ilustrasi

batampos.co.id – Saat ekonomi Batam sedang buruk, sejumlah usaha kecil dan menengah (UKM) sanggup bertahan dari goncangan badai krisis. Bahkan ada yang omsetnya justru tumbuh melesat hingga bisa membuka cabang.

Aroma harum langsung tercium saat langkah kaki memasuki outlet Salsa Premium Perfume Batam di Ruko Nagoya Garden Blok F, Seraya, Kamis (15/3) siang. Rratusan botol parfum kosong terpajang di etalase. Seorang karyawan terlihat sibuk meracik parfum pesanan beberapa pelanggan yang tengah antre.

Tak lama kemudian, pemilik Salsa Perfume, Irfi Ismail, 36, tiba di toko sekaligus tempat produksi dan kantornya. Ia menenteng map plastik berisi dokumen. Satu karyawan lainnya datang menyusul dan membentangkan spanduk untuk kebutuhan promosi. Keduanya kemudian terlibat perbincangan serius. Mereka membicarakan rencana promosi produk terbaru Salsa Premium Perfume Batam.

“Kami lagi ada new release produk terbaru, kemudian ada produk mixing perfume. Nah kami mau promosi supaya penjualan meningkat lagi,” ujar Irfi Ismail usai berbincang dengan karyawannya.

Bisnis parfum Irfi sempat tergoncang badai krisis ekonomi yang melanda Indonesia, dan Batam, sejak beberapa tahun terakhir. Pada September 2017 lalu, omset anjlok hingga 10 persen. Penyebabnya, adanya penyesuai harga karena bahan baku seperti bibit parfum diimpor dari luar negeri naik harga. Kemudian sebagian konsumennya adalah pekerja perusahaan dan adanya perpindahan warga keluar Batam karena pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Februari (2018) lalu juga terasa penurunan omset. Tapi setelah ada produk baru dan promo, penjualan naik. Insya Allah Maret ini (penjualan) naik,” ungkap Irfi di ruang kerjanya.

Meski terjadi penurunan penjualan dan omset, bisnis Irfi masih mampu bertahan. Setiap kali terjadi penurunan penjualan, ia dan karyawannya giat mendekati konsumennya yang jarang datang lagi. Untungnya, konsumen Salsa Perfume Premium Batam cukup loyal. Menurut data dan hitungan Irfi, 95 persen dari 60 ribu anggota (member) Salsa Perfume Premium Batam sangat loyal.

“Ada repeat order (pembelian berulang kali). Bahkan yang sudah pindah seperti ke Jakarta dan Bali tetap loyal. Mereka pesan dan dikirimkan,” jelas mantan karyawan hotel ini.

Menurut Irfi, pelayanan serta kualitas produk yang baik menjadi kunci bisnisnya mampu bertahan. Selebihnya adalah memberikan benefit bagi konsumen. Ia membuat member konsumen, poin member yang bisa ditukar dengan produk, dan promosi potongan harga. Tak heran konsumennya pun tidak hanya warga Batam, Tanjungpinang, dan Pekanbaru, turis dari negara tetangga Singapura dan Malaysia pun banyak.

“Mereka setiap ke sini borong sampai beli dengan nominal Rp 2 juta, ” ungkap Irfi.

Irfi yang memulai bisnis parfum tahun 2009 dengan modal Rp 700 ribu. Sisa uang pinjaman untuk biaya berobat. Kini ia sudah memiliki 20 cabang. Masing-masing di 12 gerai di Batam, lima gerai di Pekanbaru, dan tiga gerai di Tanjungpinang.

Di setiap kota itu, masing-masing ada satu mobile oulet. Sejak membuka cabang, Irfi meraih omset yang terus meningkat, meski kadang-kadang turun. Saat ini omsetnya, khusus yang di Batam saja, sudah ratusan juta rupiah per bulan.

Meski demikian, Irfi belum puas. Ia punya visi terus menambah cabang di berbagai kota di Indonesia. Ia menargetkan bisnisnya menjadi industri yang besar, punya pabrik di Batam, dan menjadi ikon Batam. Namun ia berharap ada dukungan dari Pemerintah Kota Batam untuk mewujudkan Salsa Perfume Premium Batam sebagai salah satu destinasi belanja.

“Saya pun bersedia menjadi sponsor untuk event wisata di Batam,” katanya.

***

Bila omset bisnis Irfi terkadang menurun, bisnis Fery Firdaus, De’ Chruse Pet Center, terus menanjak sejak ia rintis. Bahkan saat ekonomi Batam sedang buruk-buruknya, De’ Chruse Pet Center tidak perpengaruh. Sebaliknya, usaha Fery Firdaus meraih omset yang tinggi setiap harinya. Itu dibuktikan dengan usaha yang terus berkembang dan pembukaan cabang pertama di Tiban pada Februari 2018 lalu.

