batampos.co.id – Polsek Batuaji terus mendalami kasus pembunuhan Deli Cinta Sihombing. Setelah melakukan rekonstruksi, Kamis (18/1), penyidik juga akan mendalami kebenaran motif pembunuhan seperti yang disampaikan Dedi Purbianto, pelaku pembunuhan tersebut.

Kepada penyidik Dedi mengaku nekad membunuh isteri dari Alfius Agustinus,31 karena upahnya sebagai gigolo tak dibayar penuh oleh korban. Pengakuan Dedi itu diragukan oleh keluarga Deli, sebab belum ada bukti yang menguatkan pengakuannya itu. Keluargapun berharap agar polisi mengusut kebenaran motif pembuhanan Deli yang sesungguhnya sesuai dengan bukti dan fakta yang ada.

Untuk membuktikan pengakuan pelaku itu, penyidik telah mengirim tiga unit smartphone ke bagian IT Polda Kepri untuk ditelaah percakapan via aplikasi badoo yang disebutkan Dedi sebagai media komunikasi dia dan korban sebelumnya. Tiga ponsel itu terdiri dari dua milik Dedi dan satu milik Deli. “Pengakuan pelaku mereka berkenalan melalui aplikasi badoo. Ini akan diselidiki apakah ada percakapan seperti yang disampaikan pelaku ini,” ujar Kanit Reskrim Polsek Batuaji Ipda Yanto, Jumat (19/1).

Tiga unit ponsel itu sudah dikirim sejak sepekan yang lalu, dan sampai kemarin, penyidik polsek Batuaji belum mendapatkan hasilnya.

“Kami masih menunggu. Semoga semua berkas percakapan melalui aplikasi badoo itu bisa didapatkan kembali, karena sudah dihapus pelaku,” kata Yanto.

Selain tiga unit ponsel itu, upaya penyidik untuk mengungkap motif pembunuhan yang sesungguhnya, juga memanggil manajemen salah satu hotel di Nagoya. Hotel tersebut diakui Dedi pernah dijadikan lokasi kencan pertamanya dengan korban.”Manajemen hotel itu sedang diperiksan anggota. Hasilnya saya belum dapat. Nanti kami akan cocokan apakah pengakuan korban itu benar atau tidak,” kata Yanto.

Upaya-upaya tersebut memang belum mendapatkan petunjuk pasti terkait motif pembunuhan Deli yang sesungguhnya, namun demikian kata Yanto, itu tidak mempengaruhi proses penyelidikan kasus pembunuhan itu.”Perkara utamanyakan pembunuhan. Kalau motif nanti juga bisa diputuskan di persidangan. Kami terus bekerja semoga semuanya bisa terungkap,” ujar Yanto.

Sebelumnya kelurga Deli meragukan motif pembunuhan yang disampaikan pelaku itu. Itu karena pengakuan pelaku itu tidak didukung dengan bukti-bukti yang kuat. Mereka berharap agar polisi mengusut tuntas motif pembunuhan itu sesuai dengan bukti-bukti yang ada.

“Harus ada pembuktian. Itukan pengakuan dia saja,” ujar Bobby Sihombing, keponakan Deli saat mengikuti proses rekonstruksi di lokasi Deli dibunuh yakni di perumahan Central Raya, kelurahan Tanjunguncang, Batuaji, Kamis (18/1) lalu.

Polisi membungkus mayat Deli Cinta, 28, menggunakan kantong mayat dan memeriksa barang bukti di Perumahan Central Raya, Tanjunguncang, Batuaji, Kamis (21/12). Deli Cinta adalah korban pembunuhan dengan tangan dan kaki diikat. F. Dalil Harahap/Batam Pos

Senada disampaikan Alfius yang merasa janggal dengan pengakuan Dedi terkait motif pembunuhan isterinya itu. Dia berharap agar kasus pembunuhan isterinya itu diusut tuntas termasuk kebenaran motifnya. “Harus itu, jangan hanya pengakuan pelaku saja. Pembuktian juga perlu,” ujar Alfius.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Deli Cinta Sihombing, 28 ditemukan tewas dengan posisi setenga telanjang di kamar tidur di rumahnya di perumahan Centra Raya, RT04/RW08, kelurahan Tanjunguncang, Batuaji, Kamis (21/12). Tangan dan kaki ibu muda itu juga diikat tali gorden. Disampingnya juga terkurung Dw, putera pertamanya yang masih berusia tiga tahun. Dw selamat namun saat dijumpai warga kondisinya sudah lemas. Diduga dia sudah seharian dia terkurung bersama jenazah sang ibu di dalam kamar rumah tersebut.

Polsek Batuaji yang menanangi kasus kematian Deli itu akhirnya menetapkan dan membekuk Dedi Febrianto sebagai pelaku tunggal. Kepada polisi Dedi yang sehari-hari bekerja sebagai bar tender itu mengaku nekad membunuh Deli karena upahnya sebagai gigolo tak dibayar penuh oleh korban. (eja)

Respon Anda?

komentar