batampos.co.id – Keluarga korban Bong Ji Kioeng, 70, berusaha memaafkan perbuatan Heriwan alias A Kun, 27, usai membunuh bapak kandung sendiri pada Senin (12/3) lalu di Jalan Rahayu Kampung Barek Motor, Rt 03 RW 08 nomor 60 Kelurahan Kijang Kota, Kecamatan Bintan Timur, Bintan.

Iklan

“Kami akan memaafkan A Kun jika benar perbuatannya dilakukan tanpa sadar,
tapi jika ada niat (membunuh), A Kun harus mempertanggungjawabkan perbuatannya,” kata Lina,35, putri sulung korban ditemui di Rumah Duka dan Panti Jompo Yayasan Dharma Bhakti Kijang, Bintan Timur, Jumat (16/3) sekitar pukul 10.00 WIB.

Ibu satu anak ini berharap kepolisian dan pihak medis memeriksa secara keseluruhan kejiwaan adik kandungnya. “Apakah A Kun benar benar mengalami gangguan kejiwaan atau tidak? Sebaiknya diteliti,” ujarnya.

Bila nantinya adiknya dinyatakan mengalami gangguan kejiwaan, ia meminta pemerintah merehabilitasi adiknya sampai dengan sembuh.

“Diterapi atau diberikan pengobatan sampai sembuh,” kata dia.

Bahkan jika adiknya kelak sembuh, ia berharap pemerintah mau mencarikan pekerjaan adiknya. Setidaknya dari pekerjaan itu bisa untuk menghidupi dirinya sendiri.

Namun jika tidak terbukti menggalami gangguan kejiwaan, ia mengatakan, A Kun harus menerima konsekuensi dari segala perbuatannya.

Terkait benar atau tidak benarnya A Kun mengalami gangguan kejiwaan, Lina meminta supaya A Kun dijauhkan dari keluarga.

“Okelah dia dinyatakan sembuh, tapi kami tidak bisa menerima karena kami sudah trauma apalagi adik saya Herman sudah sangat trauma. Lagipula masyarakat tidak akan menerima A Kun lagi. Jadi sebaiknya dijauhkan saja dari keluarga,” kata dia.

Dengan dijauhkan A Kun dari keluarga, ia berharap tidak ada korban lain. “Cukup bapak kami jadi korban. Saya tak mau ada korban lain. Apalagi kalau sampai korban merupakan orang lain, siapa nanti yang mau bertanggungjawab?” kata dia.

Selain hal itu, ia juga tidak tahu sejak kapan kejiwaan adiknya terganggu. Saat masih kerja di salah satu perusahaan telekomunikasi, hubungan kedua adiknya masih baik.

“Habis dia kerja di resort, si Herman sering dipukuli. Saya tidak tahu apa sebab dia stres. Padahal bapak dan kami sayang sama A Kun,” kata dia.

Gara gara sering dipukul, ia mengatakan, adiknya Herman sampai konsultasi ke dokter psikiater. “Jadi selama ini A Kun belum pernah diobati, hanya Herman saja yang konsultasi masalah A Kun ke dokter. Dokter saat itu menyimpulkan jika A Kun menderita gejala psikopat,” kata dia.

Disinggung mengenai harta yang ingin dikuasai A Kun, ia mengatakan belum tahu sebenarnya. Namun diakui dia, A Kun telah mengumpulkan berkas berkas dokumen penting milik ibu mereka. “Apakah dia stress karena punya utang di luar, kami tidak tahu. Karena dia sangat tertutup,” ucapnya. (met)