LIMA kedai kopi yang tersebar di kawasan kota itu berturut-turut telah disepakati sebagai stasiun pertemuan 1 hingga 5. Pertemuan mingguan dikabarkan lewat pesan dengan jumlah kancing di kotak pos di alamat mereka masing-masing. Apabila ada tiga kancing, artinya pertemuan diadakan di kedai kopi nomor 3. Jam pertemuannya disepakati pada pertemuan sebelumnya.

Iklan

Adnan mengetahui juga kode itu.

Ia beberapa kali diminta pamannya untuk memasukkan kancing ke kotak pos di beberapa alamat. Ia harus melakukan tugas itu lepas tengah malam, untuk mengurangi kemungkinan diketahui oleh intel PID. Ia tahu itu adalah alamat-alamat para pengurus partai yang sudah dilarang dan dibubarkan oleh penguasa kolonial, tetapi seperti pamannya, mereka tak berhenti bergerak. Malam itu, Adnan harus memasukkan lagi kancing ke dua alamat yang ia sudah tahu sebelumnya, dan sebuah alamat baru.

Masing-masing dua kancing.

Akan ada pertemuan di stasiun nomor 2.

_|_

Kedai Kopi Tak Kie, di Kawasan Glodok, tepatnya di Jalan Pintu Besar Selatan, pagi itu sedang ramai. Di sana memang selalu ramai. Adnan duduk di meja paling belakang, dan menyukai aroma kopi bubuk dan uap kopi yang meruap dari wilayah penyeduhan. Ia teringat pada aroma kopi bubuk di tokonya dulu di Pematang Padang. Oh, berapa tahun sudah kota itu aku tinggalkan?

Kopi susunya yang hangat baru ia nikmati dalam dua-tiga sesapan. Ia menunggu seseorang dari Medan yang dalam surat ayahnya yang datang minggu lalu ia diminta untuk menemuinya. Orang itu disebutkan sebagai anak sahabat ayahnya hendak mulai memperluas perdagangannya ke Batavia.

Adnan dengan cermat mengawasi orang-orang yang datang dan pergi. Ia menebak-nebak saja, sebab ia tak tahu raut wajah orang yang hendak menemuinya itu. Ia membawa surat yang ia terima dari ayahnya. Di surat itu, surat yang ia selipkan di buku catatan kecilnya, ayahnya bilang bahwa foto Adnan telah diberikan pada orang itu agar ia mudah mengenalinya.

Di tengah keasyikan mengamati itu, Adnan justru melihat gadis yang ia ajak berkenalan di trem beberapa waktu lalu. Ia yakin sekali itu adalah dia, tak mungkin dia bisa lupakan wajah cantik itu. Rambutnya kini ditata dengan sederhana, rambut yang panjang, yang terhimpun rapi pada satu ikatan.

Tapi siapa yang bersamanya?

Lelaki tua tegap dengan gaya angkuh seorang ambtenaar atau inspektur polisi itu apakah ayahnya? Mungkin, keduanya ada kemiripan, putih pada kulit, dan bulat telur pada potongan wajah. Wajah seorang priyayi. Dan lelaki muda itu? Dia sama sekali tak mirip dengan si ambtenaar angkuh. Lelaki yang dijodohkan dengan si cantik? Si cantik itu tampak kikuk pada si lelaki. Seperti belum terlalu kenal, dan saling menjaga jarak. Adnan menertawakan dirinya sendiri. Apa urusannya jika gadis itu memang hendak dinikahkan dengan siapapun? Nama si gadis cantik itu pun dia belum tahu.

Si gadis tampak terkejut ketika ia menemukan Adnan dari mejanya mengamatinya. Adnan tersenyum, entah untuk apa, tapi jelas itu senyum untuk si gadis. Si gadis lekas-lekas menunduk.

Si lelaki muda mengikuti arah pandang si cantik. Ia menemukan Adnan, lalu mengeluarkan foto dari saku bajunya. Ia lantas berdiri menuju ke meja di mana Adnan menunggu.

“Adnan? Aku Djamal…” Ia tunjukkan foto Adnan.

“Ya, oh, rupanya kamu orangnya. Maaf, aku tak mengenalimu, ayahku tak menyertakan gambarmu di suratnya.”

“Ah, tak apa. Yang penting kita sudah bertemu toh. Oh ya mari, kukenalkan…”

Djamal membawa Adnan ke meja di mana dia, si gadis, dan ambtenaar tadi duduk. Ia memperkenalkan Adnan sebagai pedagang muda yang sukses di Batavia yang berasal dari kota yang sama dengannya.

“Oh, pedagang? Apakah sekarang pedagang juga dicari-cari sama polisi?”

Si ambtenaar menatap pada Djamal lalu keduanya menoleh pada Adnan.

“Oh, ini orang yang ketemu kamu di trem?” tanya si ambtenaar kepada Naila. “Kenapa kau lari menghindari patroli polisi waktu itu?” kali ini pertanyaan diarahkan kepada Adnan.

