Sigit Riyarto_Direktur RSBP Sekupang | Dalil Harahap3

batampos.co.id – Kasus penyakit stroke di Batam kian mengkhawatrikan. Pasien dengan penyakit yang bisa menyebabkan matinya sel-sel di sebagian area otak itu mendominasi ruang Insentif Care Unit (ICU) di sejumlah rumah sakit di Batam.

Iklan

Di Rumah Sakit Badan Pengusahaan (RSBP) Batam, misalnya. Sekitar 90 persen penghuni ICU merupakan penderita stroke. Kondisi ini sudah berlangsung sejak setahun terakhir.

“Kami hanya memiliki enam tempat tidur di ICU. Lima di antaranya digunakan pasien stroke,” kata Direktur RSBP Batam dr Sigit Riyarto, M.Kes, Senin (12/3).

Sigit mengatakan, jika dirata-rata jumlah pasien stroke di RSBK Batam mencapai 15 hingga 20 orang per bulan. Mereka harus menjalani rawat inap minimal satu hingga dua minggu.

Selain terbatasnya ruang ICU, dokter ahli bedah saraf di RSBK Batam saat ini juga minim. Sehingga rumah sakit yang dulunya bernama RSOB itu kerap menolak pasien stroke.

Sigit menjelaskan, saat ini RSBP Batam hanya memiliki dua ahli bedah saraf. Meski serba terbatas, Sigit memastikan pihaknya akan maksimal dalam menangani pasien stroke, sesuai kemampuan dan kapasitas yang ada.

“Kami juga akan menjalin kerja sama dengan Rumah Sakit Gatot Subroto dan nantinya dokter dan perawat kita akan dididik di sana,” ujarnya.

Menangani penderita stroke, kata Sigit, bisa dilakukan dengan dua cara. Yaitu dibedah dan dengan cara Digital Subtraction Angiography (DSA) atau cuci otak.

Seperti halnya penyakit jantung, Sigit menyebut stroke juga menjadi pembunuh utama di Batam, umumnya Kepri. “Jadi kasusnya (stroke) semakin banyak dan itu pembunuh utama di Kepri,” katanya.

Karenanya, Sigit berharap bila masyarakat mengalami gejala-gejala awal sakit stroke agar segera berobat dan menjalani perawatan dokter. Sebab jika sudah masuk tahap lumpuh, pasien akan sangat disembuhkan.

“Jadi yang paling penting adalah secepatnya dirujuk apabila sudah ada tanda-tanda dan harus hati-hati,” pungkasnya.

Disamping stroke, kasus penyakit jantung juga masih cukup dominan di RSBK Batam. Sigit mengatakan, dalam sehari RSBP Batam menanggani sekitar dua pasien gangguan jantung. “Sebelum memiliki cath lab semua pasien jantung dirujuk ke Jakarta, tapi sekarang sudah bisa kita tangani, tapi setelah ada cath lab,” katanya.

Sigit menambahkan, rata-rata pasien jantung yang datang ke RSBP Batam sudah dalam fase yang parah. Umumnya mereka sudah mengalami penyumbatan pada pembuluh darah. Kondisi ini sangat fatal. Nyawa pasien bisa terancam.

“30 sampai 40 persen akan meninggal karena serangan jantung, karena yang namanya proses penyumbatan itu tinggal nunggu waktu. Setelah itu dia akan mampet,” ujarnya.

Sigit mengatakan, dalam sehari pasien yang memeriksakan jantung ke RSBP Batam ada sekitar 60 orang. Saat ini pihaknya memiliki sekitar 40 tenaga dokter. Dari 17 di antaranya merupakan dokter spesialis, dan hanya satu dokter spesialis jantung.

“Kami saat ini masih memerlukan tambahan dokter spesialis jantung karena sekarang kita hanya memiliki satu spesialis jantung yaitu dokter Afdhalun,” katanya.

Terpisah, ahli bedah saraf dr. Hadi Sirwandanu, SpBS mengatakan penyebab utama stroke ada berbagai macam. Dimulai dari gaya hidup tidak sehat, stres, kelainan jantung, tekanan darah tinggi, dan penyakit diabetes.

Mengenai gaya hidup, Batam memang identik dengan kota industri sehingga tingkat kesibukan masyarakatnya sangat tinggi. Imbasnya adalah mereka menjadi kurang peduli terhadap kesehatannya.

“Karena pengen cepat, tak jarang makan junk food dan makanan berlemak. Disamping itu, juga jarang olahraga dan malas gerak. Itu yang mendorong stroke terjadi,” jelasnya.

Selain menyebabkan stroke, konsumsi makanan berlemak dan junk food secara berlebihan juga dapat menyebabkan obesitas atau kegemukan. Dan obesitas juga dapat meningkatkan risiko terkena stroke. “Makanya saya menyarankan agar masyarakat Batam memperhatikan pola hidupnya. Utamakan pola hidup sehat dan manajemen stres yang baik. Dan rajinlan berolahraga,” tuturnya

Tuntutan kerja yang tinggi di Batam juga memicu tingkat stres warganya.”Stres itu dapat meningkatkan risiko terkena stroke,” paparnya. (leo)