ilustrasi

batampos.co.id – Pemerintah Kota (Pemko) Batam berkomitmen mendukung pelaku UMKM dengan penyaluran bantuan modal. Sejak 2001 hingga 2017 lalu, dana bergulir yang sudah disalurkan kepada pelaku UMKM mencapai Rp 77,432 miliar. Bunga ditetapkan 6 persen per tahun.

Iklan

“Jangka waktu pengembalian maksimal 3 tahun, kami sesuaikan dengan kemampuan peminjam,” kata Kepala BLUD Dana Bergulir Batam, Zul Fachri, Jumat (16/3).

Sayangnya, dana bergulir itu hanya dimanfaatkan oleh sebagian kecil pelaku UMKM di Bata. Yakni sekitar 2.105 pelaku UMKM. Padahal, sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri dan Dinas Koperasi Usaha Mikro (KUM) Kota Batam, jumlah UMKM di Batam saat ini sudah mencapai 75 ribuan.

Bahkan pada tahun 2018 ini, baru ada 24 pelaku UMKM yang mengajukan pinjaman modal. Sebanyak 21 pengajuan di antaranya sudah lolos verfikasi administrasi dan verifikasi lapangan (pengecekan langsung). “Yang 21 pengajuan tinggal kita salurkan nilainya totalnya Rp 1,540 miliar, perorang beda-beda sih ada yang Rp 50 juta hingga Rp 100 juta. Tiga lainnya baru verifikasi administrasi,” kata Zul.

Sejauh ini, lanjutnya, pelaku UKM yang mengajukan dana bergulir dari bidang usaha dagang maupun jasa, seperti usaha alat tulis kantor (ATK), laundry, hingga sembako. “Tingkat kemacetan sekarang sudah membaik, di bawah 3 persen,” ucapnya.

Ia mengatakan, pihaknya membuka diri jika ada masyarakat yang ingin mengajukan dana bergulir di Pemko Batam. Syaratnya yakni mengajukan proposal dan mengisi formulir dengan melampirkan fotokopi elektronik KTP suami/istri dan fotokopi kartu keluarga, surat keterangan domisili usaha yang dikeluarkan kelurahan, dan fotokopi Surat Izin Usaha Mikro dari kecamatan.

“Kalau ada yang mau ajukan datang saja,” kata dia.

Anggaran 2018 di Dinas Koperasi Usaha Mikro (KUM) Kota Batam hanya Rp 2,3 miliar. Padahal saat ini, jumlah UKM di Batam mencapai 75 ribu. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah, seiring banyaknya masyarakat yang buka usaha imbas dari sulit mencari lapangan kerja.

Kepala Dinas KUM Kota Batam Suleman Nababan mengakui jumlah pelaku UKM di Batam saat ini sekitar 75 ribu. Sekitar 40.000 di antaranya merupakan pelaku usaha di bidang kuliner. Namun hanya 1.400 pelaku UKM yang berada dalam binaan PMP-KUKM Kota Batam.

Mereka adalah pelaku usaha mikro dengan aset maksimum Rp 50 juta dan omset Rp 300 juta setahun. Mereka tercatat aktif tahun hingga tahun 2017. Untuk tahun ini, mereka juga harus registrasi ulang untuk mengetahui apakah usahanya masih aktif atau tidak.

“Hingga bulan Februari ini baru 747 yang baru registrasi ulang,” jelas Suleman, Kamis (15/3.

Suleman mengatakan, dalam pembinaan pihaknya mendorong pelaku UMKM memasarkan produknye secara online.
Ia menjelaskan sesuai dengan target pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), pada tahun 2020 mendatang setidaknya delapan juta produk hasil UKM sudah dipasarkan melalui media teknologi atau online.

“Untuk itulah Batam juga harus bersiap menghadapi kemajuan teknologi ini, jadi produk UKM bisa dipasarkan ke seluruh Indonesia bahkan luar (negeri),” sebutnya.

Suleman menambahkan sedikitnya 275 pelaku UKM yang ada di Batam sudah memiliki label akan diikutkan dalam acara UKM Go Online ini. Mereka yang sudah memiliki label sendiri dan izin dari BPOM dan Dinas Kesehatan Kota Batam tentunya.

Menurutnya, produk yang dipasarkan secara online tentu memiliki beberapa kriteria agar bisa diterima konsumen yang biasa berselancar di dunia online. “Kita kalau mau beli tentu perlu jaminan seperti kehalalan produk, higenis, termasuk kemasannya,” ucap Suleman.

Menurut Suleman, selama ini para pelaku usaha ini memasarkan produk mereka melalui media sosial masing-masing. Jadi ke depan akan ditampung dalam satu wadah aplikasi yang sudah terkenal di Indonesia. Majunya sektor usaha ini, tentu sangat membantu perekonomian daerah, apalagi kondisi Batam yang memang tengah sulit.

“Jadi pengusaha UKM ini sangat membantu, kami tentu akan mendorong semakin banyak lagi pengusaha kreatif di Batam,” katanya. (adi/she/yui)