Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo telah merestui tujuh proyek strategis di Kepulauan Riau (Kepri). Semuanya boleh dibilang proyek prestisius.

Ada tujuh megaproyek yang disetujui pria yang karib disapa Jokowi itu. Yaitu, pembangunan jembatan Batam Bintan, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjungsauh, KEK Galang Batang, KEK Pulau Asam, pengembangan pelabuhan Batuampar, pengembangan dan modernisasi bandara Hang Nadim, dan Pembangunan Batam Light Rapid Transit (LRT).

Akankah proyek-proyek prestisius itu bakal terwujud?

Ataukah hanya sekadar lip service jelang tahun politik?

Entahlah. Yang pasti ada pro dan kontra. Meskipun banyak yang pro alias mendukung. Hehehe.

Asal tidak dipolitisir, saya sih setuju saja. Toh, semuanya demi kemajuan Kepri.
Perdebatan soal apa motif di balik menggesa tujuh proyek strategis itu memang terus bermunculan. Terlepas dari itu, mari berpikiran positif.

Menurut “penerawangan” saya, jika ketujuh proyek strategis itu benar-benar terealisasi, bisa jadi Kepri akan semakin maju. Tak hanya dari segi ekonomi, melainkan dari berbagai sektor. Mulai dari tenaga kerja, transportasi, dan sektor lainnya.

Contohnya saja jembatan Batam-Bintan. Beberapa tahun lalu, saat saya masih tinggal di Kaltim, sempat mendengar kabar pembangunan jembatan itu. Tapi seiring berjalannya waktu, kabar itu hilang ditelan angin.

Baru-baru ini, kabar jembatan itu mencuat lagi. Mulai ramai jadi perbincangan.
Apa sih untungnya jembatan itu?

Ya, salah satu kendala yang dihadapi Kepri adalah kawasan kepulauan. Kepri terdiri dari banyak pulau. Berbeda dengan Kalimantan, Jawa, atau Sumatera, akses transportasi di Kepri lebih banyak menggunakan moda transportasi air.

Tak hanya itu, pertumbuhan ekonomi Kepri sebagian besar terpusat di Batam. Kota paling maju di provinsi ini. Sedangkan kabupaten/kota lainnya bisa dibilang hanya sebagai “pelengkap” saja.

Nah kalau jembatan itu terbangun, praktis akan menghubungkan dua pulau besar. Tiga daerah utama akan terkoneksi: Batam-Bintang-Tanjung Pinang. Nama terakhir merupakan ibu kota Kepri. Sehingga, kesenjangan antara satu daerah dengan lainnya bisa diminimalisir.

Tak hanya jembatan Batam-Bintan, megaproyek lainnya juga diprediksi akan membuat Kepri semakin berkembang. Bahkan, bisa menjadi salah satu kekuatan ekonomi nasional. Mengingat posisi Kepri yang strategis, berada di jalur internasional. Juga berbatasan dengan negara-negara lainnya di Asia Tenggara.

Kabarnya, beberapa investor kelas dunia siap bergabung. Ada yang dari Tiongkok, Amerika, hingga Eropa. Investasinya pun tidak main-main. Sekitar 30 miliar dolar Amerika. Menurut team leader Percepatan Investasi dan Pembangunan Strategis Kepri, Hadi Pranoto sejumlah proyek bisa mulai dikerjakan pada April ini.

Saat ini, tinggal membahas sekema dan mekanisme.

Dia mencontohkan KEK Tanjung Sauh yang dipastikan akan memicu aktivitas perindustrian. Juga ikut menopang pariwisata. Yang pasti semua optimistis jika proyek-proyek prestisius itu akan terwujud.

Sampai-sampai, April bulan depan, diagendakan peletakan batu pertama oleh Jokowi.

Yah, asal tidak proyek politis saja. Maklum, saat ini sudah memasuki tahun politik. Beberapa daerah menggelar pemilihan kepala daerah (pilkada). Kemudian, tahun depan dilanjutkan pemilihan umum (pemilu) dan pemilihan presiden (pilpres). Lalu, dilanjutkan lagi kenduri politik di daerah.

Yang pasti, proyek-proyek prestisius yang digembar-gemborkan ini menjadi ujian terberat pemerintah daerah.

Jika terealisasi, pasti akan mendapat pujian dari masyarakat Kepri. Bahkan memenangkan hati rakyat.

Tapi kalau sampai gagal terwujud, siap-siap saja di-bully. Bisa dianggap sebagai “noda” pemerintah. (*)

 

Guntur Marchista Sunan
General Manager Batam Pos

 

Advertisement
loading...