Seorang warga melihat kebun pucuk ubi di kebun sayur Kampung Seroja, Sagulung,
Foto: Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kota Batam Gunawan Satary menilai, mahalnya harga kebutuhan pokok di Batam, khususnya sayuran, karena Batam masih tergangtung pada daerah lain. Pasokan lokal belum mampu 100 persen.

“Kami memperkirakan sayuran produksi Batam baru mampu menyuplai sekitar 40 persen dari total kebutuhan,” ujar Gunawan, Sabtu (10/2).

Meski begitu, Gunawan menilai kehadiran petani sayuran di Batam menjadi solusi di saat pasokan dari daerah tersendat. Sayangnya, jenis sayuran yang bisa diproduksi di Batam masih terbatas. Antara lain kangkung, bayam, terong, cabai, mentimun, kemangi, sawi, dan beberapa jenis tanaman hortikultura lainnya.

Khusus sayuran dari dataran tinggi seperti kol, wortel dan lainnya, Batam belum mampu memproduksi karena faktor iklim. Adapun sayuran jenis selada, sawi varietas tertentu, sudah mampu dibudidayakan dalam bentuk hidroponik dengan sedikit modifikasi iklim.

Gunawan mengatakan, pasokan sayuran lokal Batam bisa saja produksinya ditingkatkan jika Badan Pengusahaan (BP) Batam maupun Pemko Batam bisa menyediakan lahan-lahan pertanian, baik dalam kota maupun di hinterland dan pulau-pulau tertentu yang potensial. Selama ini, lahan pertanian hanya terpusat di Tembesi, Barelang, dan beberapa tempat lainnya, termasuk di Seitemiang, Sekupang.

“Perlu dukungan dari berbagai pihak, termasuk dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan,” ujarnya.

Tak hanya dukungan lahan dan peningkatan pengetahuan petani, para petani juga membutuhkan suntikan modal. Sejauh ini, sektor pertanian terbilang masih sulit mendapatkan pinjaman lunak dari perbankan.

“Tapi Bank Indonesia termasuk peduli petani di Batam. Bahkan BI menganggap HKTI sebagai mitra. Sudah ada kelompok tani yang mereka bina,” ujarnya.

HKTI Batam sendiri mengaku sudah membina beberapa kelompok tani hidroponik walapun produktivitasnya masih rendah.

“Mereka juga butuh dukungan modal dan pendampingan,” terang Gunawan.

HKTI sendiri menawarkan berbagai solusi untuk meningkatkan produksi sayuran di Batam. Antara lain, peningkatan SDM petani agar lahan sempit mampu berproduksi tinggi.

Dalam waktu dekat, HKTI Batam juga akan berkoordinasi dengan BP Batam dan Pemko Batam untuk perluasan areal pertanian. Di wilayah kota dan yang terhubung jembatan adalah kewenangan BP Batam, sementara pulau-pulau kewenangan Pemko Batam.

“Mana yang bisa digarap dan bisa diperluas, mana yang tidak harus jelas,” ujarnya.

Terkait masalah pemasarannya, HKTI Batam sudah menyiapkan market place untuk pertanian yang akan soft launching di Rakerda HKTI Provinsi di Lingga pada 15 Januari mendatang.

“Di market place itu sendiri ada namanya permintaan dan memang pemasaran. Jadi permintaan ada sekian, ada penawaran sekian nantinya,” ujar Gunawan.

Tak hanya petani sayuran, Gunawan juga meminta Pemko Batam dan BP Batam memperhatikan juga para peternak ayam potong dan petelur serta pembudidaya ikan air tawar. Kendalanya relatif sama, lahan, akses modal, dan sarana produksi pertanian dan atau budidaya. (gas)

Respon Anda?

komentar