ilustrasi

Punya istri cantik tentu menyenangkan tapi ada pula sisi was-was nya.

Apa yang dilakukan Donjuan, 30, ini dianggap Karin, 28, benar- benar keterlaluan. Donjuan melarang Karin keluar rumah. Padahal Karin termasuk wanita yang supel. Berkat keluwesannya berbicara dan bergaul, dia bisa membuka toko kue di pasar dan mulai berkembang. Malah penghasilannya bisa buat tambahan belanja dan modal.

Tapi, sejak sekitar enam bulan yang lalu dia harus banyak menghabiskan waktu di rumah. Ngurus suami, masak dan mengurus anak.

“Saya nggak bisa seperti ini. Saya stres, makanya saya lari dari rumah,” ujar ibu satu anak ini.

Saking stresnya, Karin yang ditemui usai mendaftarkan gugatan cerainya di Pengadilan Agama (PA) Kelas 1A Surabaya, Senin ( 15/1) mengaku bobot badannya turun sampai 8 kg.

“ASI saya juga tidak lancar,” lanjut warga Wiyung ini.

Bukan berarti Karin melawan perintah suami, tapi dia ingin kemampuannya dalam berbisnis bisa dikembangkan, tanpa melupakan kodratnya.

“Tapi suami saya sudah cemburu. Masak, dikit-dikit marah, apalagi saat melayani pembeli laki-laki. Kesel aku,” aku Karin yang saat itu mengenakan kemeja polos warna biru ini.

Tak hanya cemburu saat ada pembeli, ketika Karin belanja bahan, Donjuan yang setia mengantar sering dehem-dehem agar dia tidak terlalu centil saat menawar barang yang akan dibeli.

“Dari pacaran memang sudah kayak gitu orangnya. Repot menjelaskannya,” ucap perempuan dengan tinggi badan 170 centimeter ini.

Kemarahan Donjuan biasanya dilanjutkan sesudah sampai rumah. Demi keutuhan rumah tangganya, Karin selalu mengalah.

“Komentar salah, gak komentar sakit hati,” tutur Karin.

Pernah dia menjelaskan kepada suaminya, namun programmer di sebuah perusahaan swasta ini selalu bilang dia bisa mencukupi kebutuhan Karin bahkan lebih banyak.

Embel gedhez, saya minta laptop baru nggak dikasih, tapi disuruh pakai bekas dia. Laptop lemot,” ucap wanita berkulit putih ini.

Karin pun memilih menggunakan telepon seluler untuk mencari inspirasi resep baru. Tapi, Donjuan marah karena istrinya dianggap tidak menghargainya.

“Hapeku dibanting. Yo aku ngamuk, terus ku tampar mukanya,” aku Karin.

Setelah kejadian itu keduanya terlibat cek cok hebat, hingga puncaknya Karin memilih pulang ke rumah orangtuanya. Dia menceritakan semua kejadian tersebut kepada bapak-ibunya. Donjuan pun kelabakan. Beberapa kali dia menjemput Karin tapi wanita ini tidak mau menemui suaminya.

“Saya sudah sakit hati. Mending saya konsentrasi dulu ke gugatan ini dan mengasuh anak,” tambahnya.

Diceritakan juga oleh Karin, dia bisa kenal dekat Donjuan karena dipertemukan oleh sahabat karibnya semasa kuliah. Masa pacaran mereka termasuk singkat, cuma satu tahun. Setelah itu keduanya menikah karena orangtua Karin sudah kebelet merawat cucu. Maklum, Karin merupakan anak perempuan satu satunya dari empat bersaudara. (sb/ang/jek/JPR)

Respon Anda?

komentar