Iklan
Sukamti, 55, warga Tanjunguncang, Batuaji menuang air kedalam ember menggunakan air galon karena pasokan air ATB di Tanjunguncang terganggu, Kamis (15/2/2018). F Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Senior Supervisor Corporate Communication ATB, Ginda Alamsyah mengakui jika suplai air bersih di beberapa perumahan di Kelurahan Tanjunguncang menurun. Sementara permintaan air bersih sendiri mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

“Musim kemarau saat ini membuat stok air bersih kita terbatas. Permintaan air kesana juga cukup tinggi,” kata Ginda, Kamis (15/2/2018).

Namun demikian, ia mengakui sudah mengantisipasi dengan menaikan suplay air ke pelanggan yang belum mendapatkan air atau mengalami gangguan air. Begitu juga dengan mengirim mobil pembawa air bersih, yang disuplay ATB kepada masyarakat di Kelurahan Tanjunguncang.

“Tetap akan kita usahakan, beberapa hari ini sudah kami kirim,” sebut Ginda.

Ia menambahkan, berdasarkan data ATB, memang terjadi penurunan suplay air. Hal ini tidak terlepas dari banyaknya perumahan baru yang ada di sekitar lokasi. Ditambah lagi, musim kemarau yang membuat suplay air ke wilayah tersebut mengalami sedikit pengurangan.

“Disana kalau malam airnya ngalir. Tapi kalau siang atau pagi mati. Kebutuhan airnya juga tinggi,” imbuh Ginda.

Alhasil air yang disuplay ATB tidak sebanding dengan kebutuhan masyarakat. “Beberapa minggu ini kami kirim (air) habis, jadi biasanya permintaan gak segitu sekarang sudah meningkat. Namun begitu kita segera selesaikan dengan meningkatkan suplay,” jelasnya.

Anggota Komisi III DPRD Batam, Amintas Tambunan menilai, krisis air bersih ini menjadi permasalahan pokok yang harus diselesaikan ATB. Apalagi air mati sudah sejak satu minggu yang lalu sehingga menyebabkan warga kewalahan dalam mendapatkan air bersih.

“Kalau sudah seminggu, ATB wajib mengirim air bersih kepada masyarakat. Bisa saja melansir dengan mobil,” kata Amintas.

Selain itu ia menilai kinerja ATB sebagai penyedia air bersih di Batam harus profesional dalam menjaga kepercayaan pelanggannya.

“Inikan nyangkut pelayanan, kalau sudah seminggu wajar masyarakat ngeluh,” sbutnya.

Smenetara itu sekretaris Komisi III DPRD Batam, Bustamin mengaku permasalahan krisis air bersih memang sudah pernah disampaikan warga kepada DPRD. Saat itu DPRD memanggil ATB untuk meminta penjelasan terkait krisis air bersih di Kelurahan Tanjunguncang itu.

“Batuaji dan Sagulung air kerap mati, kadang kalau hidup hanya sementara. Laporan ini yang sering kita terima,” katanya.

Menurut dia, air dan listrik merupakan kebutuhan pokok masyarakat. Oleh sebab itulah ATB diminta profesional di dalam menjalankan tugasnya. “Jika memang dirasa tidak mampu lagi, kita harapkan ke depan pengelolaan air bersih bisa diambil pemko,” jelasnya. (rng).