Sejumlah wisatawan berkeliling melihat Klenteng tua di Senggarang, beberapa waktu lalu. F.Yusnadi/batampos.co.id

batampos.co.id – Tanjungpinang bukan sekadar tepi laut. Mainlah ke Senggarang. Ujung kota yang menyimpan eksotisme tempat wisata berupa lima rumah ibadah berusia lebih dari seabad lamanya.

Tanjungpinang memiliki tata kelola pembangunan yang terbilang unik. Khususnya di bidang keagamaan. Beberapa rumah ibadah dibangun saling berdekatan. Seperti di kawasan jantung perkotaan dengan masjid, gereja, dan vihara yang masing-masing berusia lebih dari satu abad.

Mantan Wali Kota Tanjungpinang, Suryatati A. Manan menyebut hal ini sebagai wujud toleransi tinggi antarumat beragama. Ternyata, bukan hanya di kawasan kota saja. Nun jauh di ceruk kota, tepatnya di kawasan Senggarang, juga terdapat rumah ibadah lintas agama yang berdekatan.

Bahkan, satu komplek. Yakni, klenteng sebagai tempat ibadah kaum Tionghoa Perantauan dan vihara yang jadi tempat peribadatan umat Buddha. Kedua tempat peribadatan ini juga jadi tujuan wisatawan yang berlibur di ibu kota Provinsi Kepri ini.

Menuju Senggarang ada dua pilihan. Pertama lewat jalur laut dengan menggunakan pompong (sampan motor) dari kawasan pelabuhan Tanjungpinang. Dengan moda transportasi ini sepaling lama memerlukan waktu 25 menit. Atau yang kedua, lewat jalur darat.

Budi Ismawan, 36, mengajak seluruh anggota keluarganya berlibur ke Senggarang di akhir pekan lalu. Karyawan perusahaan swasta di Bintan ini mengaku, sebelumnya juga belum pernah ke Senggarang. “Saya aslinya Jawa. Jadi belum semua tempat menarik di Tanjungpinang ini saya kunjungi,” aku bapak tiga anak ini.

Karena dari Tanjunguban, Budi lebih memilih menuju Senggarang via jalur darat dengan mobil pribadinya. Tak lupa serta dibawanya pula bekal makan siang bersama keluarga. Usai melepas penat perjalanan, anak-anak Budi meminta berkeliling komplek tempat peribadatan. Setiap usai berfoto, Budi tak lupa menjelaskan kepada Anggia, putri sulungnya yang berusia 10 tahun tentang toleransi antarumat beragama. “Kalau Kakak kan salatnya di masjid. Yang di sini untuk orang Budha dan Tionghoa,” ucapnya.

Budi dan keluarganya bukan satu-satunya rombongan yang berplesiran ke Senggarang. Ada lima-enam mobil di pelataran parkir. Semakin condong matahari semakain ramai. Bila di luar hari libur, memang nyaris tidak ada aktivitas pariwisata di kawasan Senggarang. Barangkali lantaran letaknya yang berada di sudut ujung kota dan juga minimnya promosi pariwisata.

“Kalau hari biasa sepi. Hanya orang yang mau beribadah saja yang datang ke sini,” kata Nichon,54, pengurus klenteng. Dengan ramah, Nichon menuturkan, ada empat klenteng yang berdiri di Senggarang. “Tapi orang banyak tahunya satu klenteng saja,” ucapnya. Keempat klenteng di Senggarang itu didirikan pada waktu bersamaan, sekitar tahun 1.719. Nichon menjelaskan tiap-tiap klenteng punya fungsi yang berbeda. “Tergantung doanya,” ucap pria kelahiran Senggarang ini.

Pertama, klenteng Sun Te Kong atau klenteng pembukuan. Sebagian warga juga menyebutnya sebagai Kuil Dewa Api. Doa yang dialamatkan di klenteng ini lebih ditujukan untuk memohon keselamatan, kebahagiaan, dan juga kesehatan. Kedua, klenteng Marco. “Atau kuil dewa laut,” jelas Nachon.

Dulunya, kata dia, setiap kapal laut atau para nelayan yang hendak melaut banyak yang berdoa di klenteng ini. Selain memohon keselamatan selama perjalanan di laut, nelayan yang berdoa di sini juga memohon keberlimpahan hasil tangkapan. Ketiga, klenteng Tay Tikong. Lebih dikenal juga sebagai kuil dewa tanah atau dewa bumi. Dibangun bersamaan dengan kelenteng Marco. Letak kelenteng ini sejajar dengan kelenteng Marco, tetapi bangunannya lebih kecil dan paling ujung. Kelenteng Tay Tikong sampai sekarang masih terawat dengan baik. Ada kepercayaan apabila berdoa di kuil ini maka sawah mereka akan berhasil panen dengan baik, serta dapat membangun rumah.

Keempat, kelenteng Tien Shang Miao atau Kamuni. “Banyak orang menyebutnya klenteng beringin. Karena bangunan tersebut banyak ditumbuhi pohon beringin yang menutupi atap dinding bagian luar” ujar Nichon. Lokasinya tidak jauh dari pantai. Kelenteng ini adalah yang terbesar dan diperkirakan sudah berumur 200 tahun. Dahulu kelenteng ini merupakan sebuah rumah tempat tinggal Kapitan. Setelah jabatannya berakhir, rumah ini dijadikan tempat beribadah oleh masyarakat etnis Tionghoa yang tinggal di Senggarang.

Ada pun vihara yang satu kompleks dengan empat klenteng ini adalah Vihara Dharma Sasana. Vihara ini merupakan vihara tertua di Senggarang. Terletak di sebuah lereng yang tidak jauh dari klenteng Sun Te Kong. Keadaanya sampai sekarang masih terawat dengan baik. Vihara ini merupakan tempat ibadah umat Budha yang menganut vegetarian. Yang paling menarik dari vihara ini, adalah patung raksasa yang acap disebut seribu tangan Budha. “Walau sebenarnya hanya ada 42 tangan saja,” lontar Nichon sambil terkekeh. (aya)

Advertisement
loading...