Fery memulai usaha ini tahun 2011 di Ruko Puri Loka, Blok. E No.3A, Seipanas, Batam. Idenya muncul ketika ia bekerja di salah satu pusat pelatihan anjing sebagai dokter hewan tahun 2006 silam. Saat itulah ia melihat peluang, sebab di Batam belum ada pet shop. Kalaupun ada, hanya bisnis poultry atau unggas semi outdoor dan tidak berpendingin udara.

Dengan modal Rp 10 juta, Fery membuka petshop yang berkonsep. De’ Chruse Pet Center ini menyuguhkan konsep berbagai layanan di satu tempat. Ada pet shop, pet clinic (klinik hewan), pet grooming (salon hewan), veterinary (dokter hewan), pet boarding (penitipan hewan), dan pet shiping (pengiriman hewan), serta penjualan hewan peliharaan. Jadi tidak hanya klinik hewan tetapi juga menyediakan kebutuhan hewan peliharaan seperti anjing dan kucing.

“Bisa dikatakan butik untuk hewan peliharaan. Bentuk bagus, elegan, tapi harga tetap kompetitif,” ujar Fery, Jumat (16/3).

Tak heran, meski tempat usahanya bisa dibilang bukan lokasi yang strategis karena jauh dari jalan raya, pelanggan De’ Chruse Pet Center ramai dan terus tumbuh. Omsetnya saat itu rata-rata Rp 12 juta per hari. Dua tahun kemudian, ia membeli satu unit ruko lagi di sebelahnya untuk memperluas tempat bisnisnya.

Saat itu, pet shop di Batam sudah mulai berkembang. Muncul beberapa pet shop dan pesaing. Meski begitu, konsumen bukannya turun tetapi malah bertambah. Bagi Ferry, munculnya pet shop lain justru bagus untuk menciptakan persaingan yang sehat. Juga memotivasi untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas layanan.

Selain inovasi, lanjut dia, memeperluas jejaring juga penting. Fery tidak hanya berteman dengan pemilik hewan peliharaan tetapi juga dengan komunitas lain. Termasuk komunitas otomotif. Ternyata, dari komunitas ini ia juga mendapatkan konsumen. Jadi ketika usaha atau bisnis lainnya sedang lesu, bisnis Fery justru tetap berjaya.

“Bisnis ini tidak ada pengaruh turunnya ekonomi di Batam. Bisnis ini malah naik. Mungkin karena tingkat awarness orang terhadap peliharaan sudah bagus,” katanya.

Saat ekonomi Batam kian menurun, omset bisnis Fery justru naik tiap tahun hingga 100 persen. Lalu ia membuka cabang di Tiban awal tahun 2018 ini. Konsumen juga bertambah. Total konsumennya sampai saat ini sudah hampir delapan ribu. Setiap hari, rata-rata konsumsen yang datang membawa hewan peliharaanya 40-an orang. Paling sedikit 30 orang dan paling banyak 60 orang. Itu diluar pembeli kebutuhan hewan peliharaan. Omsetnya kini rata-rata Rp 30 juta per hari.

***

ilustrasi

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kepri Gusti Raizal Eka Putra mengakui daya tahan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dari badai ekonomi global sangat baik. UMKM akan tetap terjaga meski kondisi ekonomi global menurun drastis. Ia juga mengatakan UMKM memberikan kontribusi yang tidak sedikit terhadap ekonomi karena mampu menjaga stabilitas rupiah.

Oleh karena itu, BI Perwakilan Kepri mendukung upaya memperkuat kapabilitas UMKM. Tujuannya, mendorong UMKM agar lebih berkembang. “UMKM ini mempunyai daya tahan, meski kondisi ekonomi global turun drastis sekalipn,” kata Gusti, Jumat 16/3).

Senada dengan Kepala BI Perwakilan Kepri, kalangan pengusaha juga mendorong agar UMKM di Batam terus bangkit. UMKM diharapkan dapat tumbuh sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia, khususnya Batam.

“Sektor UKM memiliki daya tahan luar biasa dari tekanan perekonomian. Setidaknya, ini sudah dibuktikan pada krisis ekonomi tahun 1998. Sebagian besar bertahan, bahkan tidak sedikit yang usahanya justru meningkat usai masa krisis,” ucap Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Batam, Jadi Rajagukguk, beberapa waktu lalu.

Jadi menjelaskan, kekuatan utama dari UKM adalah memiliki daya tahan terhadap kondisi ekonomi Indonesia yang fluktuatif. Pelaku UKM bisa sesuaikan sekala dan jenis usaha dengan perkembangan ekonomi. Bahkan tidak sedikit wirausahawan UKM punya beberapa usaha.

Pelaku UKM memiliki kecerdikan membaca peluang ekonomi. Apalagi ketika mereka terdesak oleh kebutuhan hidup yang semakin tinggi. “Bagi pelaku UKM, peluang akan selalu dicoba. Kalaupun gagal, mereka bisa mencoba peluang yang lain. Selain itu, bagi mereka menjalankan usaha juga merupakan bagian penting dalam menggerakkan roda ekonomi keluarga,” ungkapnya.

