Pengunjung Berias ala Pengantin di Balai Adat Pulau Penyengat. F. Fara/ batampos.co.id

batampos.co.idLajang maupun sudah berpasangan. Muda maupun sudah berusia. Boleh saja jadi pengantin di Balai Adat Pulau Penyengat.

Replika rumah adat Melayu, Balai Adat Pulau Penyengat, boleh jadi destinasi selanjutnya jika telah puas menikmati indahnya Masjid Pulau Penyengat.

Jika dulu berkunjung ke Balai Adat sekedar untuk bersantai, usai lelah berjalan mengitari pulau yang merupakan mas Sultan Mahmud Syah III pada Raja Hamidah. Saat ini wisatawan bertandang ke Balai Adat dengan keinginan lain.

“Denger-denger bisa jadi pengantin, terus foto di pelaminan,” tutur salah seorang wisatawan asal Jakarta, Natasya yang berlibur ke Penyengat kemarin.

Setiba di Balai Adat, warna kebesaran Melayu yakni hijau, kuning merah memang menjadi warna dominan bagian dalam bangunan. Belum pula ukiran-ukiran nan menawan menambah megah bangunan tersebut.

Tepat di bagian tengah bangunan, terdapat pelaminan yang hampir seluas dinding bagian belakang bangunan.

Megah khas Melayu, pelaminan yang umum digunakan jika ada pasangan yang ingin menggelar hajatan di sana ini, juga dapat dinikmati pengunjung untuk berfoto.

“Lucu juga tiba-tiba jadi pengantin di sini,” ucap Natasya sembari didandani oleh penjaga stand penyewaan baju pengantin.

Tak sekedar mengenakan baju pengantin yang tersedia dengan berbagai warna. Pengunjung juga didandani menggunakan rias kepala, perhiasan pengantin hingga alas kaki yang umum digunakan pengantin.

Sontak, menjadi pengantin di Pulau Penyengat menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung.

Salah seorang Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pulau Penyengat, Isman, mengaku kunjungan ke Balai Adat semakin meningkat. “Apalagi kalau hari Jumat sampai Minggu,” ucapnya.

Dengan hanya mengeluarkan Rp 25 ribu, pelancong telah dapat menikmati fasilitas ala pengantin di Balai Adat. Berhubung Pokdarwis Penyengat telah menyiapkan pelaminan hingga kamar tidur pengantin, untuk sekedar berfoto ria sepuasnya.

“Iya ini sayang aja si bapak gak ikut kesini, lain kali ulang foto sama si bapak. Sekarang, bareng-bareng jadi pengantin sama anak dan menantu,” ucap salah seorang pengunjung lain, yang berasal dari Bandung.

Kebebasan untuk dapat berfoto ria, di pulau yang merupakan mas kawin dengan menjadi pengantin, nyatanya menjadi konsep yang menarik bagi wisatawan. Tidak hanya wisatawan nusantara, namun juga wisatawan asing.

Seperti yang telah terdata oleh Pokdarwis Penyengat, 11 pasang baju pengantin yang tersedia ini, bahkan pernah disewakan kepada wisatawan asal Malaysia, Singapura hingga Brunei. (aya)

Respon Anda?

komentar