Lewat tengah malam.

Malam Jakarta yang hujan.

Ashadi belum tidur. Ia sedang mengetik sebuah naskah untuk surat kabar “Pemberitaan”. Ia kuatir, suara mesin ketiknya mengganggu Ratih, istrinya, yang sudah nyenyak tertidur.

Tiba-tiba saja pintu rumah kecil itu digedor!

Ashadi membuka pintu. Seseorang yang ia kenal sebagai informan dan beberapa anggota PID lainnya telah berdiri di sana. Ashadi tak terlalu terkejut. Siang tadi, ia mendengar kabar bahwa sejumlah wartawan, dan aktivis pejuang ditangkap PID, juga penangkapan di Kedai Kopi Tak Kie. Ia dengar Adnan Manik, tanpa disengaja, ada di kedai itu tapi berhasil lolos.

“Apa maksud Tuan datang malam-malam begini?”

“Mencari orang yang mungkin sembunyi di sini. Boleh kami periksa?”

“Silakan.”

Polisi PID itu lalu memeriksa kolong tempat tidur, dapur, kamar mandi, dan tak menemukan siapa-siapa, karena memang tak ada yang bersembunyi di rumah itu. Ratih terbangun

“Siapa yang Tuan cari?”

“Besok tentu Tuan akan tahu siapa yang kami cari.”

Ashadi menebak, yang dicari pastilah Adnan. Dan dia cemas. Ini bukan penangkapan yang pertama. Dua tahun sebelumnya, pemerintah kolonial juga menangkapi para aktivis pejuang, juga mereka yang berjuang lewat tulisan. Ashadi termasuk salah seorang yang waktu itu juga ditangkap.

Siang tadi, kawan-kawannya di kantor pun mencemaskan itu.

“Saudara-saudara tak usah kuatir. Saya tidak akan ditangkap…” kata Ashadi kepada kawan-kawannya. Tapi kini, justru dia yang dihinggapi kecemasan.

Ratih sejak tadi telah terbangun. Ia duduk di tepi ranjang. Tapi sedikitpun ia tak tampak cemas atau takut. Ashadi mendekati dan memeluknya.

Mungkin itu untuk memenangkan dirinya sendiri.

Juga sebagai permintaan maaf.

_|_

Lewat pukul satu, keesokan harinya, inspektur polisi Bratanata datang ke kantor “Pemberitaan” untuk menangkap Ashadi. Apa yang ia cemaskan sejak tadi malam terjadi juga. Ia berusaha tegar ketika berpamitan dengan kawan-kawan sekantor. Ia dinaikkan ke mobil polisi dan diberi kesempatan untuk singgah ke rumahnya.

Ratih baru saja pulang dari sekolah.

“Saya akan diperiksa. Mungkin akan ditahan beberapa hari,” kata Ashadi kepada istrinya. “Temui Mr. Soerachman atau Mr. Martono, kabarkan bahwa saya ditangkap, mintalah dia berusaha supaya saya dilepaskan.”

Ratih dengan tenang menyiapkan apa yang kira-kira diperlukan oleh suaminya dalam tahanan. Sabun, sikat gigi, dan beberapa pakaian.

“Tak usah terlalu sedih…,” kata Ashadi.

Ashadi lalu mencium dahi istrinya.

“Mas, saya sepertinya mulai hamil…” kata Ratih, lalu seperti menyesal mengucapkan itu. Ia takut kabar itu menambah beban dalam hati suaminya.

Ashadi masih sempat melihat istrinya, ketika mobil mulai bergerak.

Ashadi mengira ia akan dibawa ke kantor pusat PID. Ternyata mobil membawanya ke sebuah gedung di depan Stasiun Gambir, sebuah tempat yang ia tahu sebelumnya dipakai sebagai gudang. Ia digeledah. Kertas dan alat tulis disita. Uang? Tak boleh lebih dari 10 gulden. Setelah memastikan tak ada barang terlarang dan barang berbahaya lainnya pada orang yang baru ditahan itu petugas membawa dia masuk.

“Jangan coba lari, kalau kepala Tuan tidak mau ditembus pelor!”

Di dalam ruangan telah ada dua pedagang nasionalis yang namanya cukup dikenal di kalangan aktivis pejuang, juga seorang dokter yang juga terkenal berani melawan penguasa. Hari itu, semakin petang, semakin banyak tahahan. Hampir tiap jam ada orang tangkapan baru. Pemerintah sedang melakukan penangkapan massal lagi.

Dan tak lama kemudian muncul juga Adnan Manik!

Di mata Ashadi kawannya itu terlihat aneh! Ia terlihat gembira dan matanya tampak bersinar. Sama sekali tak tampak ketakutan.

“Hei, dari mana saja kau? Kudengar kau ada di kedai kopi itu ketika beberapa orang pejuang ditangkap di sana? Bagaimana kau bisa lolos?”

“Aku lari lewat pintu belakang kedai itu,” jawab Adnan, sambil tertawa.

“PID mencarimu ke rumahku, tengah malam kemarin.”

“Bodoh sekali pegawai PID itu. Mencari saya ke rumah orang lain bukan ke tempat tinggal saya,” kata Adnan, dengan senyum masih tersisa.

“Lalu kenapa kau ada di sini?”

“Saya langsung datang ke kantor pusat mereka, dari sana terus dibawa ke sini. Saya menyerahkan diri supaya orang-orang yang kenal dengan saya tak mereka datangi,” kata Adnan, tapi sebenarnya bukan itu alasan Adnan menyerahkan diri.

Adnan mengenali pedagang pejuang yang juga ditangkap hari itu. Ia menyapa dan menyalaminya. Si pedagang pejuang menasihati mereka dengan filsafat dan pandangan hidup yang menyentuh perasaan. Menenangkan.

“Saudagar besar yang biasa menghitung uang hasil dagang itu ternyata seorang yang mendalami filsafat juga ternyata,” kata Adnan.

Berpaling kepada Adnan, si pedagang pejuang berkata, “Siapa tahu, justru karena percobaan ini tuan nanti akan menjadi orang besar. Kantor Kabar Perantara yang masih kecil dan tak dianggap orang itu akan menjadi kantor kabar yang bercabang di segala tempat di seluruh dunia dan kalau tuan melancong ke luar negeri lain setiap jongos di hotel tempat tuan menginap akan berbisik kepada temannya: Lihat, itu Tuan Adnan Manik, direktur Perantara.”

Adnan membayangkan Hatta, Sjahrir, Sukarno, dr. Tjipto, Mr. Iwa, yang masih dalam pembuangan. Adnan merenung-renung juga apa nasib pamannya dan aktivis pejuang yang setelah penangkapan beberapa waktu lalu segera dibuang ke Digul…

Dan kami ini, hendak dibuang kemana? Seakan membaca pikiran Adnan, Ashadi menanyakan itu kepada inspektur Bratanata yang tadi menangkapnya dan kini ikut sibuk mengawasi mereka.

“Saya tidak tahu. Kami hanya diperintahkan menjaga Tuan-Tuan supaya jangan lari!” Dan inspektur polisi itu terkejut ketika Adnan mendekatinya dan menyapa dengan penuh percaya diri. Ia tak menyadari bahwa Adnan ada di antara mereka yang ditangkapi hari itu.

“Selamat siang, Tuan Inspektur Bratanata! Apa kabar Naila?”

 

(bersambung)

Advertisement
loading...