“Ah, cuma salah paham…”

“Kau ikut pergerakan? Seperti anak-anak muda itu juga?”

“Saya cuma pedagang. Berjualan batik, kain, tembakau. Yah, dagang apa saja. Kadang mengumpulkan hasil bumi lainnya juga…”

“Ya. Jangan ikut-ikut. Kalau berdagang, berdagang saja. Itu lebih baik. Berhubungan dengan orang-orang pergerakan itupun kalau bisa hindari. Cuma bikin repot kita…. Kita sedang bikin razia dan penangkapan besar-besaran. Orang-orang pergerakan itu mau dibersihkan semua,” ujar si ambtenaar seperti memberi nasihat atau peringatan, bukan kepada Adnan, tapi kepada Djamal.

Perkenalan dan pertemuan yang tidak nyaman.

Tapi setidaknya bagi Adnan, kini ia tahu gadis itu bernama Naila. Naila Bratanata. Nama belakang Naila adalah nama si ambtenaar, ayahnya. Begitupun sebaliknya bagi Naila, setidaknya ia tahu juga, Adnan tidak berbohong soal nama ketika ia memberitahukannya dalam pertemuan buru-buru di trem waktu itu.

Adnan dengan lekas bisa menilai siapa si ambtenaar. Jelas, dia tidak berada di pihak orang-orang pergerakan. Naila kemudian lebih banyak diam. Ia seperti menyesal tadi bicara soal Adnan yang dicari polisi yang membawa pembicaraan mereka menjadikan Adnan seakan terpojok.

“Sukarno sudah ditangkap. Partai Nasional-nya kena verbond. Tak boleh bikin kegiatan politik kecuali kegiatan sosial dan ekonomi. Tapi, orang-orang bodoh dan keras kepala itu mana bisa tak berpolitik? Saya kira bagus sekali ketika Mr. Martono umumkan pembubaran sendiri partai itu. Itu seluruh pengurus Partai Nasional harusnya juga ditangkap dan dibuang. Dengar-dengar mereka diam-diam sudah bikin partai lagi. Parindo? Apa itu namanya?”

“Mungkin…” Adnan tak lagi menyimak ocehan si ambtenaar.

Perhatian Adnan tersita oleh sosok lelaki berpiyama lusuh, dan bertopi seperti pedagang Cina, dan berjalan dengan langkah yang janggal, seperti berpura-pura pincang. Kepura-puraan dan penyamaran yang tak bisa menyembunyikan sosok yang sebenarnya: itu adalah pamannya.

Apakah Kedai Kopi Tak Kie ini yang dimaksud sebagai stasiun 2?

Berarti akan ada pertemuan di sini?

Adnan menanti dengan cemas. Pamannya duduk di meja paling depan tapi merapat ke dinding kiri, sehingga dengan leluasa ia bisa mengawasi semua kendaraan yang datang dari arah kanan kedai. Tak sampai sepuluh menit, seorang lelaki datang, bergabung di meja pamannya. Ia juga tampak seperti seorang pedagang yang lusuh dan bertopi lebar untuk menutupi wajah. Adnan tak bisa melihat dengan jelas wajahnya. Lalu beberapa menit kemudian seorang lagi menyusul. Harusnya, ada seorang lagi yang datang, mengingat ia semalam mengirim pesan kancing ke tiga alamat.

Kemudian ada sebuah mobil berhenti di depan kedai.

Adnan memperhatikan seseorang turun dan melihat dan melambai ke arah tiga orang yang sudah duduk di meja. Orang ketiga sudah datang. Jika sesekali menginap di rumah pamannya, Adnan kerap melihat sekilas tamu-tamu yang datang pada jam yang janggal untuk bertemu sebagai kolega dagang. Adnan mencoba mengingat, tiga orang itu, rasanya sekilas-sekilas pernah ia lihat. Tiga orang itu, tamu-tamu tengah malam di kantor dagang pamannya.

Belum lagi sempurna duduk si orang ketiga tadi, tiba-tiba beberapa mobil patroli polisi serentak datang dan berhenti, berlompatan menyerbu ke dalam kedai, mengepung meja di mana paman Adnan dan tiga orang temannya tadi berkumpul. Adnan melihat pamannya sempat berusaha untuk lari tapi kepungan itu terlalu rapat. Pamannya terhempas oleh poporan gagang senjata di perutnya.

Ada yang membocorkan tempat dan waktu pertemuan itu, pikir Adnan.

Adnan sempat tergerak untuk menolong pamannya, tapi tarikan lain lebih kuat mengikuti nalurinya untuk menyelamatkan diri. Ia melompat tanpa pamit ke arah dapur kedai kopi diikuti makian dan teriakan dalam bahasa Mandarin yang tak ia mengerti.

Dari pintu belakang ia lantas menghilang di antara rumah-rumah penduduk. Ia sempat melihat Naila yang terkejut dan panik, dan si ambtenaar berseru kepada polisi sambil menunjuk dia yang lari ke arah dapur.

(bersambung)