ilustrasi

Donjuan, 28 tampak lesu ketika menunggu panggilan di ruang tunggu Pengadilan Agama (PA) Kelas 1 A Surabaya, Kamis (19/1). Matanya juga terlihat kurang tidur. Sepertinya dia benar-benar stress. Bagaimana tidak, istrinya, Karin, 27, ternyata tidak mau menjadi seorang ibu.

“Saya benar benar kecewa. Masak dia nggak mau memberi saya anak. Kalau saya bilang, dia sudah menyalahi kodrat,” kata Donjuan.

Laki laki yang tinggal di wilayah Dukuh Kupang ini mengaku mengetahui secara tidak langsung Karin tak mau hamil sekitar tiga bulan yang lalu. Ketika bersih-bersih kamar, dia menemukan kartu nama orang yang menerima menggugurkan kandungan.

“Awalnya saya tidak curiga. Mungkin saja punya orang yang ngontrak rumah saya sebelumnya,” ujar lelaki berbadan langsing ini.

Sampai akhirnya Karin mencari kartu nama tersebut dan bertanya kepada Donjuan.

“Sengaja saya simpan dan saya bilang nggak tahu. Memang waktu itu, saya lupa naruhnya,” tutur karyawan swasta ini.

Saat bertanya kepada suaminya, Karin terlihat panik. Dia seperti menyimpan suatu rahasia. Donjuan pun semakin penasaran, ada apakah sebenarnya? Usut punya usut ternyata Karin sedang hamil. Laki-laki ini menemukan test pack yang menunjukkan tanda positif hamil di kamar mandi.

“Siapa lagi yang hamil, kalau bukan dia. Lha wong hanya kami berdua yang tinggal di rumah. Saya senang, tapi dia kok kelihatan bingung. Apalagi saya sudah menunggu kehadiran anak selama dua tahun,” beber Donjuan.

Ketika ditanya, Karin selalu mengelak. Tapi Donjuan tetap sabar. Tanda tanda orang hamil pasti mual atau lainnya. Namun setelah tiga bulan berlalu, tanda-tanda kehamilan Karin tidak ada.

“Dari sini saya langsung menduga, jangan-jangan dia menggugurkan kandungan. Apalagi saya pernah nemu kartu nama orang yang menerima jasa menggugurkan kandungan,” kata pria berambut lurus ini.

Dengan susah payah Donjuan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya. Tapi akhirnya dia bisa membongkar semuanya dari salah seorang teman dekat Karin. Wajah Karin pucat saat Donjuan mempertemukan mereka. Apalagi saat itu Donjuan membawa bapak mertuanya dan seorang kiai.

“Saya nangis waktu dia jawab. Dia tega melakukan ini semua karena tak mau karirnya terhambat karena punya bayi,” ungkap Donjuan.

Setelah pertemuan itu, Donjuan memberikan waktu seminggu kepada Karin untuk berpikir. Apakah mau meneruskan pernikahan atau tidak.

“Saya sudah siap dengan kemungkinan terjelek. Akhirnya dia milih pisah. Yah sudah, daripada diteruskan tapi bermasalah, mending bubar saja,” ujar Donjuan. (sb/ang/jay/JPR)

Respon Anda?

komentar