batampos.co.id –  Pemerintah terus mempromosikan peluang investasi di Indonesia pada investor asing. Dalam kunjungan kerja ke Swiss,  Menteri BUMN Rini M. Soemarno memaparkan peluang bisnis di Indonesia kepada puluhan investor di Zurich,  kemarin (27/1).Para investor datang dari berbagai negara antara lain dari Kuwait Investment Fund, investor dari Qatar, China, Azerbaijan, Malaysia, dan Norwegia. Rini didampingi sejumlah  Direksi BUMN seperti Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk Desi Arryani, Direktur Utama PT Angkasa Pura 1 (Persero) Faik Fahmi, Direktur Utama PT Angkasa Pura 2 (Persero) M. Awaluddin,  dan Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk Alex J Sinaga.

Dalam kesempatan itu, Rini menyampaikan kondisi perekonomian Indonesia yang terus membaik. Hal itu sesuai dengan penilaian lembaga rating internasional (Moody’s, S&P Global, dan Fitch Rating) yang menempatkan Indonesia sebagai negara tujuan investasi. “Dua tahun terakhir ini, ekonomi tumbuh di atas 5 persen dan akan terus membaik di masa yang akan datang, ” tuturnya.

Selain itu, Rini juga mengungkapkan sejumlah indikator makro ekonomi Indonesia yang terus membaik. Antara lain neraca perdagangan yang positif dalam tiga tahun terakhir dan inflasi yang selalu terkontrol. Indikator penting lainnya adalah tingkat kesejahteraan yang meningkat, angka kemiskinan menurun dari 11,7 persen (2012) menjadi 10,1 persen (2017). “Indonesia telah berkembang pesat. Hal ini ditunjukkan lewat indeks daya saing global, dimana menurut WEF pada tahun 2017-2018 Indonesia menduduki posisi 36 dari 137 negara,” tegasnya.

Selain menjelaskan kondisi terkini ekonomi,  Rini juga membeberkan rencana pembangunan dan kebutuhan dana infrastruktur di Indonesia. “Kami berkomitmen untuk mendorong konektivitas di udara, laut, darat dan telekomunikasi, yang juga mencakup internet dan serat optik, serta membangun pembangkit listrik,” jelas Rini.

Dia melanjutkan,  dalam rencana pembangunan jangka menengah 2015-2019, Pemerintah membuat ekspektasi untuk meningkatkan rasio elektrifikasi menjadi 96,6 persen membangun pembangkit listrik baru hingga kapasitas total menjadi 35.000 MW, membangun 2.650 km jalanan baru dan 1.800 km jalan tol baru. “Di akhir 2014, jalan tol Indonesia keseluruhan hanya 780 km. Saat ini, kami membangun 1.800 km jalan tol hingga akhir 2019, yang mana lebih dari dua kali lipat dari pencapaian pemerintahan 69 tahun terakhir,” jelasnya.

Tidak hanya itu,  Rini juga menjelaskan program pembangunan adalah di infrastruktur bidang digital. Indonesia merencanakan mengembangkan jaringan serat optik dari 112.494 kilometer di tahun 2014 menjadi 158.850 kilometer di tahun 2018. Selain itu, dalam rangka mendorong pembangunan sektor telekomunikasi, pemerintah juga membangun 152 ribu Base Transceiver Station (BTS).

Sesuai dengan rencana pemerintah dalam RPJMN 2015-2019,  untuk pembangunan infrastruktur di Indonesia, membutuhkan dana setidaknya sebesar USD 500 miliar.

Di depan para investor, dia menawarkan peluang untuk berinvestasi. Khususnya dalam pengembangan infrastruktur dan konektivitas di Indonesia Timur yang selama ini kurang mendapat perhatian. “Rencana ekspansi kami memang terlihat ambisius. Tapi pada saat bersamaan sangat realistis,” tutur Rini.

Di hadapan investor global tersebut, Rini juga memberikan contoh investasi di Indonesia yang menarik minat investor asing. Yakni, Komodo Bonds Jasa Marga yang diluncurkan November 2017 dan terdaftar di London Stock Exchange. Selain itu juga ada Komodo Bonds Wijaya Karya. “Keduanya adalah obligasi berkualitas tinggi yang dikelola perusahaan BUMN yang bergerak di bidang infrastruktur jalan tol”imbuhnya.  (ken) 

Respon Anda?

komentar