Pulau Penyengat disiapkan sebagai pulau bersejarah yang menjadi warisan dunia atau World Culture Heritage. F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Gelora Pemerintah Provinsi Kepri untuk menggolkan Pulau Penyengat, Tanjungpinang sebagai salah satu warisan budaya dunia/Word Culture Heritage seperti padam di tengah jalan. Sementara United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) akan menggelar sidang akbar pada 2020 mendatang.

“Sejak dideklirkan pada 2015 lalu, kami sudah melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan harapakan tersebut,” ujar Ketua Tim Penyengat Warisan Budaya Dunia, Abdul Malik, Selasa (13/3) di Tanjungpinang.

Pria yang ditunjuk sebagai ketua tim di era Gubernur HM. Sani tersebut menjelaskan, setelah melalui berbagai proses, pada tahun yang sama, pihaknya sudah membuat proposal dalam dua bahasa yang ditujukan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Tidak cukup jika hanya dengan proposal saja, tetapi harus support dengan kajian yang mendalam,” tegas Malik.

Dekan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang mengaku belum mengetahui tidaklanjut dari mimpi besar tersebut. Karena sejak terjadinya pergeseran kepemimpinan di Pemprov Kepri, belum ada pembicaraan yang dilakukan.

Menurut Malik, tugas untuk mengkoordinasi masalah ini memang menjadi tanggungjawab Dinas Kebudayaan. “Apakah sudah ada didiskusikan dengan Gubernur atau tidak, kami juga tidak tahu,” papar Malik.

Ditegaskan Malik, jika memang Pemprov serius untuk menggolkan Pulau Penyengat sebagai warisan budaya dunia, masih ada waktu untuk berbenah diri. Karena beberapa daerah seperti, Semarang dan Jakarta yang ingin menjadikan kawasan kota lama sebagai salah satu word culture heritage terus menggesa perbaikan fisik di kawasan tersebut.

“Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan kita sekarang ini. Jika tidak ada kesadaran bersama, sulit untuk mewujudkan itu,” paparnya lagi.

Dikatakannya juga, pada beberapa waktu lalu, pihaknya juga sudah melakukan pembicaraan dengan Perwakilan UNESCO yang ada di Indonesia maupun dari Organisasi tersebut di Semarang. Bahkan UNESCO sangat tertarik dengan usulan yang telah diajukan.

“Tentu sayang jika tidak kita tuntaskan. Kita sudah berkorban tenaga dan pikiran untuk memberikan yang terbaik,” jelas Malik.

Masih kata Malik, luas penyengat yang hanya 1,7 kilo meter persegi pernah jaya, karena menjadi ibu kota negara yang besar sampai abad ke 20. Yakni menjadi Pusat Kesultanan Riau Lingga. Selain wilayah Kepri, sebagian riau, dan jambi. Termasuk wilayah di Malaysia, Johor, Pahang, dan Singapura. Kemegahan tersebut adalah merupakan sesuatu yang sangat hebat.

Berikutnya adalah Penyengat merupakan pusat pembinaan bahasa melayu pada waktu itu. Bahasa melayu yang dibina Raja Ali Haji dan kawan-kawan menjadi bahasa nasional di empat negara. Yakni Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Perkembangan budaya Melayu yang terbesar adalah di Penyengat, dan itu juga tercatat dalam sejarah sejak Kerajaan Sri Wijaya.

“Pulau Penyengat menjadi simbol atau basis perlawanan terhadap penjajah Belanda. Digelorakan di Pulau Penyengat atas keberanian Raja Ali Haji dan anak-anaknya,” jelasnya lagi.

Sementara itu Gubernur Kepri, Nurdin Basirun tetap bertekad untuk melanjutkan mimpi yang sudah ada. Ditegaskannya, peningkatan infrastruktur di Pulau Penyengat, akan terus dilakukan. Menurut Gubernur, persoalan ini akan dibicarakan lagi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.

“Kita sudah berhasil menggolkan Sultan Mahmud Riayaat Syah sebagai Pahlawan Nasional. Tentu kita akan berjuang untuk predikat warisan budaya dunia,” tegas Nurdin.(jpg)

Respon Anda?

komentar