Njuk Ha dan Herman duduk di depan keranda jenazah Bong Jie Kloeng di Rumah Duka dan Panti Jompo milik Yayasan Dharma Bhakti, Kecamatan Bintan Timur, Selasa (13/3). F. Slamet/batampos.co.id.

batampos.co.id – Pelaku pembunuhan terhadap ayah kandung, Heriwan alias A Kun, 27 diperiksa kejiwaannya di Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) Tanjungpinang, Selasa (13/3) siang.

Dari pemeriksaan itu, penyidik kepolisian berdasarkan keterangan dokter membidangi kejiwaan menyatakan sementara ini pelaku mengalami gangguan kejiwaan berat.

Kapolsek Bintan Timur, AKP Abdul Rahman ditemui di Mapolsek Bintan Timur di Kijang mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan RSAL Tanjungpinang. Dari koordinasi itu, dr Rudi dokter yang memeriksa kejiwaan pelaku menyimpulkan sementara pelaku mengalami gangguan kejiwaan berat.

Pihak RSAL Tanjungpinang, lanjutnya menyarankan agar pelaku diobservasi secara menyeluruh di RS Budi Kemuliaan di Batam.

“Mereka (RSAL) akan mengeluarkan surat keterangan untuk rekomendasi. Besok kami akan tindaklanuti ke Batam untuk berkoordinasi dengan RSBK,” kata dia.

Bilamana nanti pelaku dinyatakan mengalami gangguan kejiwaan, maka penyidik akan mempertimbangkan untuk melakukan penghentian penyelidikan. “Misalkan pelaku dinyatakan gangguan jiwa, stres atau mentalnya terganggu kita hentikan penyidikan,” kata dia.

Karena dalam pemeriksaan biasanya akan dilakukan pertanyaan awal, apakah sehat jasmani dan rohani? “Kalau tak sehat jasmani dan rohani ya tak bisa diperiksa,” ujarnya.

Sementara ini, ia mengatakan sudah melakukan pemeriksaan sejumlah saksi. “Tetangganya sudah diperiksa namun abang pelaku belum, karena masih berduka,” jelasnya.

Ditanya apa pemicu pertengkaran itu? Ia menjawab sebenarnya tidak ada pemicu namun karena korban dalam gangguan kejiwaan.

Seperti saat ini ditahan di ruang tahanan, pelaku sering berteriak sendiri. Terkadang dia melukai tangannya dengan memukul ke jeruji. Pelaku di dalam sel bersama pelaku kasus begal. Hal ini dilakukan agar ada yang menjaga pelaku. “Ya saling menjaga agar tak sendiri dia di sel,” kata dia.

Di sel, selain teriak teriak pelaku juga terkadang bersemedi dengan duduk bersila.

Tetangga korban, Randi atau akrab disapa Andi mengatakan, pagi itu dia sempat berbicara dengan korban, Bong Ji Kieong, 70 sebelum kejadian pembunuhan. Saat itu, korban membersihkan puing kaca jendela mobil taksi yang dipecahkan pelaku. Ia pun mendekat dan membantu membersihkan puing kaca yang berserak di tanah.

Kepada dirinya, korban mengeluhkan tabiat anaknya yang semakin tidak terkendali. “Dia ngeluh pusing,” kata Randi menirukan ucapan korban.

Setelah itu, ia ke pasar dan sepulang dari pasar dan melihat korban tewas di tangan anaknya sendiri. Disinggung soal keseharian korban dan pelaku, ia mengatakan pelaku sangat tertutup. Diakuinya, keluarga itu kerap berkelahi dan cek cok mulut.

“Biasanya ya cek cok, tapi yang kemarin sudah brutal,” kata dia.

Sedangkan korban, menurut dia sekarang banyak di rumah. Mobil taksi miliknya biasanya ditambang atau disewakan ke orang lain.

Selain usaha taksi, korban juga membuka bengkel di samping rumahnya. Ketua RW 008 Jalan Rahayu Kampung Barek Motor Kijang, Alamsyah mengatakan, keributan di keluarga korban sudah hal biasa di keluarga itu.

Pagi dini hari itu, sekitar pukul 03.00 WIB, korban diamankan. Lalu sekitar pukul 06.00 dibawa ke rumah sakit. Namun dia tak tahu soal kaburnya pelaku. “Saya tahu dari orang lain sudah banyak polisi di rumah itu,” kata dia.

Selama ini ia mengatakan, pelaku bertingkah wajar. Sore atau pagi biasanya pelaku joging bahkan dengan headseat di kedua telingga pelaku.

“Kalau sama abangnya sering kelahi, mungkin dendam karena dia yang kerja,” kata dia.

Warga lainnya Adi yang ikut membawa pelaku ke rumah sakit mengatakan, dia menyebut pelaku seperti kesurupan makhluk halus. “Waktu kami bawa pakai pikap, dia duduk bersemedi. Waktu habis membunuh bapaknya dia duduk santai di depan rumah,” kata dia.

Malah, Kasisos Pemkec Bintan Timur Riswan yang datang ke rumah waktu itu usai dihubungi abang pelaku, Herman disuruh masuk langsung ke dalam rumah. “Dia (pelaku) bilang ke Pak Riswan, Raja Jin (bapaknya) saya sudah bunuh, itu dia,” kata pegawai Kecamatan itu menirukan ucapan pelaku ke Riswan.

Waktu pembunuhan itu, ia mengatakan, istri korban Njuk Ha terbaring lumpuh di kamar. Pelaku sendiri pindah tempat duduk dari awalnya duduk di teras lalu oindah ke ruang tamu dengan tangan masih terborgol.

“Waktu dia bunuh bapaknya borgol masih di tangannya, waktu di rs borgol dan tali yang diikat di tempat tidur dirusaknya. Borgol di kaki lepas dirusak, borgol di tangan renggang. Entah bagaimana bisa lepas dari ranjang rs,” kata dia heran.

Sementara itu, suasana rumah duka di Jalan Rahayu Kampung Barek Motor RT03 RW08 nomor 60 terlihat sepi. Garis polisi juga sudah tak terlihat di rumah itu. Hanya papan bunga ucapan duka yang berjejer di tepi jalan menuju rumah itu.

Herman dan Njuk Ha sementara ini di rumah duka dan panti jompo Yayasan Dharma Bhakti Kijang. Herman terlihat terpukul. Ia bersembahyang di depan keranda bapaknya. Saat ditemui, ia menolak diwawancarai. “Saya tak mau diekspos,” kata dia.(met)

Advertisement
loading...