PENGUSAHA kuliner di Indonesia menjadi target utama yang Cina dalam mensukseskan pameran makanan dan minuman terbesar yang akan diadakan di Shanghai, 16-18 Mei mendatang. Acara ini merupakan pameran inovasi khusus kuliner terbesar di Asia yang sudah berlangsung sejak 10 tahun lalu.

Iklan

Sejak beberapa tahun belakangan, banyak pengusaha Indonesia yang tertarik mengikuti pameran ini. Memperkenalkan produknya ke berbagai negara, belajar packaging product yang baik dan bernilai jual, dan juga mempertemukan antara pengusaha dan pembeli dalam jumlah besar.

“Indonesia kami harapkan menjadi negara yan turut berpartisipasi kembali di tahun ini. Menghadirkan aneka produk makanan dan pertaniannya yang luar biasa,” ujar Direktur Pemasaran dan Komunikasi SIAL China, Kate BA saat ditemui dalam jumpa pers SIAL Inspire Food Business di Pullman Hotel, Jakarta Pusat, Selasa (13/3) kemarin.

Kate menyebutkan, pameran yang akan digelar selama tiga hari di New International Expo Centre, Shanghai ini merupakan lanjutan dari suksesnya Pameran SIAL di Paris di tahun-tahun sebelumnya. “Paris menjadi induk pameran, dan Cina mengikuti dan menjadikan Shanghai sebagai pusat pameran terbesar di Asia setiap tahunnya,” jelasnya.

Pameran tahun ini, Kate menyebutkan akan diikuti 70 negara, 13 halls, dan diikuti 3.400 exhibitor termasuk dari Indonesia.

Indonesia sendiri mengirimkan 10 perwakilan. Jumlah ini meningkat dibanding tahun lalu, yang hanya diikuti 6 pengusaha besar. “Untuk tahun ini Indonesia lebih fokus ke produk kopi, dan juga makanan ringan seperti kerupuk. Ya, kita minta kembali pengusaha kerupuk di Indonesia untuk ikut, karena memang produk itu sangat digemari. Khususnya kerupuk udang. We like it somuch,” ungkap Kate.

Beragam produk food and beverage dari berbagai negara bisa ditemukan di pameran ini nantinya, seperti bakery dan biscuits, food and hospitality, bahan makanan olahan, herbal dan makanan sehat, ritel dan waralaba, kopi, teh dan kakao.

Ada juga aneka buah segar olahan serta produk pertanian, tanaman organik dan kesehatan produk makanan alami, makanan beku, ikan laut dan juga produk daging.

“Di sana, kami juga mengadakan event seperti tahun-tahun sebelumnya. Ada event cocholat world, la cuisine, China national specialty tea brewers cup. Dan juga world tour mengenai trend konsumsi masyarakat dunia,” ungkap Kate.

Menurut Kate, pameran ini juga bertujuan menjadikan Cina sebagai negara pengimpor makanan, mengingkat pertumbuhan ekonomi yang pesat dan terjadinya peralihan bisnis dari pertanian ke industry dan perdagangan di negara tersebut.

“Untuk bahan makanan, seperti kopi, biscuit, dan buah segar alami dan organik, kami import langsung dari negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Mengapa negara ini? Karena kami kira pengolahan bahan baku makanan di Asia Tenggara masih ramah lingkungan,” jelasnya.

Kate menyebutkan, 2017 lalu, Pameran SIAL China diikuti 67 negara dan 30 provinsi dengan persentase 63 persen dari negara-negara di Asia. Sisanya dari Argentina, Arab Saudi, Brazil, dan berbagai negara lainnya.

Untuk pengunjung, 12 persen international visitors dari 106 negara. Diikuti 3.200 exhibitor dimana persentasenya 83 persen para pembuat kebijakan dan juga influencer dengan 98 persen satisfaction rate. “Bisa Anda bayangkan ada 101.134 pengunjung yang hadir dalam satu lokasi setiap hari. Kami berharap bisa mengulang kesuksesan di Mei mendatang dengan dominasi ritel dan perdagangan, industri dan pengolahan makanan, jasa dan jasa boga,” ungkapnya.

Mengangkat tema ‘Look Deeper’, Kate mengungkapkan, perkembangan dunia makan dan minuman saat ini bisa disaksikan di dalam satu area dengan inovasi teknologi tinggi mengadopsi cara pemasaran dari bos Alibaba, Jack Ma. “Saat ini dunia tengah berusah untuk bagaimana bisa bertransaksi tanpa uang cash. Dan di pameran ini nanti juga, kami akan memberikan contoh beberapa supermarket di Cina yang sudah mulai menjalankan teknologi tingkat tinggi tanpa adanya interaksi manusia. Cukup buka aplikasi makanan atau minuman, bahan makanan atau menu segar, pilih barang, bayar, barang akan dikirimkan ke rumah Anda,” jelas Kate.

Kate berharap, dengan pameran ini, para pengusaha lokal mampu bersaing dan memperkenalkan produknya di dunia internasional. “Tujuan utamanya, bisa bekerjasama memperkenalkan produk makanan serta minumannya, menghasilkan materi berlimpah. Mungkin dalam nilai miliar atau triliunan. Ikut, jaring kemitraan, dan kerjasama,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Komite Tetap Kadin Indonesia, Thomas Darmawan menyebutkan, pameran SIAL di Cina ini penting untuk diikuti para pengusaha makanan dan minuman di Indonesia.

Pria yang pernah menjadi ketua gabungan pengusaha makanan dan minuman Indonesia ini menyebutkan, perkembangan ekonomi Tiongkok yang pesat saat ini menjadi jalan pembuka bagi Indonesia untuk memasarkan aneka produknya.

“Untuk tahun ini, Indonesia akan pamer kopi dan kerupuk. Dua itu jadi andalan. Tapi akan diikuti juga para pengusaha industry besar seperti Indofood, Kapal Api, Garuda. Pameran seperti ini penting jadi suplay agent untuk branding produk nasional di luar negeri,” tutupnya.

Ia berharap, lewat pameran ini, Indonesia semakin dikenal dunia. Bukan hanya pariwisatanya saja, tapi juga lewat industri makanan dan minumannya. “Para pengusaha makanan di Indonesia dapat lebih memajukan bisnisnya. Misalnya darimana tadi? Nah dari Batam ada sop ikan, apa saja bumbunya bisa dibawa ke pameran, dihidangkan di sana, dicicip pengunjung dan disukai. Itu branding,” ungkap Thomas.

Bagi pengusaha Indonesia yang berminat ikut ke pameran ini bisa melihat informasinya di matchmaking.sialchina.cn/visitorreg. Para peserta yang mengikuti pameran ini akan disediakan layana transportas dan akomodasi, aplikasi mobile dan juga guide visitor.

Nah, khusus pengusaha yang tidak bisa ke Shanghai langsung, bisa juga mengikuti pameran serupa di Jakarta, tepanya di SIAL Interfood yang akan diadakan pada 21-24 November mendatang. Acara ini juga melibatkan 98 jurnalis, dan estimasi lebih dari 150 ribu pengunjung. (cha)