Lahan yang berada di Galang masih tampak kosong. | Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Wakil Ketua Kadin Indonesia Jhon Kennedy aritonang meminta BP Batam untuk segera menyelesaikan masalah Rempang-Galang. Lahan tersebut menjadi satu-satunya daerah untuk pengembangan investasi di Batam. Termasuk untuk menampung relokasi perusahaan dari luar Batam.

Ia mengatakan saat ini sudah ada beberapa perusahaan besar yang sudah mengatakan niatnya untuk pindah ke Kepri. Di mana dibutuhkan lahan yang luas untuk menampung. Dipastikan di kawasan industri kurang mendukung.

“Kalau untuk industri manufaktur yang sedang mungkin bisa di kawasan industri. Tetapi bagaimana dengan perusahaan besar, misalnya perusahaan baja. Mereka butuh lahan yang luas dan ketahanan listrik dan air yang handal,” katanya.

Menurutnya BP Batam perlu berbenah terutama untuk mencari terobosan mengenai tata ruang. Ini pentingm agar lahan-lahan yang masuk mungkin digunakan untuk pembangunan kawasan industri bisa dibangun.”Rempang-Galang itu sudah terlalu lama tak difungsikan. Dan menurut saya belum kelihatan gerakan BP Batam di Rempang-Galang,” katanya.

Pemilik Panbil Group itu juga meminta semua pihak untuk menyiapkan infrastruktur pendukung. Yang paling penting adalah kehandalan listrik dan air. “Misalnya industri baja itu, butuh air banyak. Ini harus disiapkan,” katanya.

Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri Tjaw Hoeing mengatakan, saat ini masih ada tersisa tanah di kawasan industri yang bisa digunakan untuk bangun pabrik baru. Tetapi ada juga kebijakan di kawasan industri yang sudah punya standar bangunan pabrik.

“Kalau saya bilang kalau untuk investor asing, lahan di kawasan industri masih memadai. Dan kita siap untuk menampung mereka,” katanya.

Sementara itu, ketua Kadin Batam Jadi Rajagukguk mengatakan bahwa saat ini pemerintah harus menyiapkan lahan untuk menerima relokasi perusahaan dari negara lain. Meski menurutnya, kawasan industri memang masih ada beberapa perusahaan yang masih kosong.

“Tapi biasanya untuk kawasan industri, hanyalah perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur, tekstil dan bidang lainnya. Kalau yang lainnya, seperti industri berskala besar seperti perusahaan baja dan juga migas, pasti butuh lahan yang sangat besar. Memang pilihannya hanya di sekitar Rempang-Galang,” katanya.

Menurutnya, BP Batam dan pihak terkait harus mempermudah masuknya investasi asing ke Batam. Misalnya menyiapkan pelabuhan untuk investor. Termasuk untuk memberikan kemudahan dalam pelayanan perizinan.

“Kita berharap akan semakin banyak industri yang masuk ke Batam. Kalau bisa yang padat karya sehingga jumlah pengangguran di Batam bisa teratasi. Tentunya perekonomian di Batam membaik,” katanya. (ian)

Respon Anda?

komentar