Iklan
Pegawai RSUD Embung Fatimah, Batuaji menyusun kotak kardus yang berisi obat bantuan dari Dinas Kesehatan Provinsi Kepri, Rabu (24/1). F. Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Obat bantuan dari Pemerintah Provinsi Kepri sebanyak 26 koli, Rabu (24/1) lalu, sudah mulai dinikmati oleh masyarakat yang berobat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah Batam di Batuaji. Kesulitan masyarakat mendapat obat di rumah sakit bertipe B itu mulai teratasi meskipun belum semuanya.

Iklan

Pantauan Batam Pos, Kamis (25/1), pelayanan medis di RSUD mulai berangsur membaik. Keluhan pasien atas kekosongan obat mulai berkurang. Obat generik untuk penyakit umum sudah bisa didapatkan pasien di apotek rumah sakit tersebut. Obat gangguan pernapasan atau asma misalkan sudah lengkap tersedia di sana. “Iya baru ada hari ini katanya. Empat-empat (jenis obat asma sesuai resep dokter) ada semua. Minggu lalu saya ke sini tak ada,” kata Evalia, pasien yang menderita penyakit Asma, kemarin.

Senada disampaikan, Erwin pasien lainnya. Obat tekanan darah tinggi yang dibutuhkanya juga sudah tersedia di rumah sakit tersebut.

Situasi tersebut berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang mana, pasien umum ataupun BPJS yang berobat di rumah sakit berpelat merat itu cukup kesulitan mendapatkan obat-obatan di sana. Itu karena stok obat di rumah sakit tersebut banyak yang habis. Warga harus membeli obat-obatan di luar rumah sakit.

Sumber dari sejumlah petugas medis di RSUD, mengakui memang ketersedian obat-obatan di rumah sakit itu mulai normal. Meskipun belum semua jenis obat tersedia dengan baik namun bantuan dari Pemprov itu setidaknya bisa mencukupi kebutuhan pasien sampai sebulan kedepan. “Sebulan kedepan masih cukup ini. Tapi harus tetap ada penambahan. Kalau nggak ya habis obat ini kembali lagi persoalan itu (krisis obat-obatan),” ujar sumber petugas medis, kemarin.

Sebelumnya Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri Tjetjep Tjetjep Yudiana yang datang bersama Gubernur Kepri Nurdin Basirun menyerahkan bantuan obatan ke manajemen RSUD, Rabu (24/1) lalu, mengakui jika 26 koli obat bantuan dari Pemprov itu hanya bertahan untuk sebulan ke depan. Untuk itu kepada pihak manajemen RSUD dan Pemko Batam, Tjetjep berharap agar tetap fokus mengurai persoalan yang terjadi di RSUD agar proses pengadaan obatan-obatan kedepannya tak terkendala lagi.

“Kita (Pemprov) masih tetap akan bantu jika masih begini, tapi pemko dan manajemen rumah sakit tetap harus bisa selesaikan persoalan ini secepatnya,” ujar Tjetjep.

Menanggapi itu, Direktur RSUD Embung Fatimah Batam Ani Dewiyana menuturkan, saat ini pihaknya masih terus berusaha keras untuk mengadakan kembali obat-obatan tersebut. Bahkan pihaknya juga sudah memasukan penawaran melalui e-Katalog ke sejumlah perusahaan farmasi yang ada di Kepri dengan harapa agar segera ada perusahaan atau vendor yang mau memasokan obat ke RSUD.

“e-Katalog kita sudah banyak diklik (dilihat) oleh beberapa perusahaan (penyalur obat-obatan), kami masih menunggu hasilnya. Secepatnya akan kami bereskan persoalan ini,” ujar Ani.

Upaya ini dilakukan kata Ani karena vendor-vendor yang menyuplai obat ke RSUD sebelumnya sudah tak lagi mau bekerja sama. Itu karena RSUSD sendiri masih memiliki utang ke vendor-vendor tersebut sekitar Rp 7,6 miliar.

“Ya tak apa-apa. Kita upayakan ( ke Vendor) yang lain. Persoalan mereka (vendor-vendor sebelumnya) tetap akan diselesaikan sesaui prosedur yang ada,” tutur Ani.

Terkait utang obat-obatan kepada Vendor- Vendor sebelumnya yang mencapai Rp 7,6 miliar diakui Ani merupakan persoalan dari manajemen yang lama. “Utang itu dari tahun 2015, tapi bagaimanapun tetap harus diselesaikan,” katanya. (eja)