Tanah longsor mengenai rumah warga sejak Kamis (11/1). F. Syahid/Batam Pos.

batampos.co.id – Sekitar 872 warga Kecamatan Jemaja dan Jemaja Timur mengungsi setelah tempat tinggal mereka terendam banjir sejak Kamis (10/1). Mereka menempati rumah warga yang posisinya lebih tinggi. Hingga Jumat (11/1) banjir belum juga surut, bahkan kondisinya kian parah. Ini dikarenakan, hujan masih terus menguyur kedua kecamatan tersebut. Saat ini, mereka membutuhkan bantuan berupa makanan, pakaian dan tenda.

Pada hari pertama ketinggian air baru sekitar satu meter. Namun untuk hari ini ada sebagian rumah yang terendam banjir hingga 1 hingga 2 meter. Yang terparah terjadi di Kecamatan Jemaja Timur. Setidaknya di Kecamatan Jemaja Timur ada 225 rumah warga yang terendam banjir. Dari 225 KK tersebut ada sekitar 872 warga yang terpaksa harus mengungsi di sejumlah rumah yang ada di dataran tinggi.

Selain itu, ditemukan empat titik tanah longsor. Yang paling parah di dua titik yakni di Desa Ulumaras, Kecamatan Jemaja Timur dan Desa Mampok Kecamatan Jemaja. Material tanah longsor berupa tanah liat bercampur batu dan lumpur di Jemaja Timur memenuhi jalan poros yang menghubungkan dua kecamatan. Sementara itu di Desa Mampok kecamatan Jemaja, satu rumah warga yakni Solikhin, miring setelah terdesak oleh longsoran tanah.

Camat Jemaja Abdullah Sani, didampingi sejumlah anggota TNI, Polri, personel Taruna Tanggap Bencana (Tagana), turun langsung ke lokasi rumah warga yang terkena longsor di Desa Mampok kampung Bayur Kecamatan Jemaja.

“Menurut warga kejadian ini adalah kejadian yang paling mengerikan dan membuat warga ketakutan terhadap hujan dan tanah longsor,” ungkap Camat Jemaja Abdullah Sani, kepada wartawan Jumat (12/1) kemarin.

Diakuinya, jika saat ini Solikhin, warga yang rumahnya terdesak material tanah longsor tersebut belum bisa dimintai keterangan karena masih dalam keadaan ketakutan yang mendalam.

Atas kejadian ini Abdullah Sani, menghimbau kepada seluruh warga Jemaja agar selalu waspada jika hujan mulai turun, karena masih ada potensi terjadinya tanah longsor dan banjir. “Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat Jemaja agar selalu waspada terhadap banjir dan longsor,” ungkapnya lagi.

Sebagai tindakan penanganan awal, pihak kecamatan sudah mengkoordinasikan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Anambas melalui Sekretaris Daerah. Kata Abdullah Sani, Sekda telah meminta kepada rekanan yang memiliki alat berat di Jemaja, agar dapat digunakan untuk mengeruk tanah longsor baik yang mengarah ke rumah warga maupun yang menutup jalan. “Kita tinggal menunggu Alat berat menuju ke tempat lokasi terjadinya longsor tersebut,” ungkapnya.

Sekda Anambas Sahtiar, membenarkan, perkara tersebut. Pihaknya sudah meminta kepada rekanan turun tanggan. “Kita sudah minta rekanan untuk bersihkan reruntuhan tanah,” ungkapnya.

Mengenai antisipasi terjadinya longsor susulan, jika memungkinkan, lahan yang sering longsor terutama ditepi jalan, maka lahan tersebut bisa jadi dipasang batu miring. “Kalau memungkinkan, bisa jadi dibangun batu miring,” jelasnya.

Saat ini, Tagana Kabupaten Kepulauan Anambas yang bertugas di lingkungan Kecamatan Jemaja dan Jemaja Timur membagi dua tim yaitu tim pertama berjumlah 7 orang dan standby di Desa Ulu Maras Jemaja Timur, sementara di Kecamatan Jemaja berjumlah 5 orang standby di Desa Mampok Jemaja dan didampingi oleh anggota Polsek Jemaja.

Anggota Posal Letung Serda Pom Arif Ponco Budiarto menuturkan Posal Letung selalu siap dan stanbay membantu warga yang tertimpa banjir dan tanah longsor. Pihaknya belum bisa memperkirakan kerugian yang dialami warga. Namun dipastikan lebih dari Rp 100 juta.

Dari laporan awal bantuan pangan maupun pakaian sulit disalurkan dari Tarempa karena ombak saat ini sangat tinggi sehingga sulit ditembus dengan kapal ukuran kecil. “Ombak besar, kapal sulit untuk datang ke Jemaja,” ungkapnya. (sya)

Advertisement
loading...