Pedagang sayuran sedang menyusun dagangannya di Pasar Fanindo, Tanjunguncang, Batuaji. | Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad menilai harga beberapa komoditas strategis melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) disebabkan oleh mata rantai distribusi yang panjang. Untuk itu, ia mengklaim pihaknya terus berusaha untuk memutus mata rantai tersebut.

Iklan

“Rata-rata persoalannya ini soal ongkos angkut. Sama halnya seperti beras maupun cabe,” kata dia.

Ia mengatakan, alur distribus rata-rat tak langsung ke pasar bahkan melalui beberapa rantai yang kerap membuat harga semakin mahal. Karena setiap tahapan mata rantai tersebut kerap mengambil untung.

“Di (distributor) lokal agar tidak melalui tangan kedua ke tiga, langsung pasar. Pemerintah siap fasilitasi agar ditributor tidak melalui tangan ke empat hingga tangan kelima (tangan ke tangan),” ucap dia.

Kemarin Senin (19/3) Pemko Batam melalui Dinas Ketahan Pangan bertemu mengagendakan pertemuan dengan sejumlah distributor cabe. Namun pertemuan tersebut belum menemukan hasil karena beberapa distributor tidak hadir. Pertemuan akan dijadwalkan kembali dalam beberapa hari ke depan.

“Fokus pertama kami cabe dulu, baru setelahnya komoditi lain. Di Batam ini ada 26 distributor komoditi ini. Kami berharap kawan-kawan ini ikut serta bantu pemerintah tekan inflasi di Batam,” kata dia.

Ia mengatakan, ditingkat distributor sejatinya tak ada permainan harga dan mematuhi aturan yang berlaku. Ia mengkalim sudah turun langsung mengecek hal ini.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Batam Zarefriadi mengklaim terus melakukan imbaun jika ada pedagang yang menjual di atas HET. Senada dengan Amsakar, ia mengatakan perbedaan harga justru terjadi di pasar bukan tingkat distributor.

“Kami tetap tegur dan lakukan pembinaan. Bisa saja dicabut (izin usahanya) pedagang (nakal) cuma butuh proses tak seperti yang diinginkan publik, satu sisi kita perlu juga mereka yang berusaha,” kata dia.

Namun ia memastikan, jika pelanggaran sudah melebihi batas wajar pihaknya akan langsung berkoordinasi dengan pihak lain sepetti polisi untuk menindak setiap pelanggaran.

“Prosesnya tentu lalui PPNS sampai ke penegak hukum, tapi rumusannya kan tak semata-mata soal HET kalau mau ditindak,” ucapnya.

Ia mengaku pengawasan di pasar tak bisa dilakuakns etiap saat, hal inilah yang kerap dimanfataakna pedagang menerapkan harga diluar HET. “Kalian (media) pasti tau soal ini, kami dapat informasi dari publik dan media ada yang jual HET, kami turun normal, begitu tinggal naik lagi. Tak bisa juga setai saat kita pantaukan,” katanya.

Namun ia menyampaikan, harga komoditi tertenu di pasar beragam, bahkan ada yang sesuai HET. Untuk itu ia meminta warga agar tak buru-buru memebli jika di atas HET,s embarti mencari pedagang yang menjual dengan harga normal.

“Satu pasar pun bisa beda harganya. Kalau beli di satu tempat, tanya dulu temapt sebelahnya mungkin lebih murah dan ini terjadi di pasar itu. Yang di atas HET jangan beli, lama tak beli bussuk juga itu dan harga akan normal,” paparnya. (adi)