Iklan

batampos.co.id – Bagian selasar tower 2 Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Senin (15/1) ambruk sekitar pukul 11.20 WIB. Balkon mezanin yang berfungsi sebagai selasar penyambung antara tower 1 dan 2 itu ambruk ketika para mahasiswa berjalan di selasar.

Kemarin, BEI memang sempat kedatangan rombongan study tour mahasiswa Universitas Bina Darma Palembang. Mereka terdiri dari 93 mahasiswa dan empat dosen pendamping. Usai melakukan kunjungan di main hall BEI di lantai dasar, para mahasiswa tersebut naik ke lantai 1 untuk keluar gedung. Dari rekaman CCTV, terlihat banyak mahasiswa yang berjalan dan berkumpul di satu titik selasar. Tak lama kemudian lantai selasar ambruk. Para mahasiswa pun jatuh. Beberapa orang yang lewat di bawah selasar juga tertimpa lantai yang ambruk.

Monica Wareza, karyawan yang sedang berada di lantai 1 mengaku sempat mendengar suara lantai yang ambruk. Dia bersama rekan-rekannya pun keluar ruangan dan turun ke lantai ground lewat tangga. Dia sempat melihat orang-orang yang terluka dan menangis karena lantai tower 1 runtuh. “Iya, ngeri banget itu. Untung saya enggak kenapa-kenapa,” katanya. Monica bersama rekan-rekannya pun langsung mengamankan diri di Pacific Place, mal yang letaknya berseberangan dengan BEI.

Direktur Pengembangan BEI, Nicky Hogan, yang pada saat itu berada di ruang kerjanya juga shock karena lantai selasar di tower 2 ambruk. “Saya kerja di tower 1, terus ada karyawan yang menyampaikan bahwa ada peringatan dari manajemen gedung untuk segera keluar. Saya sendiri tidak kedengaran suara lantainya ambruk, tapi saya kaget kenapa disuruh keluar,” urainya saat ditemui di Pacific Place.

Dari pantauan di lokasi, para karyawan dan pengunjung Gedung BEI kemarin memang banyak yang mengungsikan diri ke Gedung Pacific Place. Ratusan orang tampak menunggu dan berkerumun di gedung tersebut. Banyak karyawan yang menunggu hingga sore. Pada pukul 16.19 WIB, karyawan diperbolehkan masuk ke tower 1. Namun dibatasi hanya satu orang per satu perusahaan penyewa gedung. Sementara tower 2 masih disterilkan sampai tadi malam.

Gedung BEI dikelola oleh PT Cushman and Wakefield, sebuah operator real estat internasional. Developernya adalah PT Danayasa Arthatama Tbk, perusahaan yang mengembangkan kawasan Sudirman Central Business District (SCBD). SCBD sendiri dikenal sebagai kawasan pusat finansial yang dipenuhi gedung-gedung perkantoran elit.

Direktur Cushman and Wakefield Indonesia, Farida Riyadi, mengaku pihaknya akan membantu biaya perawatan para korban yang jatuh. Sejauh ini ada 72 korban yang dievakuasi. “Soal kerugian kami belum bisa taksir berapa. Kami juga masih menunggu penyelidikan dari Puslabfor Mabes Polri,” katanya.

Pengecekan izin dan perawatan konstruksi bangunan dilakukan setiap tahun. Terakhir, pengecekan dilakukan pada Mei 2017 lalu. Meski Gedung BEI sedang bermasalah, Farida menjamin perdagangan di bursa hari ini, Selasa (16/1) tetap berjalan normal seperti biasa. “Kami belum bisa menyimpulkan penyebabnya. Kami masih menunggu kesimpulan dari Puslabfor dan juga konsultan konstruksi,” lanjut Farida. Dia menjamin tak ada satu pun pelanggaran yang dilakukan manajemen, baik mengenai izin maupun standar kelayakan konstruksi bangunan. (rin/idr/jpg)