batampos.co.id – Chairman Utama Group, Lim Tiat Lam, berpulang pada Jumat (16/3) lalu. Di mata rekan bisnis dan orang-orang terdekatnya, mendiang dikenal sebagai sosok pekerja keras dan rendah hati namun memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi.

Menurut putra kedua mendiang, A Tong alias Irwandi Halim, ayahnya sudah cukup banyak membantu orang lain dalam bentuk materi dan sejenisnya. Namun ia tak pernah mau, perbuatan mulianya itu disampaikan ke orang-orang di sekitarnya. Apalagi sampai dipublikasikan di media.

“Sampai sekarang selalu ingat pesan Bapak, kalau sukses nanti (harus) mau tolong orang. (Tapi) jangan sampai sumbang, terdengar ke mana mana, itu yang sampai sekarang saya pegang petuahnya,” ujar Irwandi Halim saat ditemui di Rumah Duka Marga Tionghoa di Batubatam, Baloi, Batam, Selasa (20/3).

Irwandi kemudian menceritakan perjalanan bisnis almarhum. Menurut dia, Lim Tiat Lam awalnya adalah seorang pelaut kelahiran Teluk Sungka, Tembilahan, Indragiri Hilir, Provinsi Riau.

Sebelum hijrah ke Batam, Lim mengawali bisnisnya dengan berjualan beras, tikar plastik, dan karpet pada tahun 1980. Saat itu, ia berniaga ke beberapa pulau di Kepri. Seperti Karimun, Moro, sampai ke Kijang, Tanjungpinang. Ia mengangkut barang dagangannya itu dengan KM Indah.

“Dari situlah awal bapak merintis usaha, tak langsung ke Batam,” terang pria yang akrab disapa A Tong ini.

Dua tahun kemudian, bisnis Lim berkembang. Hingga Lim mampu membeli kapal baru yang kemudian diberi nama KM Bahagia.

Namun sejak beli kapal baru itu, bisnis Lim meredup. Ini lantaran kapalnya sering ditangkap oleh aparat di tengah laut. Seingnga Lim memutuskan untuk menjual KM Bahagia karena dinilai kurang hoki. Saat itu, kapalnya terjual dengan harga Rp 30 juta.

“Saat bawa barang dulunya sering diganggu petugas di laut, barang ditangkapi,” terang A Tong.

Sebagian besar uang hasil penjualan kapal tersebut digunakan untuk membayar pesangon para karyawan Lim. Hingga hanya tersisa Rp 80 ribu. Uang itulah yang kemudian ia gunakan untuk modal usaha di Batam.

Awal membuka usaha di Batam, Lim berjualan triplek, barang-barang plastik seperti gayung, ember, papan untuk mencuci, hingga sandal jepit. Dari situlah usaha Lim terus berkembang pesat di Batam hingga menjelma menjadi pengusaha properti dan distributor bahan bangunan se-Kepri. Bahkan Lim disebut-sebut sebagai orang terkaya di Batam hingga ajal menjemputnya.

Lim dikenal sebagai sosok pekerja keras. Karenanya, meskipun sudah sukses dan usianya tak muda lagi, Lim tetap bekerja. Pantang baginya untuk duduk bersantai di atas kursi malas.

Ada saja hal yang dikerjakannya. Bahkan, meski menyandang gelar bos besar, Lim tak pernah mau memakai jasa sopir pribadi. Ia selalu menyopiri sendiri mobilnya saat bepergian kemanapun. Baik urusan pekerjaan maupun untuk kepentingan lainnya.

Setelah sukses menjadi pengusaha bahan bangunan, Lim merambah bisnis lainnya. Setidaknya ada dua sekolah yang ia dirikan, yakni Harapan Utama dan Pelita Utama. Ada juga restoran hingga Haris Resort di dekat Jembatan I Barelang.

Menurut A Tong, dari sekian banyak usaha dan properti yang dimiliki Lim, Haris Resort Barelang adalah properti yang paling dibanggakan Lim. Menurut dia, Lim bangga dengan Haris Resort Barelang karena banyak orang yang membicarakan properti tersebut sebagai sebuah karya prestisius.

“Pernah saat itu bapak lagi ngopi di Batam, banyak orang di dekatnya membicarakan proyek bapak Harris Resort tersebut. Itulah kebanggaan paling prestisius di mata bapak,” terang A Tong.

Lim Tiat Lam wafat di usia 81 tahun di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, Jumat (16/3) sekitar pukul 22.57 waktu setempat. Lim mangkat meninggalkan empat anak laki-laki serta satu anak perempuan dan istrinya, Ang Suk King.

Saat jenazah Lim disemayamkan di Rumah Duka Marga Tionghoa di Blok P Batubatam, dan akan dikremasi besok, Kamis (22/3) siang di Sambau, Nongsa. (gas)

Respon Anda?

komentar