Iklan

batampos.co.id – Seorang remaja wanita berinisial W, diduga mengalami tindak kekerasan yang dilakukan oleh sang bibi di salah satu kelenteng di Seipasir, Kecamatan Meral, Minggu (18/3) lalu. Korban yang masih duduk di bangku kelas X mengalami luka di sekujur tubuh akibat, pemukulan, ditendang, dirotan, hingga dilempar menggunakan keranjang baju.

Aksi kekerasan yang dilakukan Ame, dipicu karena tidak terima korban masih berkomunikasi dengan ibu kandungnya. Mengingat, ibu kandung korban sudah bercerai dengan suaminya yang juga merupakan abang pelaku.

Meski sudah bercerai, korban yang tinggal bersama ayah masih diperbolehkan bertemu dengan ibunya. Sebaliknya, bibinya yang ngotot melarang korban berhubungan dengan ibunya hingga berbuah penganiayaan. Tidak terima anaknya dianiaya, ibu korban, Mely, langsung membuat laporan ke Polres Karimun dengan nomor laporan LP-/41/III/2018/ Kepri/ SPKT-Res Karimun.

“Tindak kekerasan yang dilakukan Ame terhadap anak saya sudah dua kali. Pertama pada Januari lalu. Begitu mengetahui anak dianiaya lagi, saya langsung lapor ke polisi,” ungkap Mely kepada Batam Pos, Selasa (19/3) kemarin.

Mely mengaku mengetahui anaknya dianiaya ketika mengeluh sakit di sekujur tubuh. Alangkah kagetnya ketika bekas memar terlihat di lengan kanan, dan kaki korban. “Orang tua mana yang tega melihat anaknya disakiti. Makanya saya laporkan perbuatan pelaku ke polisi agar ditindaklanjuti,” tutur Mely seraya meperlihatkan foto memar di sekujur tubuh anaknya.

Mely berharap pelaku dapat dihukum setimpal dengan perbuatannya. Selain mengalami luka memar akibat kekerasan, korban juga mengalami trauma. “Anak saya sekarang banyak murung. Mungkin karena sering mendapat siksaan. Makanya saya berharap kepada pelaku dihukum setimpal,” harap Mely.

Paska perceraian, korban tinggal bersama ayahnya yang berprofesi sebagai nelayan. Perlakuan yang diterima korban di rumah ayahnya sangat baik. Sebaliknya, larangan berhubungan dengan ibunya datang dari bibinya.

Saat Minggu (18/3) sekira pukul 16.30 WIB, korban diminta membantu bibinya yang juga seorang Loya Koniu di kelenteng sekitar Seipasir. Setelah membantu, korban lalu beristirahat di ruang depan kelenteng. Tiba-tiba pelaku datang, dan langsung melayangkan pukulan kaki. Tidak puas, tangan, serta kaki korban menjadi sasaran pukulan rotan. Bahkan keranjang baju pun menjadi alat untuk menganiaya korban.

“Saat itu, saya lagi duduk di ruang depan, tiba-tiba bibi datang dan langsung menendang. Lalu saya ditinju, dipukul pakai rotan. Bibi marah karena tidak terima saya masih berkomunikasi dengan ibu,” tutur korban.¬†Saat ini, kasus kekerasan terhadap anak masih ditangani pihak berwajib. Dan korban kembali tinggal bersama ibunya. (enl)