ilustrasi

batampos.co.id – Delapan tahun terakhir terjadi perubahan signifikan dalam dunia media.

Euforia media sosial (medsos) menggempur eksistensi media mainstream (media arus utama). Itu satu fakta.

Namun belakangan ini kepercayaan publik terhadap media mainstream kembali menguat.

“Malah lebih unggul daripada media sosial,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, Rabu (14/2), di Medan.

Menurut Rudiantara, fenomena menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap media sosial bisa menjadi momentum bagi pelaku bisnis media mainstream.

Pernyataan itu diperkuat hasil riset Edelman Trust Barometer Global Report 2018.

“Di Indonesia, penurunan kepercayaan masyarakat terhadap media sosial sekitar 5 persen. Sebaliknya ada peningkatan kepercayaan masyarakat kepada media massa mainstream sekitar 5 persen,” demikian Rudiantara dalam pidatonya.

Medsos, kata dia, dikenal dengan kecepatan informasinya, namun justru sering mengabaikan ketepatan dan akurasi.

Karena banyak berita bohong dan mengacaukan warga, kebanyakan (pembaca) mulai jenuh dan menghindari informasi di medsos karena tak layak dipercaya.

Berbanding terbalik dengan media mainstream yang telah melalui proses editing di redaksi dengan menerapkan standar jurnalistik.

Rudiantara menyebutkan, pengguna smartphone di Indonesia mengalami peningkatan, mencapai sekitar 132 juta orang. Diperkirakan angka ini akan naik hingga 140 juta atau 150 juta pada tahun 2018 ini. Data ini sekaligus mengingatkan media mainstream agar mengikuti perkembangan teknologi digital.

“Saya mengingatkan agar tidak ikut-ikutan bermain di medsos, sebaiknya lebih mengembangkan media berbasis online, selain media cetak,” lanjut Rudiantara.

General Manager Batam Pos, Guntur Marchista Sunan menambahkan, berdasarkan data terbaru dari lembaga survei Nielsen Media Research, dugaan bahwa akan terjadi saling bunuh antara media digital dengan media konvensional, ternyata tidak terjadi sampai saat ini.

“Migrasi ke online dan medsos itu mitos. Sebab tidak benar-benar pindah. Meski waktu yang dihabiskan orang di online atau digital kian meningkat. Tapi durasi mengonsumsi media konvensional, termasuk koran, ternyata tidak menyusut signifikan dalam tiga tahun terakhir,” katanya.

Justru, kata dia, optimasi reach atau jangkauan media dan efektivitas beriklan dapat ditingkatkan dengan mengawinkan media konvensional dengan platfom digital yang membidik pasar highly-fragmented.

“Untuk itulah, dalam rangka memenuhi keinginan mitra dan relasi iklan, Batam Pos mengawinkan koran dengan online. Selain menyajikan berita versi cetak, juga mengoperasikan batampos.co.id dan medsos, baik itu lewat facebook, twitter, maupun instagran. Hasilnya, koran Batam Pos menjadi media paling banyak dibaca dan terpopuler di Kepri. Sedangkan batampos.co.id menjadi media online terbesar dengan traffic tertinggi di Kepri,” tegasnya.

Kendati demikian, kata dia, Batam Pos masih menjadikan koran sebagai bisnis utama. Itu tidak terlepas pula dari hasil survei Nielsen yang menyatakan bahwa penetrasi koran di Kepri, khususnya Batam masih tinggi. Tepatnya di angka 35 persen. Sehingga berbagai pembenahan terus dilakukan.

“Setelah sukses dengan rubrik Zetizen yang mengakomodir pembaca muda atau Generasi Z, kami terus berupaya berkreasi dengan melahirkan rubrik baru. Awal Februari 2018 kami meluncurkan rubrik Politika untuk mengakomodir pesta demokrasi. Insya Allah awal Maret kami akan meluncurkan kembali rubrik baru untuk mengakomodir pengguna online maupun medsos,” jelasnya.

Lalu, bagaimana dengan peran batampos.co.id? Dia menjelaskan, media online maupun medsos yang dikelola Batam Pos memiliki posisi sebagai supporting. “Media online dan medsos kami akan menjadi pendamping koran. Sehingga bisa merangkul semuanya. Bahkan, kami juga menawarkan paket beriklan di koran plus online kepada relasi dan mitra,” imbuhnya. (mgn/ryh)

Respon Anda?

komentar