Kepala BPTP Kepri Mizu Istianto (kanan) bersama pejabat lainnya memanen padi di Desa Bukit Langkap Lingga, Kamis (15/2) lalu. F.BPTP Kepri untuk Batam Pos.

batampos.co.id – Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian-Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (BPTP Balitangtan) Provinsi Kepri, Dr.Ir. Mizu Istianto, MS mengatakan pihaknya sudah menghadirkan padi varietas unggul baru di wilayah perbatasan Kabupaten Lingga. Menurutnya kerjsama BPTP dengan petani sudah berjalan dengan baik.

“Kerjasama pengembangan padi sawah antara BPTP Kepri bersama petani sebagai bagian dari ujicoba varietas unggul baru (inpari 40, inpari 33, inpara 2, inpara 5, inpara 3, banyuasin, martapura dan indragiri) seluas 10 hektar dengan menggunakan teknologi spesifik lokasi berjalan dengan baik,” ujar Mizu Isdianto, Minggu (16/2) lewat siaran persnya.

Dijelaskannya untuk mengukur keberhasilan tersebut, pihaknya sudah melakukan panen bersama di Desa Bukit Langkap Kecamatan Lingga Timur, Kabupaten Lingga, Kamis (15/2) lalu. Lebih lanjut katanya, kondisi Lahan yang digunakan merupakan lahan bukaan baru yang masih mengandung Fe (zat besi) dengan pH tanah sangat rendah (asam). Inovasi teknologi yang digunakan adalah dengan menggunakan pendekatan penggunaan varietas unggul baru, pengaturan pupuk berimbang spesifik lokasi, pengendalian hama dan penyakit, dan inttermitten drainase.

“Inovasi teknologi yang digunakan adalah dengan menggunakan pendekatan penggunaan varietas unggul baru, pengaturan pupuk berimbang, pengendalian hama dan penyakit, dan inttermitten drainase,” jelasnya.

Dikatakannya juga, Inpari 33 sengaja dirakit untuk menghadapi berbagai serangan OPT utama padi sawah seperti kresek/Xanthomonas dan wereng batang coklat (WBC) yang akhir-akhir ini sangat tinggi intensitas serangannya, dengan umur tanaman 107 hari setelah sebar dengan potensi hasil 9,8 t/ha, tekstur nasi sedang mengandung amilosa 23,42 persen, sedangkan inpari 40 sengaja dirakit untuk toleran kekeringan dan tahan terhadap hawar daun bakteri, dengan umur 116 hari setelah sebar, tekstur nasi sedang mengadung amilosa 23,6 persen.

Masih kata Mizu, sesuai arahan Menteri pertanian bahwa menjadikan wilayah perbatasan sebagai lumbung pangan berorientasi ekspor. BPTP kepri bersama Dinas Pertanian dan Ketahan Pangan Lingga merencakan akan pengembagan sekitar 31 hektar khusus Bukit Langkap. Kunci keberhasilan program pengembangan padi sawah di Lingga adalah harus ada motivasi masyarakat yang tinggi, ketersediaan sarana produksi, dan menerapkan anjuran inovasi teknologi budidaya padi sawah bukaan baru.

“Kita akan terus mendorong masyarakat untuk mengembangkan varietas yang sudah ada,” paparnya lagi.

Ditambahkannya, BPTP Kepri juga memberikan apresiasi kepada para Marwanto, Jamhari, dan Sahidin. Karena sudah bekerja keras untuk menghasilkan lima ton gabah dari lahan seluas 2 hektar. Adapun varietas inpari 33 salinitas), dan 8.2 ton gabah kering panen (varietas inpari 40).

Kabid Pertanian, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Lingga, Joko Wiyono mengatakan bahwa komitmen pemerintah daerah lingga menjadikan basis ketahanan pangan khususnya lingga dengan pengembangan berbagai komoditas pertanian khususnya padi.

Sementara itu, Sahidin, salah satu petani di Desa Bukit Langkap mengatakan bahwa dirinya dan petani lainnya yang mengerjakan lahan persawahan merasa bahagia dengan panen tersebut. Ia mengaku sangat berterima kasih kepada BPTP Balitbangtan Kepri dan pihak terkait sudah memperhatikan petani khususnya melakukan pendampingan dan menghadirkan pilihan varietas unggul baru padi spesifik lokasi. Komitmen bersama petani mewujudkan pengembangan wilayah perbatasan dengan ketahanan pangan berbasis kepulauan berorientasi ekspor.

Turut hadir dalam acara panen bersama , Ketua STTP Malang, Ir. Fathan A. Rasyid MS, perwakilan STTP Bogor, perwakilan STTP Medan, perwakilan Dinas Pertanian dan Ketahanan pangan lingga camat lingga timur, kepala desa bukit langkap, dandramil, petani dan mahasiswa STTP.(jpg)

Respon Anda?

komentar