ilustrasi

batampos.co.id – Angela memiliki anak saat usianya baru 14 tahun. Angela baru 12 tahun saat kekasihnya memaksa untuk berhubungan seks dan tak lama kemudian hamil.

“Saya ingin menangis dan mendorongnya pergi, tapi dia bilang mencintaiku dan akan bertanggung jawab,” ujar Angela seperti dilansir Aljazeera, Rabu, (24/1).

Kehamilan pertamanya berakhir dengan keguguran, tapi Angela sekarang adalah ibu empat anak. Anak bungsunya baru berumur satu minggu.

Dia adalah satu dari ratusan ribu gadis di Filipina yang melahirkan saat mereka masih remaja. Sementara tingkat kehamilan remaja di sebagian besar negara menurun, jumlahnya meningkat di Filipina.

Sekitar 500 remaja Filipina menjadi ibu setiap hari. Itu sekitar 182.500 ibu remaja setiap tahunnya.

Provinsi asal Angela, Palawan, memiliki tingkat kehamilan remaja tertinggi di negara ini. Satu dari lima gadis remaja di Palawan sedang hamil atau sudah memiliki anak.

Entah bagaimana kabar ini beredar, tapi mereka mengatakan, kontrasepsi merusak rahim. Itulah mengapa Angela dan remaja putri lainnya terus hamil.

Menurut Angela, orangtua pacarnya mengatakan, kontrasepsi memiliki efek samping yang buruk.

“Mereka bilang itu merusak rahim, jadi saya takut karena itu saya terus hamil.”

Salah satu pendiri Roots of Health, LSM kesehatan perempuan di Palawan, Filipina, Amina Evangelista Swanepoel mengatakan, tingginya tingkat kehamilan remaja memiliki konsekuensi yang luas. “Ini benar-benar masalah yang luar biasa, tidak hanya dalam hal kesehatan remaja yang menjadi orang tua pada usia muda seperti itu dan kemudian anak-anak yang mereka miliki, tapi juga menambah beban pemerintah,” katanya.

Petugas kesehatan mengatakan, mereka sering melihat gadis-gadis muda yang sedang hamil dalam hubungan dengan pria yang jauh lebih tua.

Meskipun anak perempuan dapat melakukan hubungan seks secara sah sejak usia 12 tahun, mereka memerlukan izin orang tua mereka untuk mendapatkan kontrasepsi atau tes HIV jika mereka berusia di bawah 18 tahun. Petugas kesehatan mengatakan, hal ini menyebabkan banyak anak perempuan melakukan hubungan seks tanpa kondom dan membuat mereka rentan terhadap kehamilan.

Rupanya hubungan seks bebas para remaja ini akhirnya hanya berdampak mengerikan dan menjadi beban masyarakat dan pemerintah.

(ina/JPC)

 

Respon Anda?

komentar