Iklan
Selain ikan dingkis, kue bakul atau kue keranjang, salah satu hidangan khas perayaan imlek. F. Aulia Rahman/Batam Pos.

batampos.co.id – Suasana menjelang perayaan Imlek 16 Febuari mendatang sudah terlihat di Ranai. Rumah-rumah warga keturunan Tionghoa mulai berhias lampion-lampion warna merah.

Tidak hanya hiasan lampion yang digantung didalam rumah maupun di teras, kue has Imlek sudah mulai dijual. Salah satunya adalah kue bakul atau kue keranjang.

Kue bakul ini hanya dibuat warga satu tahun sekali, yakni untuk hidangan perayaan Imlek.

Doni Rinaldo, seorang warga Tionghoa di Ranai mengaku, kue bakul sudah jauh hari disiapkan sebelum malam perayaan Imlek. Mengingat proses pembuatannya tidak mudah. Kue tersebut salah satu hidangan utama. Selain menu masakan lain yang dinilai mewah-mewah.

Doni mengaku, cara membuat kue bakul adalah warisan keluarga yang turun temurun diajarkan. Karena tidak semua warga Tionghoa bisa meraciknya.

“Kue bakul ini dibuat dari bahan beras ketan, gula, dan dimasak cukup lama. Perlu kesabaran dan ada pantangannya. Supaya rasanya lebih istimewa disaat Imlek,” ungkap Doni, di restorannya di Ranai,” Jumat (9/2).

Selain kue bakul, tradisi perayaan Imlek di Natuna juga menghidangkan menu ikan Dingkis yang sedang bertelur. Menurut warga Tionghoa, merupakan satu hoki atau keberuntungan menyambut tahun baru Cina.

“Menyambut Imlek, kami sengaja memesan ikan Dingkis kepada nelayan, spesialis Dingkis yang lagi bertelur. Di Ranai harganya pun tidak mahal. Kalau di luar bisa Rp 1 jutaan per kilo,” tutur Doni.

Kemeriahan menyambut perayaan Imlek tahun 2018 di Natuna juga disambut warga kampung Penagi. Kelenteng dan jalan pelantar mulai dihiasi lampion warna merah. Nuasa menyambut perayaan Imlek juga terlihat di jalan pelantar kota terapung Sedanau.(arn)