Menurut Kepala Dinas KUM Kota Batam, Suleman Nababan, Batam memang sejak awal dikembangkan sebagai daerah industri, alih kapal, perdagangan, dan pariwisata. Konsep pengambangan ini memunculkan banyak pelaku UKM.

Kemudian akhir-akhir ini kondisi perekenomian Batam memang sedang lesu, industri banyak yang hengkang, kemudian galangan kapal juga tutup. Ia mencontohkan, dulu Tanjunguncang yang merupakan kawasan galangan kapal, sangat ramai saat waktu kerja hingga sulit untuk lewat, tetapi kini relatif sepi. Banyak masyakarat kehilangan pekerjaan dan penghasilan. Kondisi ini ada sisi positifnya karena membuat masyarakat untuk berusaha dengan masuk ke sektor UMKM.

Fakta di lapangan, lanjutnya, banyak masyarakat atau pekerja yang beralih profesi menjadi pelaku usaha untuk bisa bertahan hidup, bisa menghidupi keluarganya, dan membiayai sekolah anaknya. Kemudian ada yang melihat peluang karena banyaknya pelancong ke Batam pada akhir pekan, sehingga membuka usaha seperti usaha kuliner, makanan ringan, dan oleh-oleh. Ada yang usahanya meningkat. Dari awalnya hanya usaha rumahan, kini bisa berkembang dan ekspansi.

“Jadi betul itu, bahwa penyangga ekonomi kita itu adalah pelaku UMKM, di saat industri dan pengusaha besar itu down, maka kawan-kawan pelaku UMKM inilah yang bisa bertahan. Buktinya banyak sekarang yang tumbuh berkembang,” jelas Suleman Nababan, Kamis (15/3.

Badan Pengusahaan (BP) Batam juga menilai UMKM dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Batam. Perannya sangat vital khususnya dalam pengembangan sektor pariwisata berbasis agrobisnis dan pariwisata murni. Makanya, peran serta UMKM akan semakin dioptimalkan dalam pengembangan sektor pariwisata di Batam.

“Pengembangan UMKM dan industri kreatif dapat memberikan kontribusi ekonomi sangat signifikan, menciptakan iklim bisnis yang positif, membangun citra dan identitas bangsa, serta usaha berbasis sumber daya terbarukan,” papar Deputi V BP Batam, Bambang Purwanto.

Menurut Bambang, ibarat rumah usaha mikro kecil menjadi fondasinya, usaha menengah sebagai pilar, dan usaha besar sebagai atap. “Kemampuan UMKM yang menyentuh lapisan masyarakat paling bawah menjadi kekuatan untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan dan pengelolaan daerah wisata harus melibatkan masyarakat lokal dan UMKM,” jelasnya.

Bambang kemudian mengatakan peran serta UMKM dalam pengembangan pariwisata yakni mengembangkan produk UMKM berbasis pariwisata. Contohnya adalah pengembangan perkampungan batik, souvenir khas Batam, kuliner khas Batam, pemberdayaan kampung nelayan, pengembangan sanggar seni dan budaya lokal, dan pengembangan wisata bahari, religi dan sejarah.

“Lalu hasil produksinya akan ditata sedemikian rupa berikut juga pelayanannya untuk menarik wisatawan agar mau membeli produknya saat berkunjung ke Pulau Batam,” jelasnya.

Namun untuk memulainya tentu butuh langkah awal dimulai dengan pemberian bimbingan teknis untuk UMKM, seperti memberikan kepastian secara hukum agar hasil produksinya dapat dipertanggungjawabkan, penerapan tata kelola yang baik, sosialisasi setiap regulasi baru dan mempermudah perizinannya. “Lalu kami juga akan memberdayakan Balai Latihan Kerja (BLK) untuk mendidik masyarakat menjadi terampil dalam mengolah produk yang dihasilkan,” jelasnya.

Setelah itu rampung, maka UMKM yang sudah terlatih tersebut akan mampu menjadi agen-agen yang mampu menggerakkan masyarakat untuk berwiraswasta.“Sehingga promosi pariwisata bisa dilakukan secara berkesinambungan,” katanya.

Sedangkan Deputi IV BP Batam, Mayjen TNI Eko Budi Soepriyanto mengatakan BP Batam akan terus melibatkan UMKM dalam berbagai program. Tujuannya untuk mengoptimalkan aset-aset BP Batam sekaligus peluang memberdayakan UMKM.

“Partisipasi UMKM bukan hanya untuk aspek sosial. BP memandang UMKM sebagai salah satu kunci keberhasilan pengembangan pariwisata agar lebih kuat fondasinya. Kalau banyak yang ikut, maka tujuan-tujuan besar akan lebih cepat tercapai,” pungkasnya. (uma/leo/yui)

Advertisement
loading...