar beras bisa disimpan lebih lama. Itu penting untuk menjaga kestabilan stok beras, yang pada akhirnya berujung pada kestabilan harga. ’’Jadi nanti terbalik, yang harus dilindungi malah petani,’’ tambah Arief.

ilustrasi

Gelar Operasi Pasar

Sementara itu, Selasa (9/1) Kemendag bersama PT Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog) kembali mencoba untuk mengintervensi pasar dengan melakukan operasi pasar. Harapannya, dapat menstabilkan harga beras. Beras Bulog dilepas ke pasar dengan harga Rp 9.300 per kilogram dengan harapan pedagang dapat menjual beras sesuai HET yaitu Rp 9.450 per kilogram.

Operasi pasar yang dilakukan pemerintah tersebut merupakan perluasan dari operasi pasar yang dilakukan sebelumnya. Pada November-Desember 2017 lalu, Bulog sudah mengerahkan 1.100 outlet dengan mengeluarkan pasokan beras sebanyak 53.241 ton. Akan tetapi, upaya tersebut belum berhasil meredam harga.

Kemudian tahun ini, Bulog akan menambah menjadi 1.800 titik di seluruh Indonesia. Sejak 1 Januari, Bulog telah menambah pasokan beras hingga 13.000 ton. Pelepasan operasi pasar beras diawali di wilayah DKI Jakarta dan diikuti secara serentak di seluruh wilayah Indonesia hingga akhir Maret 2018.

”Pergerakan harga beras harus segera dikendalikan. Sejak November lalu kita melakukan operasi pasar. Namun kuantitas dan luas operasi pasar masih belum mampu meredam kenaikan harga,” ujar Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyebutkan bahwa dengan perluasan distribusi beras Bulog, maka warga semakin mudah mendapatkan beras di bawah HET. ”Kita mewajibkan seluruh pedagang menjual beras jenis tersebut, bagi pedagang yang tidak bersedia, patut diduga dia menikmati kenaikan yang tidak wajar,” ujar Enggar.

Harga beras di pasar terus merangkak naik sejak sekitar November 2017. Sampai Selasa (9/1), berdasarkan Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional serta Informasi Pangan Jakarta, harga beras kualitas medium sudah mencapai Rp 11.650 per kilogram. Jauh di atas HET yang ditetapkan Kementerian Perdagangan yakni Rp 9.450 per kilogram.

Enggar menyebutkan harga disebabkan karena kurangnya pasokan beras di pasar khususnya beras medium.

Operasi pasar pun diambil sebagai strategi jangka pendek untuk menstabilkan harga beras. ”Sekarang apapun ceritanya, kita lebih baik penetrasi pasar dulu daripada kita mengusut kemudian meneliti penyebab kenaikan harga, nanti kepanjangan. Kita penetrasi saja, kita masukin beras ke pasar-pasar,” ujar Enggar.

Di samping itu, stok beras di Bulog sendiri juga masih di bawah target yang ditetapkan pemerintah. Saat ini stok beras di Bulog kurang lebih 930 ribu ton. Padahal pemerintah mentargetkan Bulog memiliki cadangan beras 1,5 juta ton sehingga mampu menggelar operasi pasar secara optimal untuk meredam peningkatan harga.

Harga beras yang merangkak naik membuat Satgas Pangan Polri bergerak. Kenaikan harga beras ini akan diteliti penyebabnya, apakah karena ada penyimpangan dalam distribusi atau tidak. Khawatirnya, terjadi upaya mengambil keuntungan secara melanggar hukum seperti di Kalimantan Selatan.

Kasatgas Pangan Polri Irjen Setyo Wasisto menjelaskan, memang ada sejumlah kasus dalam distribusi beras yang terjadi. Di Kalsel, terjadi pidana berupa penggantian kemasan beras Bulog menjadi kemasan lain. 18 ton beras Bulog itu disalahgunakan. ”Rencananya untuk keluar pulau Kalimantan,” terangnya.

Kondisi itu mempengaruhi stok beras di Kalsel. Namun, secara psikologis bisa juga mempengaruhi distribusi di Jawa dan Bali. Untuk di Jawa dan Bali ini sedang dilakukan operasi pasar yang merupakan langkah jangka pendek. ”Untuk meredam kenaikan harga beras agar tidak terlalu tinggi,” jelasnya.

Namun, Satgas Pangan yang memiliki langkah dengan memantau dan mengawasi rantai distribusi beras. ”Itu tugas kami, akan dilihat apa penyebab sebenarnya kenaikan harga ini,” tuturnya.

Apakah sudah mengetahui dengan penyebab utamanya? Setyo mengatakan bahwa Satgas Pangan masih bekerja. Bila, diketahui ada penyimpangan, tentu akan dilakukan penindakan. ”Tim sudah jalan ini,” paparnya ditemui di Bareskrim kemarin.

Namun begitu, Satgas Pangan tentu akan lebih teliti lagi dalam melihat sebuah penyimpangan. Misalnya, untuk sebuah pengoplosan beras. Bila pengoplosan itu dilakukan dengan meningkatkan harga lebih tinggi, maka pidana. Namun, bila pengoplosan beras itu harganya tidak di atas harga eceran tertinggi (HET) masih dalam batas toleransi. ”Oplosan untuk meningkatkan kualitas tapi tidak lebih dari HET bisa ditoleransi,” ujarnya.

Sementara Kapolri Jenderal Tito Karnavian menuturkan, saat ini soal suplai beras menjadi salah satu konsentrasi. Satgas Pangan memastikan apakah benar suplai ini cukup. Sebab, terdapat informasi suplai cukup karena ada panen namun, ada informasi lain pula; suplai terganggu karena cuaca. ”Ini sekarang tahap koordinasi untuk melihat data-data, yang mana yang benar,” paparnya.

Pengecekan ini akan dilakukan dari tingkat pusat hingga daerah. Dia menjelaskan, Polri akan menggandeng Bulog, Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan, ”Dilihat semua sisi,” paparnya ditemui di PTIK, kemarin.

Pengamat Ekonomi sekaligus Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menyebutkan bahwa Bulog sebagai instrumen pemerintah harus bisa memenuhi cadangan minimal yang harus dikuasai oleh pemerintah.

”Sehingga nanti pemerintah bisa punya instrumen untuk melakukan operasi pasar. Sekalipun terjadi kekurangan pasokan maka di sana ada pemerintah bisa hadir untuk mengembalikan kondisi,” ujarnya. (jun/byu/agf/idr/jpg)

Respon Anda?

komentar