Ruas 1. Stasiun II

ORANG muda itu berlari dan melompat ke dalam trem yang sudah melaju dengan setengah kecepatan normalnya. Nyaris saja terjatuh, jika saja ia tak sempat berpegangan pada tepian pintu trem. Naila terkesiap, dan dengan serta-merta ia mengatupkan buku yang sedang ia baca. Tambah terkesiap ketika matanya dan mata orang muda itu bertembung. Mata yang cerdik, berani dan hidup. Menyala nyalang. Apalagi ketika orang muda itu lalu duduk tepat di sampingnya. Trem sedang agak kosong menjelang tengah hari seperti itu. Banyak tempat duduk lain, tapi si orang muda tadi, justru memilih duduk di dekat dia.

“Hai, Adik…”

Naila memalingkan muka ke arah lain. Ia tak tahu apakah upayanya berpura-pura tak mendengar sapaan itu berhasil. Si orang muda tadi mengulangi sapaannya. Naila menangkap kesungguhan pada sapaan itu. Itu bukan ikhtiar untuk menggoda.

“Aku bukan adikmu…”

“Tentu saja bukan. Aku tahu siapa saja adikku. Eh, siapa namamu?”

Ah, ternyata orang muda ini pun dari jenis yang sama dari kebanyakannya, tukang rayu juga.

“Pasti namamu cantik. Secantik orangnya.” Tuh, benar dugaan Naila!

“Huh, sok tahu. Kalau namaku jelek bagaimana? Kau akan menilai aku jelek, sejelek namaku?”

“Mana mungkin orangtuamu memberi nama yang jelek kepada anaknya yang secantik kamu.”

Naila masih berusaha bertahan untuk tidak tersenyum, sebelum akhirnya pertahanannya bungkas. Untunglah orang muda itu sedang melihat tidak ke arahnya, tapi ke arah pintu masuk.

Trem melambat pada sebuah halte, berhenti sebentar, lalu bergerak normal lagi setelah beberapa penumpang naik, beberapa pegawai kantor, pedagang pisang dengan keranjang yang sudah kosong, seorang anak indo-Belanda, pengasuhnya, dan Nyai, ibu si anak indo itu, serta dua orang patroli polisi khusus. Politie Inlichtingen Dienst. PID!

“Dik, tolong. Jangan lihat ke sana. Itu ada polisi dua orang. Tolong saya, jika nanti mereka bertanya berpura-puralah sebagai adikku…”

Tentu saja Naila menolak. “Ah, apa-apaan…!”

“Baiklah, terima kasih…” orang muda itu lekas berdiri. “Eh, ngomong-ngomong, namaku Adnan Manik. Kau boleh mengingatnya. Adnan. Manik. Kita jumpa lagi nanti. Pasti jumpa lagi. Saya yakin namamu secantik wajahmu. Karena aku belum tahu namamu, maka saya akan mengingat kecantikan wajahmu…..”

Orang muda itu bergerak gesit, segesit ketika ia melompat ke dalam trem. Ia dengan cepat menelurusi lorong gerbong trem. Naila melihatnya melompat turun, ketika dua orang polisi tadi tiba-tiba saja sudah berdiri di depannya.

“Siapa orang itu?”

“Saya tidak tahu, Tuan!”

“Kenapa dia tiba-tiba pergi?”

“Saya tidak tahu, Tuan!”

“Tadi kami lihat Nona bicara dengan dia.”

“Dia menggoda saya. Mengajak berkenalan.”

“Oh, jadi Nona tahu siapa nama dia?”

Naila terdiam dalam menimbang apakah ia kasih tahu nama lelaki itu, tapi jangan-jangan itu bukan namanya juga…. “Tidak. Saya tidak tahu.”

“Benar?”

“Sungguh, Tuan…”

“Baiklah. Awas, kalau sampai kami tahu Nona berbohong. Nona, mesti hati-hati. Banyak orang pergerakan berbahaya musti kami tangkap.”

“Tuan mau tangkap saya? Tangkap saja! Tapi lapor dan minta izin dulu pada ayahku…”
Setelah memberikan sebuah selebaran, polisi itu berlalu. Dan Naila, tiba-tiba dipenuhi semacam perasaan puas, entah datang dan menyelinap dari mana, karena telah menyelematkan orang muda, eh, tadi siapa namanya? Adnan? Adnan Manik? Ia mengamati selebaran dari polisi tadi, foto besar wajah lelaki muda – yang bukan Adnan, tapi ganteng juga, mirip Clark Gable – dan tulisan DICARI! ORANG BERBAHAYA: SOETRISNO, BERHADIAH f100!

(bersambung)

Advertisement
loading...