Ilustrasi perceraian. Foto: pixabay

Kesedihan tampak di wajah Donwori, 43. Tatapannya terkadang kosong, seperti memikirkan sesuatu. Lamunan pria berbaju putih ini buyar saat salah satu kerabatnya menghampiri, untuk menanyakan berkas yang disiapkannya. Sambil duduk di bangku ruang tunggu Pengadilan Agama (PA) Kelas 1A Surabaya, lelaki yang tinggal di kawasan Lakarsantri ini memeriksa berkas yang akan diajukannya kepada petugas pengadilan.

Bapak dua anak ini dengan berat hati mengajukan gugatan kepada istrinya, Sephia, 40, karena sudah tak tahan melihat kelakuan perempuan yang telah mendampingi selama 13 tahun tersebut. Sudah lebih dari tiga bulan ini, Sephia tak pulang. Anak-anak mereka telantar, haus kasih sayang dari seorang ibu. “Anak saya masih kelas enam dan empat SD,” kata Donwori, Selasa (23/1).

Bukan tanpa sebab Sephia minggat. Dia pergi tanpa pesan karena kecantol pengusaha properti. “Katanya dia sekarang di Malang. Nggak tahu lagi kalau ada di tempat lain,” ujar Donwori.

Donwori menceritakan, dirinya sudah mengetahui gelagat mencurigakan Sephia sejak sekitar setahun yang lalu. Istrinya sering menerima telepon atau pesan singkat dari seseorang.

“Pakai sembunyi-sembunyi saat telepon. Ya jelas saya curiga,” kata karyawan sebuah pabrik ini.

Meskipun nggak mengakui, akhirnya kelakuan Sephia ketahuan juga. Setelah disidang oleh suami dan keluarganya, ibu dua anak ini akhirnya mau memperbaiki diri.

“Saya juga melarang dia kerja. Dia terlalu lebay kalau jadi marketing,” ungkap Donwori.

Namun larangan kerja itu tak seterusnya. Donwori mengizinkan istrinya kerja lagi setelah kondisi keuangan keluarga bermasalah. “Saya kena PHK dan sekarang buka warung makan. Alhamdulillah laris,” tutur Donwori.

Donwori sudah memberi peringatan kepada Sephia agar tidak mengulang perbuatannya. Perempuan ini bekerja sebagai admin sebuah pengembang perumahan. Dengan pengalaman yang sudah banyak, Sephia naik jabatan sebagai wakil pemilik perusahaan. Ke mana-mana mereka selalu pergi bersama untuk ngurusi proyek, yang salah satunya berada di Malang.

“Dari sini saya sudah curiga. Pakai nginap segala. Meskipun Sephia bilang dia nginap di rumah pamannya jika ke Malang. Namanya setan, ada di mana-mana,” beber Donwori.

Dugaan Donwori terbukti setelah istrinya sudah ogah-ogahan melayani di atas ranjang. Saat Sephia bertugas ke Malang, Donwori mengikuti mereka.

“Benar juga, mereka melakukan di sebuah hotel. Lega, bisa membuktikan perbuatan mereka,” imbuh Donwori.

Sepulang dari Malang, Sephia dan selingkuhannya diajak berunding. Disaksikan oleh orangtua Sephia dan Donwori.

“Saat itu saya menjatuhkan talak. Tidak ada tawar menawar,” tegas Donwori.

Seminggu setelah pertemuan itu, Sephia minggat entah ke mana. “Surat panggilan sidang saya tujukan ke mertua dan perusahaan istri saya. Biar tahu semua,” tutur Donwori.

(sb/ang/jek/JPR)

Respon Anda?

komentar