Ilustrasi pelamar kerja. F. Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Kondisi ekonomi nasional yang belum stabil kian berdampak buruk bagi perkembangan ekonomi warga Batam. Tidak sedikit warga yang mulai menyerah dengan kondisi ekonomi tersebut. Warga korban PHK dari perusahaan galangan kapal di Batuaji dan Sagulung sudah cukup banyak yang memilih pulang kampung karena sudah tak mampu lagi bertahan.

Data dari kecamatan Batuaji diakhir tahun 2017 lalu ada sekitar 500 warga yang mengurus surat perpindahan penduduk dari Batam ke daerah lain. Jumlah tersebut diakui pihak kecamatan meningkat drastis dari tahun-tahun sebelumnya yang rata-rata dibawa angka 100 warga. Bukti lain yang menunjukan bahwa situasi ekonomi khususnya kota Batam yang belum kunjung membaik itu adalah menurunya pengurusan kartu kuning (form AK-1) sepanjang tahun 2017 lalu. Dalam sehari pihak kecamatan rata-rata hanya menerima 5-10 berkas permohonan kartu kuning.

“Itu mulai terasa sejak Lebaran tahun lalu. Biasanya diatas 20 an berkas dalam sehari. Mungkin karena tak ada lowongan kerja kali. Pada pulang kampung orang,” ujar kepala seksi pelayanan umum Kecamatan Batuaji, Safrinto, belum lama ini.

Menurunya minat warga untuk mengurus kartu kuning itu karena memang belakangan Batam dilanda krisis lowongan kerja. Dunia industri galangan kapal yang sedang melemah (down) menjadi penyumbang terbesar bagi meningkatnya angka pengangguran di kota Batam.

Data dari Dinas Ketenaga Kerjaan Kota Batam seperti yang disampaikan oleh wakil wali kota Batam Amsakar Achmad beberapa waktu lalu, ada sekitar 23 ribu pekerja aktif di Batam yang dirumahkan. Itu karena ada sekitar 184 perusahaan yang tutup sejak tahun 2014 lalu.

Sampai saat itu situasi yang kurang bersahabat itu belum kunjung membaik. Pihak Batam Shipyard and Offshore Association (BSOA) mengakui jika belum ada perubahan yang berarti dengan geliat industri galangan kapal di Batam pada umumnya. Industri galangan kapal masih terpuruk sebab sepih orderan pembuatan kapal.

“Belum begitu membaik. Untuk bertahan saja dengan tenaga kerja yang sangat sedikit. Kalau berkembang belum bisa,” ujar Sekretaris BSOA Suri Teo, beberapa waktu lalu.

Situasi yang rumit itu, membuat warga Batam tak bisa berkembang. Bahkan sebagian warga sudah mulai menyerah karena kelamaan menganggur. Aset yang adapun dijual murah. Rumah yang masih dalam proses kredit banyak disegel bank lantaran tak bisa membayar angsuran lagi. Begitu juga barang perlengkapan rumah tangga yang sudah dibeli, dijual dengan harga yang murah. Berbagai media sosial yang menampung informasi jual beli barang juga dipenuhi dengan pajangan jual rumah hingga perlengkapan rumah tangga lainnya.

Beberapa warga korban PKH yang ditemui Batam Pos di wilayah Batuaji dan Sagulung mengaku nekad menjual rumah hingga perlengkapannya umumnya hanya untuk bertahan hidup. Itu dilakukan karena memang tabungan selama masih kerja sudah habis.

“Bayar angsuran rumah, biaya makan mau ambil dari mana. Mau tak mau barang-barang yang ada dijual,” kata Djoko, salah satu warga di Tanjunguncang, Selasa (6/2).

Tidak itu saja, jika semua barang sudah habis terjual dan yang bersangkutan belum juga mendapat pekerjaan baru, rumah yang masih dalam proses angsuran kreditpun dijual. Seperti yang dilakukan Hendro, warga perumahan Laguna Regency, Marina. Dua tahun menganggur pria asal pulau Jawa itu terpaksa menjual rumahnya yang masih dalam masa kredit atau KPR, sebagai modal untuk pulang kampung. Hendro mengaku tak mampu lagi bertahan di Batam. Selain terkendala dengan pembayaran angsuran rumah, biaya sekolah dua anaknya juga tidak bisa dipenuhi.

“Makanya kalau laku rumah ini mau balek kampung kami. Biar bertani saja di kampung,” katanya.

Pantauan Batam Pos di lapangan, dalam satu perumahan terdapat tiga sampai empat unit rumah yang dipajang tulisan “rumah ini dijual”. Begitu juga dengan rumah yang dilabeli pihak bank karena tunggakan KPR juga cukup banyak. (eja)

Respon Anda?

komentar