foto: putut ariyotejo / batampos

batampos.co.id – Pesatnya perkembangan angkutan sewa khusus berbasis aplikasi online atau taksi online maupun ojek online, mau tak mau harus diakui berpengaruh terhadap keberadaan angkutan konvensional seperti misalnya taksi di Batam yang makin merosot dalam mendapatkan penumpang atau orderan penumpang.

Tak terkecuali dengan perusahaan angkutan taksi ternama di Indonesia seperti misalnya Blu Bird Batam yang selama ini eksis menerapkan sistem konvensional maupun semi online, order via ponsel.

Seperti yang dipaparkan oleh Manajer operasional Blue Bird Batam, Jajang Nurjaman kepada Batam Pos, Rabu (21/3).

Gencarnya perkembangan angkutan berbasis aplikasi atau taksi maupun ojek online saat ini, lanjut Jajang, panggilan akrabnya, mengharuskan Blue Bird pusat khususnya di Batam untuk berinovasi mengikuti perkembangan jaman apabila tak mau ditinggal masyarakat pengguna.

“Saat ini kami Blue Bird Batam sudah menjalankan sistem berbasis aplikasi online dalam menjaring konsumen pengguna jasa layanan transportasi. Sistem aplikasi tersebut kami namakan my Blue Bird,” ujar Jajang.

Sistem my Blue Bird tersebut, lanjutnya, sudah diberlakukan di Batam sejak awal Januri tahun ini. Namun sebenarnya sistem aplikasi tersebut sudah ada dan dijalankan Blue Bird di daerah lainnya sejak tahun 2016.

“Jadi saat ini armada Blue Bird Batam semua ada dua sistem cara untuk konsumen mengorder atau memesan layanan Blue Bird. Bisa konvensional dengan pemesanan melalui telepon atau langsung ke pangkalan dimana ada taksi Blue Bird, bisa juga memesan melalui sistem my Blue Bird yang bisa masyarkat unduh melalui apps atau playstore yang sistemnya sama persis dengan sistem aplikasi taksi online lainnya,” terang Jajang.

Namun untuk tarif, tak ada perbedaan di sistem aplikasi my Blue Bird. Tetap sama seperti pemesanan secara langsung konvensional yakni buka pintu pertama dikenakan charge Rp 8 ribu rupiah, selanjutnya dihitung jarak per kilometernya.

Jajang mengakui, adanya sistem pemesanan melalui aplikasi my Blue Bird ini, sangat positif sekali, mampu mendongkrak tingkat orderan konsumen yang menggunakan jasa armada Blue Bird di Batam.

“Intinya kalau kami tak mengikuti era digital seperti saat ini yang semuanya bisa dilakukan melalui sistem online, maka siapapun akan tergilas dengan sendirinya. Makanya adanya my Blue Bird ini sebagai wujud bahwa Blue Bird juga mau dan mampu berinovasi menggunakan sistem aplikasi online dengan sepenuh hati. Selain itu kami juga tak mengesampingkan atau tak meninggalkan juga sistem yang lama yakni konvensional, pemesanan langsung via ponsel atau langsung mendatangi armada Blue Bird terdekat,” terang Jajang.

Dalam hal sistem pembayaran pun, aplikasi my Blue Bird juga menggunakan pembayaran sistem non tunai yang dinamakan easy ride. Konsumen bisa memilih membayar tunai atau melalui kartu kredit atau juga bisa membayar menggunakan e-voucher yang bisa didapat langsung di kantor Blue Bird.

Sitem online my Blue Bird sendiri, sama persis dengan sistem aplikasi taksi online lainnya seperti misalnya Grab atau Go-Car atau Go Jek. Bedanya di my Blue Bird terdapat sistem yang konsumen bisa order dengan cara booking duluan.

“Misalnya saja konsumen mau berangkat ke bandara sore hari. Konsumen bisa order booking duluan empat jam sebelumnya melalui aplikasi my Blue Bird. Itu yang tak dimiliki aplikasi angkutan online lainnya yang di my Blue Bird bisa dilakukan,” ujar Jajang mengakhiri.

Blue Bird sendiri di Batam berdiri pertengahan tahun 2012. Di awal berdiri, sempat mendapat pertentangan yang hebat dari seluruh koperasi taksi konvensional di Batam. Dari awal berdiri, Blue Bird Batam hanya diizinkan beroperasi 50 armada saja. Selanjutnya diberikan lagi tambahan kuota sebanyak 25 armada. Sampai saat ini jumlah armada Blue Bird di Batam hanya berjumlah sebanyak 75 armada seperti sebelumnya. (gas)

Respon Anda?

komentar