ilustrasi

batampos.co.id – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan, kasus pembobolan rekening nasabah yang terjadi pada sejumlah bank adalah tindakan kriminal biasa. Pelaku bisa mengerti kelemahan sistem dari bank yang dibobol.

”Sangat kriminal murni,” ujar JK di kantor Wakil Presiden, Selasa (20/3).

Dia mengingatkan bank harus lebih memperkuat sistem keamanan milik mereka. Selain itu, polisi harus segera menangkap para pelaku-pelaku pembobolan yang meresahkan masyarakat tersebut.

”Kalau ada kelemahan begitu tentu tanggung jawab bank masing-masing. Karena itu berarti ada kelemahan di sistem yang harus diperbaiki,” ujar dia.

Sementara itu, terkait aksi skimming di Surabaya dan Yogyakarta, Bank Mandiri menyebut ada empat mesin ATM-nya yang terkena skimming, yakni dua unit di Surabaya dan dua unit di Yogyakarta. Pelaku melakukan penarikan di Malaysia. Teridentifikasi 141 kartu nasabah yang terkena skimming dengan total nilai sekitar Rp 265 jutaan.

“Yang Rp 260 jutaan itu Bank Mandiri saja. Tapi sampai detik ini pengungkapan kasus skimming masih terus berlangsung. Bukan hanya satu bank tapi berbagai bank,” ujar Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Slamet Edy Purnomo, ketika dikonfirmasi kemarin sore.

Corporate Secretary PT Bank Mandiri Tbk, Rohan Hafa, membenarkan hal tersebut. Jaringan skimmer di Yogyakarta itu satu komplotan dengan yang sudah dirilis Polda Metro Jaya di Jakarta pada Sabtu (17/3). Mereka mengincar 13 bank di Indonesia.

“Pengungkapan bermula dari satpam Bank Mandiri yang berani. Dia melihat ada perilaku yang mencurigakan di ATM, lalu mengejar orang yang berusaha memasang skimmer itu,” katanya. Bank Mandiri telah mengganti semua uang nasabah yang dicuri.

Terpisah, Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK, Tirta Segara, mengatakan pihaknya terus mengawasi upaya perbaikan yang dilakukan oleh bank. Berdasarkan laporan, sejumlah upaya itu sudah dilakukan oleh bank yang bersangkutan.

Saat disinggung soal perlu tidaknya bank meningkatkan investasi di sektor pengamanannya, dia enggan mengomentari lebih lanjut. Namun saat ditanya apakah pengamanan bank sudah baik, dia juga tidak bisa memastikan. “Kami selalu kaji manajemen risikonya,” imbuhnya.

Direktur Digital Banking & Technology Bank Mandiri, Rico Usthavia Frans, mengatakan pihaknya sudah menaruh komitmen pada keamanan. Namun memang belanja modal untuk IT dan keamanan Bank Mandiri tidak banyak berubah dari tahun lalu. “Capex (capital expanditure) untuk IT USD 120 juta (Rp 1,65 triliun). Untuk security ya bagian dari itu, USD 15 juta sampai USD 20 juta (Rp 206 miliar sampai Rp 275 miliar),” ujarnya.

Jumlah tersebut sangat kecil jika dibandingkan laba bersih yang diraih Bank Mandiri. Tahun lalu bank pelat merah itu mencatat laba bersih yang tumbuh 49,5 persen menjadi Rp 20,6 triliun. Rico menjelaskan, Bank Mandiri banyak terfokus untuk pengembangan infrastruktur dan jaringan telekomunikasi. Untuk meningkatkan keamanan dan jaringan digital, Bank Mandiri akan membangun pusat data di Surabaya.

Sementara PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menganggarkan investasi untuk IT sebesar Rp 2,9 triliun, dan untuk keamanan sebesar Rp 300 miliar. Jumlah tersebut juga sangat kecil jika dibanding laba bersih BRI yang sebesar Rp 29,04 triliun.

Peneliti The Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, mengatakan belanja modal untuk keamanan baik dari sisi sistem IT maupun pengecekan di lapangan masih kurang. “Seharusnya investasi untuk sistem keamanan lebih besar,” ungkapnya.

Dalam hal ini, perbankan seharusnya lebih memperhatikan CCTV di mesin ATM secara rutin. Selama ini pemeriksaan CCTV kurang maksimal sehingga bank tidak sadar ketika ada orang memasang skimmer. Selain itu, jumlah personel yang melakukan patroli di ATM juga kurang. (rin/far/jun/jpg)

Respon Anda?

komentar