batampos.co.id – Para nasabah bank yang menggunakan kartu ATM dengan magnetic stripe diminta lebih waspada. Sebab kartu tersebut mudah digandakan dan rawan dibobol para pelaku skimming atau skimmer.

Seperti yang terjadi baru-baru ini, sebanyak 87 nasabah bank BRI dari Kediri dan Purwokerto, Jawa Timur, kehilangan uang di tabungan mereka. Setelah dicek, semua nasabah tersebut ternyata menggunakan kartu ATM dengan magnetic stripe, bukan chip.

“Ya, betul. Yang terkena skimming itu kartu magnetic stripe,” kata Direktur DigitaL PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, Indra Utoyo, Jumat (16/3).

Untuk itu, BRI akan mempercepat migrasi kartu nasabah dari menggunakan teknologi magnetic stripe ke teknologi chip. Indra mengatakan, Bank Indonesia (BI) sebenarnya sudah mengimbau bank agar menggunakan kartu berteknologi chip sejak 2015 lalu.

Namun karena mahal, BI kemudian mewajibkan bank agar memenuhi katu dengan teknologi chip itu pada 2021 mendatang. Sebab, untuk mengganti teknologi kartu, biaya yang dibutuhkan sekitar 2 dolar AS hingga 3 dolar AS per kartu.

“Memang sudah diharuskan sampai dengan tahun 2021. Kami coba percepat,” ujarnya.

Menurut Indra, para skimmer tersebut sudah berhasil diringkus polisi, Jumat (16/7) kemarin. Namun ia meminta para nasabahnya tetap waspada dengan menjaga kerahasiaan identitas nasabah.

“Sebagai info, memang benar terjadi penangkapan pelaku kejahatan skimming,” ujarnya.

Kejahatan skimming itu dilakukan dengan mengambil data nasabah lewat alat skimmer yang dipasang di mesin ATM. Lantas, ada kartu duplikat yang disiapkan oleh pelaku dan ditanamkan data-data kartu nasabah yang telah dicuri.

ilustrasi

Sejauh ini, BRI telah menyatakan 33 nasabah dari Kediri yang terkena skimming sudah diganti kerugiannya dengan total mencapai Rp 145 juta.

Sementara itu, sejak Kamis (15/3) beredar video pegawai Bawaslu DKI Jakarta yang juga mengaku kehilangan uang secara misterius. Korban yang mengaku kehilangan dalam video tersebut bernama Andi Maulana. Pelaku menghubungi langsung korban dan menyebutkan data-data korban. Lantas, menanyakan apakah data tersebut benar. Setelah menjawab bahwa data tersebut benar, uang milik Andi di rekening hilang dan hanya tersisa Rp 57 ribu.

Terkait hal ini, Indra mengaku BRI telah membawa masalah ini ke pihak berwajib. “Permasalahan ini telah kami serahkan ke saluran hukum. BRI tentu akan bertanggung jawab apabila kesalahan ada di  pihak kami,” ujarnya.

Di lain pihak, BCA juga mengimbau nasabah agar berhati-hati. Sebab, beredar pesan Whatsapp mengenai nasabah BCA yang mengaku hampir menjadi korban penipuan. Nasabah tersebut mengaku mendapatkan telepon dari nomor +621500888.
Rupanya, si penelepon adalah pelaku kejahatan yang mengaku sebagai pegawai BCA. Dia mengatakan terjadi transaksi mencurigakan pada rekening nasabah tersebut sehingga perlu memblokir kartu dan mengklarifikasi data si nasabah.

Namun nasabah menolak dan menelepon balik call center BCA. BCA pun menyatakan bahwa penelepon tersebut adalah penipu.

Divisi Humas BCA dalam siaran persnya menyampaikan, jika petugas contact center Halo BCA menghubungi nasabah, nomor telepon yang akan tertera di layar telepon seluler (HP) nasabah adalah 1500888, bukan +621500888.

“Abaikan panggilan telepon dari pihak yang mengaku dari BCA atau mitra kerja BCA jika nomor yang muncul di layar bukan nomor 1500888 dan segera lakukan konfirmasi ulang dengan menghubungi contact center Halo BCA di nomor 1500888, email [email protected], twitter @halobca, webchat www.bca.co.id,” ujar Divisi Humas BCA dalam siaran persnya. (rin/jpg)

Respon Anda?

komentar