batampos.co.id – Permasalahan angkutan sewa khusus (taxi online/taxol) masih menjadi polemik di Kota Batam. Sejak pertama kali hadir di Batam, perselisihan antar angkutan konvensional dan taxol ini kian memanas. Namun begitu, sejumlah wanita justru memilih untuk tetap menggantungkan nasib dengan menjadi driver online.

Usia tidak menjadi halangan bagi seorang single parent beranak tiga ini. Adalah Susy Safitri yang kini menjalani usia 48 tahun. Statusnya sebagai orang tua tunggal melekat sejak 2015 silam. Sejak saat itu, ia dituntut berjuang keras mengais rezeki demi putra-putrinya.

“Anak tiga, dua kuliah di Jogja, dan si bungsu masih sekolah di Batam. Biaya yang dibutuhkan bukan sedikit. Sementara saya sudah berumur. Mau cari kerja dimana?,” ujar Susy, dengan logat khas Jawa-nya.

Wanita kelahiran Lumajang, Jatim itu menceritakan, semasa almarhum suaminya ada, profesinya tak lebih dari seorang ibu rumah tangga. Namun, sejatinya ia adalah seorang wanita yang supel, dan juga aktif mengikuti perkembangan zaman.

“Bermodal mobil sedan milik suami, saya freelance jadi supir travel ticketing. Jadi antar-jemput penumpang ke bandara atau pelabuhan. Kan 2015 taxol belum masuk ke Batam,” terangnya.

Lain dari itu, kendaraan miliknya terkadang disewakan. Tapi pekerjaan tersebutmasih menjadi keadaan sulit untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Tak jarang, keluarga pun menjadi penopang. “Berat lah, sempat putus asa,” tutur Susy.

Hingga Mei 2017, angin surga baginya itu datang dengan masuknya aplikasi angkutan sewa khusus yang pertama di Batam, yakni WakJek. Bergegas mendaftarkan diri menjadi driver taxol, lagi-lagi rintangan itu datang. Kendaraan sedan jelas tidak masuk dalam kendaraan angkutan khusus itu.

“Kembali mutar otak lagi gimana harus ganti kendaraan. Karena saya yakin, dengan taxol ini bisa membantu saya,” ucapnya.

Singkat cerita, Susy akhirnya mampu mengganti kendaraannya dengan mobil SUV sebagaimana kendaraan yang memenuhi persyaratan taxol. Sekira Agustus 2017 ia resmi menjadi driver Wak-Car. Sistem bagi hasil dan bonus pencapaian target nyatanya sangat membantu.

Susy Safitri seorang driver taksi Online Batam saat menunggu orderan penumpang dikawasan Batamcenter, Jumat (23/2). F Cecep Mulyana/Batam Pos

“Di satu sisi saya juga gigih mencari penumpang dari pagi hingga malam,” lanjutnya.

Namun lagi-lagi masalah kembali muncul terkait larangan online, hingga akhirnya aplikasi WakJek tak lagi beroperasi. Lepas dari WakJek, Susy beralih ke aplikasi lain yang masih bertahan hingga kini, yakni menjadi driver GoCar. “Maju terus karena disitu ladang rezeki saya saat ini,” ungkapnya.

Meski belum mendapat dukungan dari pemerintah setempat, profesinya kini tetap ditekuni walaupun ketakutan tetap menghantuinya. “Saya ibu-ibu, sudah tidak kuat lagi membela diri. Dibentak saja gemetaran juga apalagi sampai mobil dikandangi (ditahan Dishub),” kata wanita berhijab itu.

Mengakali risiko tersebut, ia memilih untuk menghindari zona merah bagi taxol. Bahkan yang berdekatan dengan kawasan zona merah itu, Susy masih enggan mengambil penumpang. “Kadang si-user nya kan masih diikuti juga. Saya ketimbang cari masalah, bagus hindari masalah,” sebutnya.

Hampir setahun menjadi driver wanita Go-Car yang hanya sepersekian persen dari 1.500 driver yang ada, Susy mengaku tak gentar menghadapi keadaan dalam pekerjaannya hingga masa naik daunnya taxol menghilang dengan sendirinya. “Harapan saya hanya kepada Pilkada nanti, karena membutuhkan pemimpin yang betul-betul melek IT,” tutur Susy.

Menurutnya, Pemko Batam terkesan lamban mencari jalan tengah dalam permasalahan ini, karena berkaca dari daerah lain yang kini sudah mulai melegalkan taxol. “Tidak bisa dipungkiri basis online sudah jadi kebutuhan masyarakat. Semua tahu, taxol adalah salah satu dari sekian banyak kemudahan yang telah berkembang itu. Saya sangat berharap, pemerintah ke depan bisa memberi solusi baik untuk taxol maupun konvensional agar polemik ini terhentikan,” tutupnya. (FEBBY ANGGIETA PRATIWI)

Advertisement
loading...