ilustrasi

batampos.co.id – Pemerintah provinsi Kepri mengakui penyerapan tenaga kerja lulusan SMK masih minim di Kepri. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri Arifin Nasir menyebutkan hanya sebagian kecil saja tamatan SMK yang langsung diserap sebagai tenaga kerja.

“Ini persoalan secara nasional tak terkecuali di sini. Baru sebagian kecil (siswa SMK) yang langsung diserap (sebagai tenaga kerja),” ujar Arifin saat dijumpai di SMAN 19 Batam di Sagulung.

Akibatnya tamatan SMK menjadi penyumbang terbesar bagi angka pengangguran di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pusat diakhir tahun 2017 lalu tamatan SMK yang menyumbang angka pengangguran sebanyak 11,41 persen dari total 7,04 juta pengangguran yang ada.

“Untuk Kepri sendiri saya rasa tak jauh beda. Data realnya lupa saya. Cuman itu tadi penyerapan memang masih sangat sedikit,” kata Arifin.

Minimnya penyerapan tenaga kerja dari tamatan SMK itu diakui Arifin ada berbagai macam faktor seperti minim lapangan pekerjaan, kompetensi siswa yang kurang memadai hingga persoalan sosial lainnya.

“Tapi tidak semuanya karena ada persoalan, ada juga siswa (SMK) yang lanjut ke jenjang kuliah jadi tetap tercatat sebagai tamatan SMK yang belum bekerja,” tuturnya.

Upaya Pemprov Kepri untuk menekan persoalan itu diakui Arifin sudah diterapkan selama setahun belakangan. Seiring dengan munculnya Instruksi Presiden (Inpres) Joko Widodo nomor 9 Tahun 2016 tentang revitalisasi SMK, Disdik Kepri terus menggodok mutu pendidikan SMK di Kepri agar nantinya langsung diserap sebagai tenaga kerja.

“Salah satunya adalah membuka kelas industri di SMK. Kelas industri ini gandeng kerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang ada dengan harapan nanti tamat anak-anak kita ini bisa bekerja di perusahaan tersebut karena mereka memiliki komptensi yang sesuai dengan kebutuhan industri tersebut,” jelas Arifin.

Untuk SMK di Kepri yang sudah membuka kelas industri diakui Arifin sudah cukup banyak. “Masih fokus di Batam. Di Batam mulai SMKN 1 sampai SMKN 7 sudah terapkan itu. Total ada 250 perusahaan yang sudah bekerja sama mewujudkan program revitalisasi SMK ini,” tuturnya.

Bahkan beberapa perusahaan dari provinsi dan negara lain seperti Malaysia dan Thailand juga sudah diterapkan di sejumlah SMK di kota Batam. SMKN I Batam misalkan telah membuka teknik Mekatronika Thailanda, Teknik Mekatronika Kosen Jepang dan lain sebagainya.

Program revitalisasi SMK dengan melibatkan pihak perusahaan itu diakui Arifin sudah mulai menunjukan hasil yang baik. Sebanyak 40 siswa SMKN 6 Batam misalkan yang saat ini bekerja di PT Citra Tubindo sudah bisa menyumbang penghasilan 100 juta dollar US.

“Sudah setahun ini kita proaktif menjalankan inpres itu. Alhamdulillah mulai menunjukan hasil. Anak-anak kita dari SMKN 6 di Citra Tubindo sudah menyumbang 100 juta Dolla US sekarang,” tuturnya.

Keberhasilan itu diakui Arifin menjadi landasan kuat Pemprov Kepri ke depannya untuk tetap menjalankan program yang dicanangan Presiden Joko Widodo itu.

“Kalau dari Pemprov otomatis harus (dukung). Saya bahkan sudah diskusi dengan bapak Gubernur (Kepri Nurdin Basirun). Tujuh proyek strategis (pemerintah) yang akan segera dilaksanakan di Kepri harus melibatkan tamatan SMK di Kepri. Pak Gubernur sangat setuju,” tuturnya.

Dengan adanya berbagai program yang mendukung program revitalisasi SMK itu, Arifin optimis kedepannya penyerapan tenaga kerja SMK akan semakin bagus. “Semua perusahaan di Kepri akan diupayakan terlibat mendukung program ini. Dengan begini kita optimis penyerapan tenaga kerja tamatan SMK akan berjalan dengan baik ke depannya,” ujar Arifin. (eja)

Respon Anda?

komentar