Ribuan jamaah memadati dataran Engku Putri Batamcentre untuk mendengarkan ceramah ustad Somad, Sabtu (10/2/2018). F Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Suara takbir terdengar keras. Puluhan ribu masyarakat Batam datang berbondong-bondong dan berkumpul untuk mendengarkan ceramah Ustaz Abdul Somad, Lc, MA di Dataran Engku Putri, Sabtu (10/2).

Kehadiran ustaz yang fenomenal ini di tengah lautan masyarakat Batam, dimulai dengan pengajian. Sementara kepadatan lalu lintas sudah mulai terasa ratusan meter dari lokasi. Beberapa jalur menuju Engku Putri terpaksa harus dialihkan.

Masyarakat yang datang terlambat harus rela berjalan kaki, setelah memarkirkan kendaraannya agak jauh dari lokasi. Para ibu-ibu membawa anaknya, bapak-bapak menggendong anaknya dan muda-mudi antusias ingin menyaksikan langsung ceramah yang bertema Kebangkitan Umat ini.

Dengan suara serak khasnya, ia mulai menyapa masyarakat yang duduk rapi di dataran Engku Putri tersebut. Ustaz asal Riau ini sempat berpantun yang diakhiri dengan tepuk tangan massa. “Kalau sudah masyarakat Batam berkumpul, tentara israel bakal terpukul,” begitu kurang lebih inti pantunnya.

Kalimat demi kalimat, Ustaz Abdul Somad terus menyerukan ajakan agar masyarakat tidak mudah terpecah belah, tidak mudah terhasut dengan perbedaan yang ada. Ia mengaitkan ceramahnya tersebut dengan keseharian masyarakat Islam sekarang.

“Ada yang berjanggut, ada yang tidak berjanggut. Lalu, kenapa harus dipermasalahkan. Bisa saja yang tidak berjanggut karena memang belum berjanggut. Jangan mudah berantem masalah seperti itu,” ungkapnya.

Satu contoh lagi, ia berkata ada muslim yang bercelana panjangnya hanya di bawah mati kaki. Lalu ada lagi yang bercelana panjangnya di atas mata kaki. Kalau tidak sombong, tidak masalah. “Jangan berantem. Kalau berantem yang celana di bawah mata kaki dan di atas mata kaki, yang senang siapa. Yang senang yang enggak pakai celana,” paparnya yang diiringi tawa massa yang hadir.

Jika perintahnya kuat, maka hukumnya wajib. Jika perintahnya tidak kuat, maka hukumnya sunah. “Jika larangannya kuat, maka haram. Jika larangannya tidak kuat, maka halal,” terangnya.

Menanggapi hal itu, Fakhril Marwan Muhana yang jauh-jauh datang dari Batuaji mengangguk. Ditanya, ia sangat sepakat dengan apa yang dikatakan ustaz. “Benar, masalah perbedaan seharusnya tidak mudah dibenturkan. Kesalahpahaman dan pembelahan di tengah masyarakat kian dalam, rasanya pas sekali mendengar ceramah malam ini,” kata Fakhril.

Terlepas dari itu, Fakhril yang mengajak serta istri dan anaknya harus rela berdesak-desakan untuk melewati kerumunan masyarakat yang hadir. Namun, ia mengaku cukup puas bisa menyaksikan dari jauh. “Tertib juga ternyata, orang-orang yang hadir duluan duduk. Jadi yang belakang bisa menyaksikan meskipun dari jauh. Seharusnya kami datang lebih cepat tadi,” ungkapnya. (why)

Respon Anda?

komentar